Minggu, 11/11/2007 - 12:18 WIB


Tak Rajin Beribadah, Waspadai Jantung Koroner















*SOLO* - Ada temuan menarik dari Prof Dr Mochammad Fathoni dr SpJP (K) FIHA.
Guru Besar Ilmu Penyakit Jantung dan Kardiovaskular Universitas Sebelas
Maret (UNS) Surakarta itu menilai ada korelasi yang signifikan antara
ketaatan beribadah terhadap penyakit jantung koroner.

Menurut Fathoni, orang yang rajin beribadah sangat penting untuk mengurangi
stress sehingga berpengaruh baik pada proses terjadinya penyakit mematikan
tersebut.

Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar di Kampus UNS, Jalan Ir Sutami 36
A, Kentingan, Surakarta, Sabtu 10 November 2007, Moch Fathoni menjelaskan,
dirinya meneliti pengaruh ibadah dalam hubungannya dengan stress pada
beberapa senyawa kimiawi yang memengaruhi "patogenis atherosklerosis" serta
"prognosis Infark Miokard Akut (IMA). Penelitian merupakan penelitian
observasional analitik dengan menggunakan rancangan studi kohort prospekyif.

"Sebagai inklusi, saya telah mengamati penderita IMA baik laki-laki maupun
wanita berumur 35-70 tahun di RSUD Dr Moewardi Solo," jelasnya.

Pengamatan dilakukan saat masuk RS sampai dua bulan setelah terkena penyakit
jantung koroner terutama IMA. Diagnosis ditetapkan dengan "anamnesis"
terdapatnya sakit/nyeri dada yang spesifik lebih dari 20 menit.

Pemeriksaan "elektrokardiografi" (EKG) sesuai "minesota code" serta
pemeriksaan enzom spesifik : MV-CPK, mioglobin serta cTn-1.

Sebagai evaluasi nilai ibadah, diberikan skor untuk masing-masing ibadah
seperti salat wajib, puasa Ramadan, dan zakat. Jika dilakukan dengan baik
mempunyai skor satu. Bila tidak dilakukan nilainya lima. Untuk ibadah haji,
bagi orang mampu yang telah melakukan nilainya satu, sedangkan yang belum
nilainya lima. Untuk orang yang tidak mampu tapi sudah melakukan nilainya
satu dan yang belum nilainya dua.

Untuk ibadah sunah seperti salat rowatib, salat dhuha, salat tahajut, puasa
tiga hari, puasa dawud, baca Al Quran, dan i'tikaf di bulan Ramadan yang
melakukan diberi nilai satu dan yang tidak nilainya dua.

"Dari hasil penelitian tersebut, terdapat korelasi signifikan antara nilai
ibadah dengan senyawa kimiawi yang berperan pada patogenis penyakit jantung
koroner nilai kadar Hs-CRP sedang," jelasnya.

Dia menjelaskan, berbicara mengenai penyakit jantung koroner, bagi yang
beriman dapat mengetahui kedekatan dengan Allah SWT sehingga dapat menjadi
benteng dalam menghadapi stress psikis. Dia menambahkan, dari hasil
penelitian itu, fakta ilmiah berdasarkan penelitian tersebut, orang yang
kurang menjalankan ibadah dengan baik lebih mudah terserang penyakit jantung
koroner/IMA.

Selain itu, ujarnya, orang yang telah terserang IMA dan diketahui ibadahnya
kurang lebih sering mempunuai prognosis (prediksi perjalanan penyakit) yang
lebih jelek. Mereka lebih banyak mengalami komplikasi yang berat atau
berakhir kematian.

*(Sumarno / Sindo / mbs)*


-- 
Terima kasih atas kerjasamanya.
Salam,

A A
([EMAIL PROTECTED])

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Project28" group.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/Pro28?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image001.jpg>>

Kirim email ke