* * CINTA KEPADA ALLAH *(MAHABBATULLAH)
*

Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya,
Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya".
Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra
kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai
Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah
engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos
itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di
hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat!
Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada
kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua
cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar
jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi'ah Al- Adawiyah (w. 165H)
ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: "Maafkan aku ya
Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta
yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah Swt". Tentang cinta itu
sendiri Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal
kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul,
tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada
Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada
Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah
Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa apa yang di
cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa:* "Ya Allah karuniakan kepadaku
kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan
apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih
aku cintai dari pada air yang dingin."
*

Selanjutnya Rabiah -yang sangat terpandang sebagai wali Allah karena
kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut hematnya harus
mengikuti aspek kerelaan (*ridha*), kerinduan (*syauq*), dan keakraban (*uns
*). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus mengesampingkan
dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari kepentingan pribadi (*
dis-interested*). Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan pahala atau
untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan kehendak
Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita
agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu,
Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna.
Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa mistiknya: *"Oh Tuhan, jika
aku menyembahmu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya.
Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga, maka campakanlah aku dari
sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata, maka janganlah engkau
sembunyikan keindahan-Mu yang abadi."
*

Dalam kitab* Al-Mahabbah*, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada
Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki
derajad/level yang tinggi. *"(Allah) mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya." *(QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam
mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari *mahabbah *itu
sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan
lain lain nantinya akan berujung pada *mahabatullah *(cinta kepada Allah).

Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata *mahabbah* berasal dari kata *hubb *yang
sebenarnya mempunyai asal kata *habb* yang mengandung arti biji atau inti.
Sebagian sufi mengatakan bahwa *hubb *adalah awal sekaligus akhir dari
sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam
menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan
inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang bisa menyatukan
perbedaan-perbedaan itu.

Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang
dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap
besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit." Kata-kata arif
dari sufi pencetus doktrin fana' ini dapat kita artikan bahwa ciri-ciri
seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun
demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan
mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi
Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan
mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada
Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: *"Wahai pamanku, demi
Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di
tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak
mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa". *Ciri
kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa
yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun
cobaan berat menimpanya.

Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha
Agung.*. "Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan
mereka* "'(QS. 2: 46). Tentang kerinduan para pecinta terhadap Allah Swt.,
sufi besar Jalaluddin Rumi menggambarkan dalam *matsnawi* sebagai kerinduan
manusia pada pengalaman mistikal primordial di hari "*alastu"* sebagai
kerinduan seruling untuk bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan
asal muasal ia tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat
pilu bagi para pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang
yang merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya.
Jiwa para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu
merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia
di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt.
Menurutnya, *ar-ru'yah *(melihat Allah).merupakan puncak kebaikan dan
kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan
kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap
perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan "bodoh" dalam terminologi sufi dan
mukmin pecinta.
*

"Shalat adalah mi'rajnya orang beriman"* begitulah bunyi sabda Nabi Saw.
untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak
pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke *sidratul muntaha*,
tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu
dengan-Nya. Seorang *Aqwiya *(orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan)
akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada
Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat
shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang
sifatnya memaksa. Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: *"Ada hamba yang
beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum
pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya
budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah
Swt, itulah ibadahnya orang mukmin"*. Seorang pecinta akan berhias wangi dan
rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia
sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya. Kucuran
air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan
kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya.

Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di
seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan
kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal
saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.

Ada sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di
tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia
melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku.
Abu Bein bertanya: "Apa yang sedang anda kerjakan?" Aku sedang mencatat
daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas
ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum
di situ. Ia pun bergumam: "Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta
Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia". Esok harinya
ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang
bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada
papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: "Aku bukan pecinta Tuhan,
aku hanyalah pecinta manusia". Malaikat itu berkata: "Baru saja Tuhan
berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum
kamu mencintai sesama manusia".

Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja *(mahdhah), *tapi lebih
dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara *hablun
minallah *dan *hablun minannas* ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam
sebuah hadits qudsi: *"Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih
(khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika
orang-orang terlelap tidur".* Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan
ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan
dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah
telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya.
Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian
besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai
Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang
di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah
yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya
sahabatnya tentang kekasih Allah *(waliyullah)*. Jawab beliau: *"Mereka
adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas
dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta
yang mereka saling beri."* Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam
sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar
ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke