“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu maka sebelah luarnya juga
akan bersih”.

(1Tes 2:1-8; Mat 23:23-26)



“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari
selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum
Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu
harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin
buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya
kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai
kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah
luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi
yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya
juga akan bersih”(Mat 23: 23-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 



Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Aturan atau hukum pada umumnya tertulis dengan jelas,
namun kiranya apa yang tertulis merupakan ‘kulit’ dari isi yang utama yaitu 
“keadilan, belas kasihan dan kesetiaan”. Orang-orang
munafik pada umumnya nampak baik dengan menjalankan aturan, namun sebenarnya
hanya permainan sandiwara, artinya menjalankan peraturan kalau dilihat orang,
dan ketika tidak ada orang lain bertindak seenaknya. Kemunafikan macam ini
dapat terjadi dalam cara hidup atau panggilan apapun, misalnya imam, bruder,
suster atau bapak-ibu, pekerja atau pelajar, dst.. Sebagai contoh ada seorang
pastor/imam yang nampak begitu bagus baik dalam cara hidup atau cara bekerja,
ketika memberi ceramah menarik dan menawan bagi para pendengarnya, ternyata
yang bersangkutan memiliki ‘simpanan cewek dan anak’. Ketika kemunafikannya
terbongkar banyak orang menjadi kecewa. Sebagai orang beriman kita dipanggil
pertama-tama untuk ‘membersihkan bagian
dalam hidup kita’, yaitu hati dan jiwa, yang tidak lain adalah menghayati
keutamaan cintakasih, keadilan dan belas kasih dan kesetiaan. Marilah kita
saling kerjasama dan membantu dalam membersihkan hati dan jiwa kita
masing-masing. Hati dan jiwa bersih berarti suci dan dengan demikian orang yang
berhati dan berjiwa bersih berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada
kehendak Tuhan. Dalam hidup dan bekerja bersama setiap hari memang kita terikat
oleh aneka aturan dan tatanan hidup, maka hendaknya menghayati aturan dan
tatanan hidup dijiwai oleh cintakasih, keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.
Dengan kata lain yang utama dan pertama-tama bukan aturan dan tatanan melainkan
‘manusia’, yang memiliki hati dan jiwa. Hendaknya menghayati aturan dan tatanan
berarti semakin memanusiakan manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra
Allah dalam dan oleh kasih. 

·   “Kami berlaku
ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.
Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela
membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu,
karena kamu telah kami kasihi”(1Tes 2:7-8), demikian kesaksian iman Paulus
kepada umat di Tesalonika. Apa yang dikatakan dan dihayati Paulus ini kiranya
layak menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua dipanggil untuk saling
ramah , ‘sama seperti seorang ibu
mengasuh dan merawatinya anaknya’. Para
ibu kiranya dapat mensharingkan pengalaman dalam mengasuh dan merawati anaknya,
yang tidak lain dengan memberikan diri seutuhnya kepada anaknya yang terkasih.
Maka kami berharap para ibu atau rekan perempuan dapat menjadi teladan dalam
hal keramahan sejati ini, bukan pura-pura atau sandiwara. Keramahan terhadap
anaknya hendaknya tumbuh berkembang dalam ramah terhadap sesamanya dimanapun
dan kapanpun. Hendaknya hanya jangan ramah di mulut atau di bi bibir, melainkan
sampai di hati dan jiwa. Kita dipanggil untuk saling membagikan hidup artinya
saling menghidupkan dan menggairahkan satu sama lain. Para
bapak-ibu atau orangtua hendaknya dapat menjadi contoh atau teladan dalam
saling memberikan diri dengan ramah, sehingga anak-anak pun dapat belajar
menjadi ramah juga. Pengalaman hidup ramah yang dinikmati oleh anak-anak di
dalam keluarga hendaknya terus diperdalam dalam perjalanan hidup berikutnya,
entah dalam pergaulan dengan teman-teman di masyarakat maupun sekolah. Cara
hidup dan bertindak yang ramah hendaknya juga dihayati dan dibiasakan bagi
siapapun yang bertugas di ‘pintu gerbang’ kantor, sekolah, perusahaan dst..,
dan tentu saja semua yang ada di dalamnya juga hidup dan bekerja dengan ramah. 

 

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal
aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku
dari jauh.Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala
jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya,
semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau
mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku
pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.”

(Mzm 139:1-6)

 

Jakarta, 25 Agustus 2009




      Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke