Pencuri Impian <http://thediamondlight.com/?p=73>

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat
menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia seringkali menjadi
juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang
dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi
penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika,
Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepukan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari
luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah
banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali
menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan
jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya. Akhirnya kesempatan itu
datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang
panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya: "Pak, saya
ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak,
untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian
saya". "Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu
meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung
berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia
menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia
bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia
ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia
bersumpah tidak pernah akan menari lagi.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga
orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia
bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang
pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar
nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga
anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini
membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan
memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar.

Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita
secara akrab. Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di
hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda
bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu,
sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan
sepatah katapun?"

"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat
tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi
penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari
dunia tari", jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini tidak adil",
seru si ibu muda. "Sikap anda telah mencuri semua impian
saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu
saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya,
dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari
kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!"

Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak …. Tidak, saya rasa saya telah
berbuat dengan benar. *Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk
membuktikan anggur itu enak*. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton
anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga
sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk
mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi
keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. *Dan satu hal yang
perlu anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impina Anda, bukan pada
ucapan atau tindakan saya.*"

"Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh.
*Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasumu, bisa pula
melemahkanmu.* Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar *pujian yang
diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya
puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar
hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. *Lagipula, pujian itu
sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. *Tidak pantas Anda meminta
pujian dari orang lain.*"

"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada
waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari
ini anda sudah menjadi penari kelas dunia."

Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati Anda akan cepat
hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan Anda
hari ini tidak pernah bisa hilang selama-lamanya."

Sukses tuk Semua...Keep going with your dreams....

- R 15 FA -
mail : [EMAIL PROTECTED]
ym   : [EMAIL PROTECTED]
hp    : 62.855.789.050.0

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Project28" group.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/Pro28?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke