source : Sahabat Nestle

Anak berbohong? Wah, bisa bakat atau bisa pula bagian dari masa
pertumbuhannya. Kapan kita waspada? Kejujuran merupakan harta tak ternilai,
dan harus mulai ditanamkan sejak kanak-kanak. Namun dalam keseharian, kita
kerap mendapati kebohongan yang dilakukan buah hati kita.

Kemampuan tingkat tinggiSikap berbohong pada seorang anak bisa disebut
sebagai kemampuan tingkat tinggi. Bayangkan anak berimajinasi, yang
terkadang membuat kita terheran-heran atas imajinasinya itu bukan? Terdapat
2 kemampuan kognitif yang melibatkan otak kanan (imajinasi) dan otak kiri
(logika). Saat berbohong, seorang anak dapat menggunakan atau menggabungkan
kedua-duanya. Jika yang keluar adalah berbohong tingkat tinggi, berarti dia
sedang menggunakan otak kanannya.

Bagian dari pertumbuhan
Jenis kebohongan anak ternyata juga berkorelasi dengan tingkat
pertumbuhannya. Namun demikian meskipun berbohong merupakan bagian dari masa
pertumbuhan anak, jangan lupakan pentingnya arti kejujuran. Sebagai orangtua
kita mesti menanamkan nilai kejujuran pada mereka.

Berkata bohong merupakan salah satu perkembangan kognitif di usia 4-6 tahun.
Sedangkan pada anak pra-sekolah, harus dipertimbangkan adanya kemungkinan
bahwa anak tersebut masih sulit membedakan mana yang nyata dan imajiner.
Mereka mungkin bukan berbohong, namun berfantasi.

Satu hal yang harus diwaspadai adalah sejauh mana anak melakukan kebohongan.
Jika kebohongan itu sudah sangat memprihatinkan, tak ada salahnya jika kita
sebagai orang tua melakukan instropeksi diri, apakah kita sudah menjadi
contoh yang baik dalam soal kejujuran?

Minimal, kita harus mencegah jangan sampai anak kebablasan. Namun, jangan
buat anak menjadi tersudut atau terintimidasi. Karena bila itu terjadi, anak
malah bisa berontak menjadi anak yang nakal atau terus menjadi sosok yang
suka berbohong. Anak berbohong pada hakikatnya adalah tengah mempertahankan
egonya.

Mari kita perhatikan usia anak dan jenis "kebohongan" yang mereka lakukan:
Anak usia 2-4 tahun

* usia pra-sekolah
* imajinasi tinggi, benaknya penuh fantasi
* belum dapat membedakan antara fantasi dan kenyataan
* masih dalam tahap pencarian; antara yang riil dam imajiner

Namun satu hal, kita sebaiknya tidak terlalu terganggu dengan cerita bohong
yang dikarang si kecil, sejauh imajinasi mereka tak membahayakan.
Sebaliknya, gunakan masa ini dengan mengajaknya untuk berkreasi dengan
ketrampilan bahasanya. Sesekali ajak si kecil membaca buku cerita begambar
dengan tema kejujuran. Bahwa kejujuran merupakan sikap terpuji.

Anak usia 5-7 tahun
* merupakan usia sekolah, sehingga tak mengherankan jika "cara berbohong"
mereka relatif lebih maju.
* interaksi dengan teman-teman di lingkungannya membuat mereka lebih kaya
orientasi
* bagi mereka berbohong merupakan salah satu jalan keluar untuk menghindari
hukuman
* pengaruh bukan hanya dari orang rumah tapi juga dari luar rumah (guru,
teman sekolah)

Orang tua mesti ekstra hati-hati. Ajak anak bicara dari hati ke hati,
sediakan waktu lebih banyak untuk menjalin komunikasi dengan anak. Tanamkan
pula bahwa Anda sangat mempercayainya, dan sebaiknya kepercayaan ini dapat
dipegang.

Memberi pengertian kepada anak bahwa berbohong yang baik adalah dengan
mengajak mereka melihat sesuatu masalah dari sisi orang lain. Katakan kepada
mereka bahwa tindakan bohong tidak dapat diterima bila dilakukan untuk
menyembunyikan suatu kesalahan.

Perlukah menghukum?
Menghukum boleh-boleh saja, tetapi tentu saja harus disesuaikan dengan usia
anak. Misalnya pada anak usia sekolah, jika tingkat kebohongannya jelas,
hukumlah dia , misalnya dengan tidak boleh menonton televisi. Tetapi ingat,
jangan sampai hukuman tersebut justru semakin menekan anak sehingga
membuatnya "terpaksa" berbohong demi menutupi kekurangannya. Misalnya saja
saat ia tidak mengerjakan pe-er karena terlalu lelah bermain bola, hindari
memarahinya. Lebih baik Anda dan anak mencari jalan keluar memecahkan
masalah tersebut. Bagaimanapun Anda juga mesti menghargai kejujuran anak.

Memang tiada manusia yang sempurna, dan ini perlu juga diketahui oleh
seorang anak. Namun, selalu ada jalan untuk menyelesaikan masalah, dan akan
semakin mudah bila itu dilakukan secara bersama-sama, bahu membahu.

"Untuk urusan berbohong, pada prinsipnya, baik untuk anak pra-sekolah, anak
usia sekolah atau bahkan remaja sekalipun, penanganannya sama, yakni
mengajaknya diskusi. Karena mereka sesungguhnya sedang belajar menapaki
hidup. Jangan dimusuhi, melainkan harus terus dibimbing, dirangkul. Jika
salah langkah, maka akan muncul apa yang disebut anak nakal, karena orang
tua salah menempatkan mereka," papar Dr. Seto Mulyadi.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengajak si kecil memahami
arti kejujuran. Coba ingat-ingat kembali, tanpa sengaja kita sebagai orang
tua seringkali menanamkan pelajaran yang salah. Misalnya saja saat Anda
sedang malas menerima telepon, dan meminta si kecil mengangkatnya dan
mengatakan "Mama sedang tidak di rumah." Kelihatannya sepele memang, namun
saat itulah pelajaran berbohong sedang dimulai.

Tips menghadapi anak berbohong
* Tempatkan anak di posisi yang terhormat. Anak bukan bawahan Anda, dia
adalah mitra sejajar
* Jadilah pendengar yang baik, untuk mengetahui apa yang terjadi pada anak
Anda
* Terapkan metode "Win win solution", pemecahan masalah melalui cara yang
baik bagi semua
* Kalau Anda tahu bahwa anak sedang berbohong, coba peluklah dia. "Mama
tidak marah."
* Jadikan bohong sebagai pembelajaran anak. Anak boleh salah, tetapi jadikan
kesalahannnya itu sebagai pelajaran berharga.




-- 
.:. Andry Berlianto .:.
0855.9001977 <> 99239005
http://revo-me.blogspot.com/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke