Rabi'Ah Bin 
Ka'ab<http://widhacute.multiply.com/journal/item/27/RabiAh_Bin_Kaab>

  Rabi'ah bin Ka'ab bercerita tentang riwayat hidupnya dalam Islam. Katanya,
"Dalam usia muda jiwaku sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hati kecilku
sudah penuh berisi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama kali aku
berjumpa dengan Rasulullah SAW, aku langsung jatuh cinta kepada beliau
dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat tertarik kepadanya, sehingga aku
berpaling kepada beliau seorang dari yang lain.

Pada suatu hari hati kecilku berkata, "Hai Rabi'ah! Mengapa engkau tidak
berusaha untuk berkhidmat menjadi pelayan kepada Rasulullah SAW? Cobalah
usahakan. Jika beliau menyukaimu engkau pasti akan bahagia berada di samping
beliau dalam mencintainya dan akan beroleh keuntungan di dunia dan akhirat."


Berkat desakan hati, aku segera mendatangi Rasulullah SAW dengan penuh
harapan semoga beliau menerimaku untuk berkhidmat kepadanya. Ternyata
harapanku tidak sia-sia. Beliau menyukai dan menerimaku menjadi pelayannya.
Sejak hari itu aku senantiasa di samping beliau, selalu berada di bawah
bayang-bayangnya. Aku ikut kemana beliau pergi dan selalu siap dalam
lingkungan tempat beliau berada. Bila beliau mengedipkan mata ke arahku, aku
segera berada di hadapannya. Bila beliau membutuhkan sesuatu, aku sudah siap
sedia melayaninya.

Aku melayani beliau sepanjang hari sampai habis waktu Isya' yang terakhir.
Ketika beliau pulang ke rumahnya hendak tidur, barulah aku berpisah
dengannya. Tetapi, hatiku selalu berkata, "Hendak ke mana engkau hai
Rabi'ah? Mungkin Rasulullah membutuhkanmu tengah malam." Karena itu aku
duduk di muka pintu beliau dan tidak pergi jauh dari bendul rumahnya.

Tengah malam beliau bangun untuk shalat. Sering kali aku mendengar beliau
membaca surat Al-Fatihah. Beliau senantiasa membacanya berulang-ulang sejak
dari pertengahan malam ke atas. Setelah mataku mengantuk benar, barulah aku
pergi tidur. Sering pula aku mendengar beliau membaca, "Sami'allaahu liman
hamidah." Kadang-kadang beliau membacanya ulang dengan tempo yang lebih lama
daripada jarak ulangan membaca Al-Fatihah.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, jika seorang berbuat baik kepadanya,
beliau lebih suka membalasnya dengan yang paling baik. Begitulah, beliau
membalas pula pelayananku kepadanya dengan yang paling baik. Pada suatu hari
beliau memanggilku seraya berkata, "Hai Rabi'ah bin Ka'ab!"

"Saya, ya Rasulullah!" jawabku sambil bersiap-siap menerima perintah beliau.


"Katakanlah permintaanmu kepadaku, nanti kupenuhi," kata beliau.

Aku diam seketika sambil berpikir. Sesudah itu aku berkata, "Ya Rasulallah,
berilah aku sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta.
Setelah itu akan kuberitahukan kepada Anda."

"Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah.

Aku seorang pemuda miskin, tidak berkeluarga, tidak punya harta dan tidak
punya rumah tinggal di shuffatul masjid (emper masjid), bersama-sama dengan
kawan senasib, yaitu orang-orang fakir kaum muslimin. Masyarakat menyebut
kami "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila seorang muslim memberi sedekah
kepada Rasulullah, sedekah itu diberikan beliau kepada kami seluruhnya. Bila
ada yang memberikan hadiah kepada beliau, diambilnya sedikit dan lebihnya
diberikan beliau kepada kami.

Nafsuku mendorong supaya aku meminta kekayaan dunia kepada beliau, agar aku
terbebas dari kefakiran seperti orang-orang lain yang menjadi kaya, punya
harta, istri, dan anak. Tetapi, hati kecilku berkata, "Celaka engkau, hai
Rabi'ah bin Ka'ab! Dunia akan hilang lenyap dan rezkimu di dunia sudah
dijamin Allah, pasti ada. Padahal, Rasulullah SAW yang berada dekat Rabnya,
permintaannya tak pernah ditolak. Mintalah supaya beliau mendoakan kepada
Allah kebajikan akhirat untukmu."

Hatiku mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian aku
datang kepada Rasulullah, lalu beliau bertanya, "Apa permintaanmu, wahai
Rabi'ah?"

Jawabku, "Ya Rasulullah! aku memohon semoga Anda sudi mendoakan kepada Allah
Taala agar aku teman Anda di surga."

Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata,
"Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?"

Jawabku, "Tidak, ya Rasulullah! rasanya tidak ada lagi permintaan yang
melebihi permintaan tersebut bagiku."

"Kalau begitu bantulah saya dengan dirimu sendiri. Banyak-banyaklah kamu
sujud," kata Rasulullah. Sejak itu aku bersungguh-sungguh beribadah, agar
mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana
keuntunganku melayani beliau di dunia.

Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilku, katanya, "Apakah
engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?"

Jawabku, "Aku tidak ingin ada sesuatau yang menggangguku dalam berkhidmat
kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, aku tidak mempunyai apa-apa
untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup atau tegaknya rumah tangga.

Rasulullah diam saja mendengar jawabanku. Tidak lama kemudian beliau
memanggilku kali yang kedua. Kata beliau, "Apakah engkau tidak hendak
menikah, ya Rabi'ah?"

Aku menjawab seperti jawaban yang pertama. Tetapi setelah aku duduk sendiri,
aku menyesal. Aku berkata kepada diri sendiri, "Celaka engkau hai Rabi'ah!
Mengapa engkau menjawab begitu? Bukankah Rasulullah lebih tahu apa yang baik
bagimu mengenai agama maupun dunia, dan beliau lebih tahu daripada kamu
tentang dirimu sendiri? Demi Allah jika Rasulullah memanggilku lagi dan
bertanya masalah kawin, akan kujawab, ya."

Memang tidak berapa lama kemudian Rasululah SAW menanyakan kembali, "Apakah
engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?"

Jawabku, "Tentu, ya Rasulullah! Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku,
keadaanku seperti yang Anda maklumi."

Kata Rasululah SAW, "Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka
Rasulullah menyuruh kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si
Fulanah dengan engkau."

Dengan malu-malu aku datang ke rumah mereka. Lalu kukatakan, "Rasulullah
mengutusku ke sini, kalian mengawinkan denganku anak perempuan kalian si
Fulanah."

Jawabku, "Ya, si Fulanah?"

Kata mereka, "Marahaban, bi Rasulilah, wa marhaban bi rasuli Rasulillah!"
(Selamat datang ya Rasulullah dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi
Allah! Utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya
terpenuhi!"

Lalu, mereka nikahkan aku dengan anak gadisnya. Sesudah itu aku datang
menemui Rasulullah SAW. Kataku, "Ya Rasulullah! aku telah kembali dari rumah
keluarga yang baik. Mereka mempercayaiku, menghormatiku, dan menikahkan anak
gadisnya denganku. Tetapi, bagaimana aku harus membayar mahar mas kawinnya?"


Rasulullah memanggil Buraidah ibnu al-Kasib, seorang sayyid di antara
beberapa sayyid dalam kaumku, Bani Aslam. Kata beliau, "Hai, Buraidah!
kumpulkan emas seberat biji kurma, untuk Rabi'ah bin Ka'ab!"

Mereka segera melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Emas sudah
terkumpul untukku. Kata Rasulullah kepadaku, "Berikan emas ini kepada
mereka. Katakan, "Ini mahar kawin anak perempuan kalian."

Aku pergi mendapatkan mereka, lalu kuberikan emas itu sebagaimana dikatakan
Rasulullah. Mereka sangat senang dan berkata, "Bagus, banyak sekali!"

Aku kembali menemui Rasulullah SAW. Kataku, "Belum pernah kutemui suatu kaum
yang sebaik itu. Mereka senang sekali menerima emas yang aku berikan.
Walaupun sedikit, mereka mengatakan, "Bagus, banyak sekali!" Sekarang,
bagaimana pula caranya aku mengadakan kenduri, sebagai pesta perkawinanku?
Dari mana aku akan mendapatkan biaya, ya Rasulullah?"

Rasulullah berkata kepada Buraidah, "Kumpulkan uang seharga seekor kibasy,
beli kibasy yang besar dan gemuk!"

Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Temui Aisyah Minta kepadanya gandum
seberapa ada padanya."

Aku datang menemui ''Aisyah Ummul Mukminin. Kataku, "Ya, Ummul Mukminin!
Rasulullah menyuruhku minta gandum seberapa yang ada pada ibu."

''Aisyah menggantangi gandum yang tersedia itu di rumahnya. Katanya, "Inilah
yang ada pada kami, hanya ada tujuh gantang. Demi Allah! tidak ada lagi
selain ini, bawalah!"

Aku pergi ke rumah istriku membawa kibasy dan gandum. Kata mereka, "Biarlah
kami yang memasak gandum. Tetapi kibasy, sebaiknya Anda serahkan kepada
kawan-kawan Anda memasaknya."

Aku dan beberapa orang suku Aslam mengambil kibasy tersebut, lalu kami
sembelih dan kuliti, sesudah itu kami masak bersama-sama. Kini sudah
tersedia roti dan daging untuk kenduri perkawinanku, beliau datang memenuhi
undanganku. Alhamdulillah.

Kemudian, Rasulullah menghadiahkan sebidang kebun kepadaku, berbatasan
dengan kebun Abu Bakar Shidiq. Dunia kini memasuki kehidupanku. Sehingga,
aku sempat berselisih dengan sahabat senior Abu Bakar Shidiq, mengenai
sebatang pohon kurma. Kataku kurma itu berada dalam kebunku, jadi milikku.
Kata Abu bakar, tidak, kurma itu berada dalam kebunnya dan menjadi miliknya.
Aku tetap ngotot dan membantahnya, sehingga dia mengucapkan kata-kata yang
tak pantas didengar. Setelah dia sadar atas keterlanjurannya mengucapkan
kata-kata tersebut, dia menyesal dan berkata kepadaku, "Hai Rabi'ah! Ucapkan
pula kata-kata seperti yang saya lontarkan kepadamu, sebagai hukuman
(qishash) bagiku!"

Jawabku, "Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!" Kata Abu Bakar, "Saya
adukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!" Lalu
dia pergi menemui Rasulullah SAW. Aku mengikutinya dari belakang.

Kaumku Bani Aslam mencela sikapku. Kata mereka, "Bukankah dia yang memakimu
terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?"

Jawabku kepada mereka, "Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia?
Itulah "Ash-Shidiq", sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum
muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di
sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam
masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang
mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu
Bakar. Karena kemarahan beliau berdua, Allah akan marah pula, akhirnya si
Rabi'ah yang celaka?"

Mendengar kata-kataku mereka pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW,
lalu diceritakannya kepada beliau apa yang terjadi antarku dengannya, sesuai
dengan fakta. Rasulullah mengangkat kepala seraya berkata padaku, "Apa yang
terjadi antaramu dengan Shiddiq?"

Jawabku, "Ya Rasulullah! Beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian
kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau
mengatakannya."

Kata Rasulullah, "Bagus!" Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi, katakanlah,
"Ghaffarallaahu li abi bakar." (Semoga Allah mengampuni Abu Bakar).

Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, "Jazaakallaahu
khairan, ya Rabi'ah bin Ka'ab." (Semoga Allah membalas engkau dengan
kebajikan, hai Rabi'ah bin Ka'ab).

- R 15 FA -
mail : [EMAIL PROTECTED]
ym   : [EMAIL PROTECTED]
hp    : 62.855.789.050.0

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke