pesan moral dari cerita ini: Jangan pernah putus asa dan menyerah, selalu
berpikir positif. Artikel bagus bro ....

On 6/17/08, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Budi, Satya <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Jun 17, 2008 10:47 AM
> Subject: -RSA- FW: ( OOT ) Boss Pengemis tinggal menikmati hidup
> To: [EMAIL PROTECTED]
>
>  * ::arien::*
> JAWAPOS
> Catatan Reporter: Ayo siapa yang mau kaya silahkan jadi pengemis dari pada
> jadi koruptor..
>
>
> [ Kamis, 12 Juni 2008 ]
> Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup
> Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir
> sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya . Dari
> jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil
> gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.
>
> ---
>
> Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya
> terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup
> banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang
> ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di
> Surabaya .
>
> Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati
> hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau
> perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke
> kantong.
>
> Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu
> hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta
> hingga Rp 9 juta.
>
> Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang
> didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di
> Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi
> untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah
> yang dia bangun di Kota Semarang ..
>
> Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan
> sebuah mobil Honda CR-V *kinclong* keluaran 2004.
>
> ***
>
> Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian
> ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda
> CR-V-nya yang berwarna biru metalik.
>
> Meski punya mobil yang *kinclong*, penampilan Cak To memang tidak terlihat
> seperti ''orang mampu''.. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut
> berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak
> bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang
> tak pernah menamatkan sekolah dasar.
>
> Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia , pria beranak
> dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun,
> pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli.. ''Yang penting halal,'' ujarnya
> mantap.
>
> Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis.
> Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum
> usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan
> G-30-S/PKI.
>
> Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu awalnya saya
> diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,' ' ungkapnya.
>
> Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan' ', awal 1970-an, Cak To
> diajak orang tua pindah ke Surabaya . Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di
> rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang
> pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.
>
> Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya . Ketika remaja,
> ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.
>
> Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas
> preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga.
> Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk
> mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.
>
> Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani
> melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau
> jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal
> tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''*Wis tak nampek. Mon la
> nyalla sebet* (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),''
> tegasnya.
>
> Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi
> ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami
> berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.
>
> Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus
> mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
>
> ***
>
> Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis,
> berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai
> cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
>
> Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi
> pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan
> 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per
> hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.
>
> Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah
> sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan
> oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah *tape recorder*dan 
> TV 14 inci,'' kenangnya.
>
> Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia
> mulai mengumpulkan anak buah.
>
> Cerita tentang ''keberhasilan' ' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat
> teman seumuran mengikutinya ke Surabaya . ''Kasihan, panen mereka gagal. *
> Ya* sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.
>
> Sebelum ke Surabaya , Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang
> baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah
> kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku
> malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu
> saudara di kampung,'' tegasnya.
>
> Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja.
> Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya
> Timur.
>
> Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika
> sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti
> penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.
>
> Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan
> perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan
> sendiri-sendiri.
>
> Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia
> menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To
> terus menunjukkan peningkatan. ..
>
> ***
>
> Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak
> buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To.
> Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.
>
> Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan
> setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200
> ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta
> per bulan.
>
> Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya.. Dia hanya
> minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau
> sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada
> saya,'' ucapnya.
>
> Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah
> kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai
> donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu *kan* ibadah. Mumpung
> kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya..
>
> Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku
> tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila
> segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... *(ded/aza)
> *
> *Sumber ; jawapos*
>
>
>  ------------------------------
>  *Cari tahu ramalan bintang kamu 
> *<http://sg.rd.yahoo.com/id/search/ads/mail/signature/*http://id.search.yahoo.com/search?p=%22ramalan+bintang%22&cs=bz&fr=fp-top>-
> Yahoo! Indonesia Search.
>
>
> http://gueandry.blogspot.com/
> http://redd.dagdigdug.com/
> ----------------------------------------------
> >
>
>



-- 

Inu Subakto
Mail: [EMAIL PROTECTED]
Ph : 02130591547 - 08161117800
========================================
Diamond cannot be polished without friction.
Gold cannot be purified without fire.
Good people go through trials, but don't suffer.
With that experience their life become better not bitter

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: ATT00098.jpg>>

Kirim email ke