Pikiran Rakyat On Line 14 Agustus 2009

Membangun Pramuka

Oleh Nurul Huda S.A.

PADA 14 Agustus 1961, Pejabat Presiden RI PM Ir. Juanda
mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 238 tentang
penetapan Pramuka (Praja Muda Karana) sebagai satu-satunya
wadah kepanduan nasional dan mengangkat Sri Sultan Hamengku
Buwono IX sebagai ketua Majelis Pimpinan Gerakan Pramuka
pertama. Tanggal tersebut menandai ditetapkannya Hari
Pramuka di Indonesia yang terus diperingati hingga hari ini.
Meskipun penetapan Pramuka sebagai pandu nasional yang
tunggal, sejarah gerakan Pramuka telah ada di Indonesia
sejak 1912 sebagai bagian dari pemerintah kolonial Belanda.
Pandu pertama telah ada pada 1916 dengan nama Javaanse
Padvinders Organisatie" (JPO); berdiri atas prakarsa S.P.
Mangkunegara VII.

Visi dasar kepanduan sejak awal didirikan Baden Powel berada
pada wilayah pendidikan nonformal sehingga berada pada ruang
keterbukaan dalam melakukan penguatan, perubahan, dan
kreativitas untuk kemajuan bagi anggotanya. Ini berbeda
dengan pendidikan formal-informal yang dipenuhi birokrasi,
prosedur, dan kekakuan-kekakuan. Pramuka memilik gerak yang
lebih lincah dalam berinteraksi dengan perkembangan dunia
luar yang demikian dinamis dan terus melesat cepat. Apalagi
dalam AD/ART gerakan Pramuka tegas mengamanatkan bahwa
Pramuka bertujuan membina mental-spiritual bagi generasi
muda. Pramuka dapat diharapkan perannya yang lebih besar
karena problem mental spiritual inilah yang saat ini menjadi
penyakit krusial bangsa ini, termasuk pada generasi mudanya.

Terlebih, hingga hari ini, Pramuka bisa dikatakan sebagai
satu-satunya organisasi kepemudaan di negeri ini yang paling
steril dari hiruk-pikuk kepentingan ekonomi politik. Hampir
tidak pernah ada kekisruhan di dalam Pramuka. Pramuka
benar-benar bercitra bening, suci dalam pikiran, perkataan,
dan perbuatan. Keunggulan inilah yang menyebabkan Pramuka
dapat dengan tanpa hambatan masuk ke segala jenis dan
jenjang pendidikan dari tingkat terendah hingga perguruan
tinggi, bahkan di tengah-tengah masyarakat.

Keunggulan legitimasi yang demikian sempurna, selayaknya
para aktivis dan pelopor gerakan Pramuka senantiasa mengolah
aspek-aspek pedagogis, andragogis, dan psikologis dalam
mewujudkan watak luhur generasi muda bangsa dan mandiri
dengan segala bekal keterampilan praktis. Ini bukan
pekerjaan mudah di tengah krisis bangsa yang dalam; mental
generasi muda yang gandrung keinstanan, alergi terhadap
proses perjalanan. Di pihak lain, pendidikan formal hanya
mampu meng-cover aspek sedikit dari ranah kognitif,
sementara afeksi dan psikomotorik menjadi barang langka.

Menyerahkan tanggung jawab ini hanya pada Pramuka tidaklah
adil dan terlalu ngaya wara. Akan tetapi, Pramuka dengan Tri
Satya dan Dasa Dharma-nya memungkinkan berada di garda depan
dalam merantas krisis di atas. Hal ini didukung pula dengan
sifat dari gerakan Pramuka sendiri yang memiliki jaringan
organisasional secara nasional, internasional, dan universal
sebagaiamana amanat konferensi sedunia Gerakan Pramuka di
Kopenhagen, Agustus 1924.

Agenda utama Pramuka sesungguhnya upaya merekayasa
pembentukan watak (attitude) dan nilai (value). Gerakan
Pramuka selayaknya mampu melakukan klarifikasi terhadap
berbagai penyimpangan yang ada secara terbuka, baik terkait
dengan nilai etika, moral, religius, maupun akademik. Inilah
inti dari Tri Satya dan Dasa Dharma yang elok itu, seperti
tolong-menolong, musyawarah, rajin, hemat, disiplin,
kerelaan, dan bertanggung jawab. Penting dilakukan gerakan
secara masif, agar Pramuka dapat masuk berbagai sektor
kehidupan di masyarakat bahkan seluruh birokrasi
pemerintahan agar Tri Satya dan Dasa Dharma dapat mbalung
sungsum (mendarah daging) dalam pikiran, perkataan, dan
perbuatan seluruh anak negeri.

Sekali lagi, ini tidak mudah karena kita semua harus mau
jujur bahwa dalam tubuh internal sendiri masih ada berbagai
kendala yang tidak bisa dianggap ringan. Pertama, bagaimana
para aktivis Pramuka dapat menerjemahkan cita-cita Trai
Satya dan Dasa Dharma dalam aktivitas konkret yang menarik
bagi para anggotanya. Kedua, bagaimana kegiatan-kegiatan
tadi dapat dipahami dan dikuasai para pembinanya.

Pramuka dengan anggota lebih dari 30 juta, tampak kedodoran
dalam melakukan pemberdayaan. Selama ini yang terjadi lebih
pada aspek seremonial, kemiliter-militeran, dan kesannya
hanya mendompleng pada lembaga pendidikan formal. Padahal,
Pramuka bukanlah kegiatan wajib bagi seluruh siswa di
pendidikan formal namun yang terjadi Pramuka seakan menjadi
barang wajib di sekolah. Lebih krusial lagi, sering terjadi
lompatan-lompatan fase siaga (8-12), penggalang (12-15),
penegak (15-18), dan pandega (18 ke atas atau perguruan
tinggi). Ini terjadi semata karena faktor umum lebih
mendominasi dibandingkan dengan aspek kemampuan-kemampuan
tertentu yang mesti dikuasai anggotanya.

Akibat lanjutan dari situasi ini adalah tidak mudahnya
mendapatkan pembina Pramuka yang mumpuni, memiliki kapasitas
unggul paripurna, dan bermotivasi tinggi mengembangkan
Pramuka yang dalam bahasa manajemen disebut well trained and
well motivation. Padahal amanat Sri Sultan Hamengku Buwono
IX pada Kongres 17 gerakan Pramuka di Jepang 1971 sangat
luhur yang dalam mewujudkan kesiapan internal gerakan
Pramuka yang paripurna. Anggota Pramuka bukan hanya dididik
menjadi warga negara yang baik, tetapi juga menjadi manusia
yang baik. Dalam rumusan pendidikan, Pramuka bertujuan
membentuk good man (manusia yang baik), yaitu manusia yang
berdaya, terdidik, dan berbudaya. Selamat ulang tahun,
selamat berjuang! ***

Penulis, staf pengajar Institut Studi Islam Fahmina (ISIF)
Cirebon, Jawa Barat.



---------------------- ALICE N°1 de la RELATION CLIENT 2008*--------------------
Découvrez vite l'offre exclusive ALICE BOX! En cliquant ici 
http://abonnement.aliceadsl.fr Offre soumise à conditions.*Source : TNS SOFRES 
/ BEARING POINT. Secteur Fournisseur d.Accès Internet


Kirim email ke