Proud to Mrs. Sri MI
Begtu menggugah, sehingga
Patut kita contoh neh
Rio Ashadi has Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Paulus Tjakrawan" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 23 May 2010 04:12:32 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Pramuka] Sri Mulyani oleh Chatib Bisri

•  17 Mei 2010  Sri Mulyani, Nasionalisme, dan Tinju
Muhammad Chatib Basri*

Pittsburgh, 25 September 2009. Saya catat hari itu dalam ingatan. Presiden 
Obama meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membagikan pengalaman Indonesia 
dalam menurunkan subsidi bahan bakar minyak, dalam forum amat penting G-20. 
Kita ingat pada 2005 dan 2008, Indonesia menaikkan harga BBM dan mengalokasikan 
subsidinya untuk rakyat miskin. Mungkin aneh bagi sebagian di antara kita, 
mengapa kebijakan yang di dalam negeri dicaci maki justru layak dijadikan 
contoh oleh negara anggota G-20.

Siang itu, Presiden SBY sudah bersiap memberikan paparannya. Sayangnya, waktu 
dalam sesi makan siang itu amat terbatas, padahal ada tiga topik yang dibahas, 
dan giliran SBY yang terakhir. Waktu habis dan Presiden pun tak jadi bicara. 
Tentu kami semua-Menteri Keuangan Sri Mulyani; juru bicara Presiden, Dino Patti 
Djalal; Mahendra Siregar; dan saya-amat kecewa.

Kami berusaha meminta keterangan dari delegasi Amerika Serikat, tapi jawabannya 
tak memuaskan. Mereka tentu tak berani menanyakan kepada Obama. Saya ingat Sri 
Mulyani setengah berbisik kemudian mengatakan, "Kayaknya saya mesti ngomong 
langsung dengan Obama." Saya kira dia bergurau. Tapi kemudian saya sadar, ia 
serius. Sri menghampiri Presiden Obama yang baru memasuki ruangan setelah jeda 
makan siang. Mereka berbicara berdua. Saya kebetulan berjarak sekitar dua meter 
dari mereka, sehingga saya bisa mendengar percakapan tersebut.

Dengan terus terang-khas Sri Mulyani-ia menyampaikan kekecewaannya. Ia 
mengatakan bahwa Presiden Obama sudah meminta Presiden SBY berpidato, tapi 
waktunya habis. Karena itu, ia meminta Presiden Obama menyampaikan maaf kepada 
Presiden SBY dan memberikan kesempatan di sesi berikutnya. Saya terkejut. 
Presiden Obama-saya kutip dari ingatan-tersenyum dan mengatakan, "Itu kesalahan 
saya, saya minta maaf, akan saya berikan kesempatan di sesi berikutnya."

Setelah itu, saya melihat Presiden Obama menghampiri Presiden SBY dan berbicara 
berdua. Di sesi berikutnya, Presiden Obama meminta maaf secara terbuka. SBY 
kemudian berpidato dengan sangat meyakinkan. Bahkan, kemudian ada satu bagian 
dari komunike yang menganjurkan agar kebijakan ini dicontoh anggota G-20. Sri 
Mulyani kelihatan tersenyum. Sambil bercanda kami mengatakan kepada Sri 
Mulyani, sebetulnya ia lebih cocok menjadi Menteri Pertahanan!

Itu adalah contoh kecil dari kiprah Sri Mulyani di forum internasional. Tentu 
naif bila kita menyimpulkan bahwa Indonesia berperan dalam G-20 hanya dari 
cerita itu. Yang jauh lebih serius adalah ketika pada pembicaraan di tingkat 
Menteri Keuangan, Sri Mulyani memperjuangkan pembiayaan stimulus fiskal bagi 
negara berkembang. Negara berkembang-termasuk Indonesia-sampai September 2008, 
tumbuh relatif tinggi. Namun krisis keuangan global telah membawa dampak yang 
dalam bagi negara berkembang.

Untuk mengatasi itu, sisi permintaan-seperti resep Keynes lebih dari 70 tahun 
lalu-harus didorong. Dan ini mesti dilakukan di tingkat global. Masalahnya, tak 
semua negara, terutama negara berkembang, memiliki kemampuan untuk membiayai 
stimulusnya. Dalam situasi krisis keuangan global, akses terhadap pasar 
keuangan praktis tertutup. Kalaupun terbuka, harganya amat mahal.

Di sini, usulan Indonesia agar dibentuk global expenditure support fund 
diadopsi. G-20 sepakat mengguyurkan sedikitnya US$ 100 miliar melalui Bank 
Pembangunan Multilateral untuk membantu bujet negara berkembang, termasuk 
Indonesia. Selain itu, disediakan trade financing US$ 250 miliar untuk 
memulihkan perdagangan global.

Saya yang hadir di sana melihat bagaimana Sri Mulyani berdebat mengenai hal 
ini. Ia begitu dihormati dan didengar oleh para menteri keuangan lain, seperti 
Alistair Darling dari Inggris, Tim Geithner dari Amerika, atau Christine 
Lagarde dari Prancis. Saya ingat bagaimana dalam diskusi, Sri Mulyani kerap 
diminta menjadi pembicara pembuka. Saya catat, Darling atau Geithner di 
beberapa kesempatan, setelah mereka bicara, berpaling dan menanyakan, "Sri 
Mulyani, what do you think...."

Di sana, saya bangga menjadi orang Indonesia karena Indonesia dihormati dan 
didengar dalam forum yang boleh dibilang paling penting di dunia saat ini. 
Sebab, Indonesia berani memperjuangkan nasib negara berkembang di pentas 
global. Di masa lalu, sentimen nasionalisme kita kerap dibangun lewat tinju 
atau bulu tangkis. Keindonesiaan kita menjadi begitu bergelora ketika Ellyas 
Pical juara dunia, atau saat Susi Susanti dan Alan Budikusuma meraih emas 
olimpiade. Atau di tempat lain, nasionalisme kita bergelora ketika kita marah, 
atau terusik atau takut, lalu berteriak "awas asing".

Sri Mulyani membangkitkan kebanggaan akan Indonesia dengan cara lain. Maka, 
bukan hal yang aneh jika Sri Mulyani ditawari posisi nomor dua di Bank Dunia. 
Kiprahnya di dunia internasional memang membuat Indonesia yang tadinya sunyi 
dalam pentas global menjadi berbunyi. Kini, sentimen nasionalisme kita justru 
dibangun oleh Sri Mulyani lewat perasaan dihargai dan dihormati, karena 
Indonesia didengar, karena Indonesia mewakili emerging economies memiliki peran 
mengatasi krisis global. Kita tak lagi menjadi tawanan rasa rendah diri kita 
atau kita tak lagi melihat dunia dengan kecemasan di tiap tikungan.

*) Mantan anggota staf khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mantan Deputi 
Menteri Keuangan untuk G-20


Sent from BlackBerry®INDOSAT

------------------------------------

---------------------
Be Prepared
Sekali Pramuka tetap Pramuka
---------------------

Pramuka email addresses:
  Post message: [email protected]
  Subscribe:    [email protected]
  Unsubscribe:  [email protected]

---------------------Yahoo! Groups Links





------------------------------------

---------------------
Be Prepared
Sekali Pramuka tetap Pramuka
---------------------

Pramuka email addresses:
  Post message: [email protected]
  Subscribe:    [email protected]
  Unsubscribe:  [email protected]

---------------------Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pramuka/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pramuka/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke