Mardijkers, Marechaussée, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam dan KNIL
<http://munaskahmi.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=69>
<http://munaskahmi.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=69&pop=1&page=0&Itemid=2>

<http://munaskahmi.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=69&itemid=2>
   Dalam sejarah panjang penjajahan Belanda di Nusantara, untuk mendukung
agresi mereka Belanda memiliki beragam pasukan dalam dinas ketentaraan.
Ketika pertama kali tiba di Nusantara dan pada tahun-tahun pertama
berdirinya VOC, seluruh serdadunya adalah orang Belanda. Namun beberapa
tahun kemudian, Belanda mulai menggunakan tenaga pribumi dan juga orang Asia
lain seperti Jepang. Semula, pribumi hanya sebatas menjadi pendayung
kapal-kapal perang dan kemudian meningkat menjadi serdadu. Tanpa bantuan
pribumi yang bersedia menjadi serdadu Belanda, serta bangsa-bangsa Eropa
lain, terutama dari Jerman, Belanda tidak sanggup menguasai wilayah yang
luasnya puluhan kali luas negaranya, dengan jumlah penduduk sekitar 15 kali
jumlah penduduk negerinya.  **Mardijkers*
Sejak zaman VOC, keturunan dari mereka yang telah bebas dari perbudakan,
atau yang dapat membeli kemerdekaannya, dan kemudian bersedia menjadi
serdadu "Kumpeni", dinamakan Mardijkers. Mereka kebanyakan keturunan
serdadu-serdadu pribumi yang ditawan oleh Spanyol dan Portugis, ketika
Belanda perang melawan kedua negara tersebut. Setelah dibebaskan, mereka
bertugas kembali di ketentaraan VOC, dan secara tradisional, keturunan
merekapun menjadi serdadu "kumpeni." Kemudian masuk juga mantan budak-budak
yang berasal dari India dan Afrika, yang becampur dengan budak-budak yang
berasal dari Sulawesi, Bali dan Melayu. Hampir seluruhnya menganut agama
kristen. Mereka berpakaian seperti orang Portugis dan menggunakan bahasa
Portugis-Kreol. Sampai abad 18 orang-orang Mardijkers tinggal di
kampung-kampung di Batavia.

Tahun 1777 masih terdapat 6 kompi Mardijkers (sekitar 1.200 orang) di dinas
ketentaraan VOC yang bertugas menjaga perumahan Belanda di dalam kota. Tahun
1803 masih trsisa satu kompi, dan kompi terakhir dibubarkan tahun 1808.
Ketika masih berlangsung perbudakan di India-Belanda di mana diberlakukan
passenstelsel (semacam kartu tanda penduduk-KTP), di tempat-tempat di mana
diminta untuk menunjukkan KTP, mereka biasanya mengangkat satu tangan ke
atas sambil mengatakan "mardijkers", yang lama kelamaan diartikan sebagai
"merdeka"!

**Marechaussée*
Marechaussée sendiri sebenarnya merupakan unit pasukan kepolisian, yang
berakar pada masa penjajahan Prancis di Belanda. Berdasarkan dekrit Republik
Bataaf yang didirikan oleh Prancis, pada 4 Februari 1803 dibentuk unit
kepolisian yang dinamakan Marechaussée, namun tidak langsung dilaksanakan.
Pada 1805 dibentuk satu unit Gendarmerie (semacam Brigade Mobil - Brimob),
dan baru pada 26 Oktober 1814, setelah Republik Bataaf diganti dengan
Kerajaan Belanda (wangsa Oranye), berdasarkan dekrit no. 498 yang
dikeluarkan oleh Raja Belanda, Willem I, secara definitif dibentuk
Koninklijke Marechaussée.

Kata Marechaussée sendiri mempunyai akar yang sangat panjang, yaitu sejak
masa pengadilan kuno di Paris tahun 1370 yang dinamakan "Tribunal of
Constables and Marshals of France". Constable dan Marshall ini kemudian
menjadi anggota Gendarmerie, yang merupakan kekuatan kepolisian untuk
Belanda dan Belgia.

Marechaussée yang dikenal di Indonesia sebagai Marsose berkembang menjadi
kekuatan tempur untuk mengamankan wilayah dan jalanan di Kerajaan Belanda.
Selain tugas-tugas kepolisian, Marechaussée juga ditugaskan untuk membantu
angkatan perang, terutama di waktu Perang Dunia I, tahun 1914 - 1918. Di
masa ini juga Marechaussée ditigaskan di India-Belanda, antara lain dalam
perang Aceh dan perang melawan Si Singamangaraja XII di Sumatera Utara, di
mana kemudian pada tahun 1917, satuan Marechaussée berhasil mengalahkan dan
menewaskan Si Singamangaraja XII.

**Tentara Kontrakan*
Belanda yang kecil dengan penduduknya yang juga relatif sedikit, tentu tidak
dapat membangun tentara yang besar, yang hanya terdiri dari orang Belanda
dan pribumi saja. Mereka juga memerlukan perwira yang handal untuk memimpin
pertempuran, yang tidak dapat diharapkan dari pribumi pada waktu itu. Untuk
membangun tentara yang tangguh di India-Belanda, di samping merekrut pribumi
untuk menjadi serdadu –dan paling tinggi bintara- mereka juga menyewa
perwira dan serdadu dari negara-negara Eropa lain, terutama dari Jerman.
Belanda bahkan tidak tanggung-tanggung, yaitu mengontrak satu resimen dari
Jerman. Tahun 1790-1808 terdapat Regiment Württemberg yang terdiri dari
orang-orang Jerman asal Württemberg yang berjumlah 2000 (!) tentara. Semula
mereka mengabdi pada VOC, kemudian setelah VOC dibubarkan, mereka berada di
bawah Pemerintah India-Belanda. Regiment Württemberg ini dibubarkan pada
tahun 1808. Banyak dari mantan serdadu dan perwira Jerman yang kemudian
tinggal dan berkeluarga di Indonesia. Hal ini yang menerangkan bahwa di
Indonesia sejak beberapa generasi ada keluarga Indonesia yang mempunyai nama
keluarga Jerman.

**KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger)*
Ketika berlangsung Perang Diponegoro (1825 – 1830), tahun 1826/1827
pemerintah India Belanda membentuk satu pasukan khusus. Setelah Perang
Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830 Gubernur Jenderal van den Bosch
mengeluarkan keputusan yang dinamakan "Algemeene Orders voor het
Nederlandsch-Oost-Indische leger" di mana ditetapkan pembentukan suatu
organisasi ketentaraan yang baru untuk India-Belanda, yaitu Oost-Indische
Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Willem I,
tentara ini mendapat predikat "Koninklijk." Namun dalam penggunaan
sehari-hari, kata ini tidak pernah digunakan selama sekitar satu abad, dan
baru tahun 1933, ketika Hendrik Colijn –yang juga pernah bertugas sebagai
perwira di Oost-Indische Leger- menjadi Perdana Menteri, secara resmi
tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger,
disingkat KNIL.

Undang-Undang Belanda tidak mengizinkan para wajib militer untuk ditempatkan
di wilayah jajahan, sehingga tentara di India Belanda hanya terdiri dari
prajurit bayaran atau sewaan. Kebanyakan mereka berasal dari Prancis,
Jerman, Belgia dan Swiss. Tidak sedikit dari mereka yang adalah desertir
dari pasukan-pasukannya untuk menghindari hukuman. Namun juga tentara
Belanda yang melanggar peraturan di Belanda diberikan pilihan, menjalani
hukuman penjara atau bertugas di India Belanda. Mereka mendapat gaji bulanan
yang besar. Tahun 1870 misalnya, seorang serdadu menerima f 300,-, atau
setara dengan penghasilan seorang buruh selama satu tahun.

Dari catatan tahun 1830, terlihat perbandingan jumlah perwira, bintara serta
prajurit antara bangsa Eropa dan pribumi dalam dinas ketentaraan Belanda. Di
tingkat perwira, jumlah pribumi hanya sekitar 5% dari seluruh perwira;
sedangkan di tingkat bintara dan prajurit, jumlah orang pribumi lebih banyak
daripada jumlah bintara dan prajurit orang Eropa, yaitu sekitar 60%.
Kekuatan tentara Belanda tahun 1830, setelah selesai Perang Diponegoro
adalah:
603 perwira bangsa Eropa
37 perwira pribumi
5. 699 bintara dan prajurit bangsa Eropa
7.206 bintara dan prajurit pribumi.

**Belanda Hitam (zwarte Nederlander)*
Selain mengontrak orang-orang Eropa untuk menjadi serdadu di dinas
ketentaraan India-Belanda, juga terdapat pasukan yang terdiri dari yang
dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander).

Mulai tahun 1830, di Gold Coast (sekarang Ghana) Afrika Barat, Belanda
membeli budak-budak, dan melalui St George d'Elmina dibawa ke India Belanda
untuk dijadikan serdadu. Untuk setiap kepala, Belanda membayar f 100,-
kepada Raja Ashanti. Sampai tahun 1872, jumlah mereka kemudian mencapai
3.000 orang dan dikontrak untuk 12 tahun atau lebih. Berdasarkan
Nationaliteitsregelingen (Peraturan Kewarganegaraan), mereka masuk kategori
berkebangsaan Belanda, sehingga mereka dinamakan Belanda Hitam (zwarte
Nederlander). Karena mereka tidak mendapat kesulitan dengan iklim di
Indonesia, mereka menjadi tentara yang tangguh dan berharga bagi Belanda,
dan mereka menerima bayaran sama dengan tentara Belanda. Namun mereka harus
mencicil uang tebusan sebesar f 100,- dari gaji mereka. Memang orang Belanda
tidak mau rugi, walaupun orang-orang ini telah berjasa bagi Belanda dalam
mempertahankan kekuasaan mereka di India Belanda.

Sebagian besar dari mereka ditempatkan di Purworejo. Tahun 1950, sekitar 60
keluarga Indo-Afrika dibawa ke Belanda dalam rangka "repatriasi."

**Mitos KNIL = Ambon*
Tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi serdadu KNIL mencapai 33 ribu orang,
atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat
sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.

Apabila meneliti jumlah perwira, bintara serta prajurit yang murni orang
Belanda terlihat, bahwa sebenarnya jumlah mereka sangat kecil. Juga
stigmatisasi bahwa orang Ambon adalah tumpuan Belanda dalam dinas
ketentaraan adalah tidak benar, karena ternyata jumlah orang Ambon yang
menjadi serdadu Belanda jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah orang
Jawa. Juga pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL bukanlah orang
Ambon, melainkan Kolonel KNIL R. Abdulkadir Wijoyoatmojo, yang tahun 1947
memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal perang AS
Renville, yang membuahkan Persetujuan Renville.

Tahun 1950, setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik
Indonesia Serikat, jumlah orang Indonesia yang masih menjadi serdadu KNIL
diperkirakan sekitar 60.000 (!) orang, dan sebagian besar dari mereka
diterima ke dalam tubuh Tentara nasional Indonesia (TNI). Jumlah orang Ambon
diperkirakan sekitar 5.000 orang, yang sebagian besar ikut dibawa ke Belanda
dan tinggal di sana sampai sekarang.

Dengan merekrut tentara yang berasal dari pribumi serta politik divide et
impera-nya, menjadi tulangpunggung yang memungkinkan Belanda menang dalam
banyak pertempuran melawan kerajaan-kerajaan di India-Belanda, dan di
beberapa daerah –seperti di Jakarta- mereka dapat berkuasa selama sekitar
300 tahun. Hal tersebut terjadi karena juga ditunjang oleh keserakahan dan
egoisme para raja dan sultan serta pribumi lain yang bersedia bekerjasama
dengan penjajah.

*Disusun oleh Batara R. Hutagalung*     *Marechaussee / Marsose / Tentara
Bayaran*        Marsose / Tentara bayaran yang disewa Belanda pada awalnya
banyak digunakan pihak Belanda untuk menumpas Perlawanan rakyat Atjeh,
dibelakang hari Marsose berubah menjadi KNIL yakni tentara resmi Belanda di
daerah jajahannya *Tentara KNIL*     Marsose / Tentara bayaran yang disewa
Belanda pada awalnya banyak digunakan pihak Belanda untuk menumpas
Perlawanan rakyat Atjeh, dibelakang hari Marsose berubah menjadi KNIL yakni
tentara resmi Belanda di daerah jajahannya
Para Tentara KNIL suku Ambon yg dikenal dengan Belanda Hitam   *Para
Petinggi ex. KNIL*
*Para Petinggi mantan KNIL*
*Para Petinggi mantan KNIL* Diantara founding father ada banyak yang
sebelumnya pernah mengabdi dengan menjadi tentara KNIL diantaranya Gatot
Soebroto - Urip Soemohardjo - A.H Nasution dll [image:
PDF]<http://munaskahmi.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=69>
[image:
Cetak]<http://munaskahmi.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=69&pop=1&page=0&Itemid=2>
[image:
E-mail]<http://munaskahmi.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=69&itemid=2>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke