bagus neh..artikel nya,
 
menyadarkan kita, bahwa kita tak'an bisa jadi apa-apa tanpa mereka.
 
bahwa kita terkadang terlalu egois dengan posisi yang kita pegang saat ini, 
sehingga kadang kita melupakan hak serta keinginan orang-orang yang 
berada/berstatus "Under" kita.
 
" Tegas bukan berarti Harus Keras, 
Bijaksana bukan berarti harus Lemah Gemulai "
 
Tak'an pernah ada karyawan yang loyal kepada atasan maupun perusahaan, jika 
dalam kesehariannya selalu di liputi rasa tegang, takut, cemas, presure yang 
berlebihan, dan selalu tidak comfort/nyaman dalam bekerja.
 
 
*** Cobalah kita renungkan ***
 
Mohon Maaf Apabila Kurang Berkenan
 
salam,
Rizky
 
 


----- Forwarded Message ----
From: Muhammad Irvan (Vaneer) <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 5, 2008 9:26:22 AM
Subject: FW: Why To Move


Dear all,
 
Fyi...
 
Mohon maaf buat yang kurang berkenan.
 
Wassalam...
 =Vaneer=
ContactCenterPersonal Development
Jl. Daan Mogot Km. 11 Daan Mogot, Gd. B1 Lt. 2
Jakarta Barat - 11710
HP : 0855 9004182
        0856 1122084
Email :[EMAIL PROTECTED]
 


________________________________
From:  
Sent: Monday, April 21, 2008 2:44 PM
To: 
Subject: 

 
WHY TO MOVE
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? 
Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, 
"Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007). 
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari 
sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah 
satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri 
teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi 
Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana. 
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah 
dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) 
karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan 
perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS. 
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan? 
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian 
karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan 
perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, 
lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini 
mencoba menjelaskan persoalan ini. 
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software 
senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius 
untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia 
tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan 
ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap 
visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah 
karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan 
sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat. 
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk 
pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak 
lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi 
mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay 
keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi 
dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di 
departemennya pun berhenti baru-baru ini. 
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan 
uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa 
yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? 
Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang 
berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang 
dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu 
juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah 
buku berjudul First Break All the Rules. 
Penemuannya adalah sebagai berikut: 
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan 
langsung/tertinggi di departemen mereka.Lebih dari alasan apapun, dia adalah 
alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan 
mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama 
mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, 
bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First 
Break All the Rules. 
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan 
orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan 
yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah 
manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah 
para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang 
pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait 
dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. 
Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya. 
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. 
Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 
persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit. 
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang 
paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan 
produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, 
karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa 
diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi 
pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu 
diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. 
Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya 
dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan 
melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan 
tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos. 
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak 
menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak 
mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan 
stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, 
terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para 
pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung 
terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang 
tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 
99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan 
karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, 
mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu 
orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu 
tidak penting.  Saya bisa mencari
 puluhan orang seperti kamu. 
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya 
kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari 
penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang 
untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang 
telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan 
rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada 
perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang 
yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan 
atau keburukan. 
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun 
atasan)?
 

 

*****
"This message is intended only for recipients who are authorized to receive it. 
It contains confidential and/ or legally priveleged information belong to PT 
INDOSAT Tbk ("INDOSAT"), therefore the authorized recipients shall  protect 
this confidential information disclosed pursuant to provisions of Indosat's 
policy.
If you are not a valid recipient of this message, please delete it from your 
system and/ or destroy all of the tangible material produced from the 
information herein together with all copies or reproductions thereof and notify 
the sender immediately. 
Please also be notified that any disclosure, copying, distribution or taking 
any action based on the contents of this message is strictly prohibited and may 
be unlawful".
*****



      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke