----- Forwarded by Alfian B Nazwar/Sistelindo Mitralintas/ID on 01/03/2008
04:09 PM -----

      *HARTA KARUN untuk SEMUA*

      Oleh: Dewi Lestari

      Hari  ini  kiriman  buku  yang saya pesan dari
Amazon.com<http://amazon.com/>datang. Ada
      satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika.
      Judulnya:  "Stuff  –  The  Secret Lives of Everyday Things". Buku itu
      tipis, hanya 86 halaman,
      tapi  informasi  di  dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil
      dari  mana  barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita
      berakhir.

      Dimulai  sejak  SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan
      waktu ratusan tahun untuk musnah,
      saya  sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak
      musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya
      hanya  dalam  skala  jam-bahkan  detik?  Bungkus  permen  yang   hanya
      bertahan sepuluh detik di tangan,
      lalu  masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si
      pemakan permen menjadi fosil.

      Sukar  membayangkan  apa  jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat,
      tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin,
      tanpa  bensin,  tanpa  fashion.  Dan  sebagai  konsumen  dalam sistem
      perdagangan modern,
      sejak  kita  lahir  rantai  pengetahuan  tentang  awal dan akhir dari
      segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus.
      Kita  tidak  tahu  dan  tidak  dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan
      styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi,
      berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah
      jam saja,
      beban  polutan  yang  diemban  baju-baju  semusim  yang  kita   beli
      membabi-buta.

      Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
      wajar-wajar saja,
      pernahkah  kita  berhitung  bahwa  untuk  hidup  24  jam  kita   bisa
      menghabiskan sumber daya Bumi ini
      berkali-kali  lipat  berat  tubuh kita sendiri? Untuk menyiram 200 cc
      air kencing, kita memakai 3 liter air.
      Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom.
      Untuk  memproduksi  satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut
      setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air.
      Produksi  satu  set  PC  seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja
      kita menghasilkan 62 kg limbah,
      memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh.
      Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya?
      Limbah  yang  dihasilkan  untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih
      berat daripada berat chip itu sendiri.

      Mengetahui  mata  rantai  tersembunyi  ini  bisa menimbulkan berbagai
      reaksi.
      Kita  bisa  frustrasi  karena terjepit dalam ketergantungan gayahidup
      yang tak bisa dikompromi,
      kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.
      Yang  jelas,  sesungguhnya  ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya
      dibuka.
      Pelajaran  Ilmu  Alam,  selain  belajar  penampang  daun dan membedah
      jantung katak,
      dapat  dibuat  lebih  empiris  dengan mempelajari hulu dan hilir dari
      benda-benda yang kita konsumsi,
      sehingga  tanggung  jawab  akan alam ini telah disosialisasikan sejak
      kecil.

      Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai,
      Pasar  Baru,  atau  berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana
      ada lautan PKL :
      tidakkah  semua  baju  dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan
      penduduk satu kota?
      Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi?
      Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar.
      Pernahkah  kita  merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat
      ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan,
      dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?

      Pernahkah  kita  merenung,  apa  yang kita inginkan sesungguhnya jauh
      melebihi apa yang kita butuhkan?

      Atas  nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju
      dalam setahun, bahkan lebih.
      Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas.
      Atas  nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan
      panganan dalam sehari.
      Atas  nama  selera  dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi
      keinginan satu manusia.

      Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata.
      Seorang  ekonom  mungkin  akan  menyalahkan  sistem  kapitalisme   dan
      globalisasi.
      Seorang  sosialis  akan  mengatakan  ini  masalah  distribusi   dan
      pemerataan.
      Tapi  jika  kita  runut,  satu  demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan
      negara, negara adalah kumpulan kelompok,
      dan  kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali
      ke pangkuan kita.
      Dan  kesadaran  serta  kemauan  kitalah  yang  pada  akhirnya   akan
      memungkinkan sebuah perubahan sejati.

      Belum  pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi
      sangat menentukan.
      Tidak  perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu
      juga menunggu penjarah hutan tertangkap,
      setiap  langkah  kita-memilih  merk,  kuantitas,  tempat,  gaya
      hidup-adalah  pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan
      seisi Bumi.

      Saya  belum  bisa  mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya
      bekerja,
      tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika
      tidak perlu.
      Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi,
      tapi  saya  bisa  memilih  membaca berita lewat internet atau membaca
      koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung.

      Bagaimana dengan fashion?
      Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di
      muka publik,
      saya  pun  belum  bisa  mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli
      busana lebih sering dari yang dibutuhkan),
      tapi  saya  bisa  membuat  komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju
      yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya.
      Jika lebih, maka harus ada yang keluar.
      Dan  setiap  beberapa  bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada
      baju yang tidak saya pakai setahun lebih
      atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi.
      Bukan  cuma  baju,  ada  juga  buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan
      sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.
      Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun',
      yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena
      jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat.
      Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.

      Pada  waktu  perayaan  17  Agustus,  di kompleks saya diselenggarakan
      bazaar.
      Para warga menyewa stand untuk berjualan.
      Saya  ikut  berpartisipasi,  dan  sayalah satu-satunya penjual barang
      bekas di antara penjual barang-baru baru.
      Karena  bukan  demi  cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan
      harga sangat murah.
      Yang  membeli  bukan  cuma  warga  kompleks,  tapi  juga dari kampung
      sekitar.
      Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan.
      Terpaksa  saya  mengontak  saudara-saudara  saya yang barangkali juga
      punya barang bekas untuk disalurkan.
      Sama  dengan  saya,  mereka pun punya timbunan harta karun yang entah
      harus diapakan.
      Stand  saya  menjadi  salah  satu  stand  paling  laris selama bazaar
      berlangsung.
      Dan  kakak  saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari
      tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

      Berjualan  di  bazaar  tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara
      kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita,
      termasuk juga disumbangkan.
      Namun  yang  lebih  sukar  adalah  memulai  membuat komitmen-komitmen
      pembatasan diri.
      Berkomitmen  dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar
      mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri.
      Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

      Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua
      aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari,
      lalu  sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan
      kita.
      Membuka  diri  untuk  info  dan pengetahuan ekologi adalah salah satu
      cara pembekalan yang baik.
      Walaupun  sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong
      kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir,
      dan  hamburger  yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang
      menyertai  barang-barang  itu  tidak  akan  hilang  hanya karena kita
      menolak tahu.

      Banyak  orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup
      tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah.
      Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya.
      Memilih  hidup  yang  lebih  sederhana, hidup dengan tempo yang lebih
      pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran,
      tak  hanya  membantu  kita  lebih  eling  dan  terkendali,  tapi juga
      membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki
      oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

      Lingkaran setan?
      Ya.  Tapi  tidak  berarti  kita  tak  sanggup berubah.Selama ini kita
      adalah pembeli yang berlari.
      Dalam  kecepatan  tinggi  kita  bertransaksi,  sabet sana sabet sini,
      tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

      Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan. ***


      (send to all people that you know)



-- 
Regards
========================
Inu Subakto
Mail to : [EMAIL PROTECTED]
Ph : 021-99050002 <> 08161117800

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke