*menangis*


Rgds.



2008/11/20 M. Risfa Rasman Mugnie <[EMAIL PROTECTED]>

> MANDIKAN AKU BUNDA
>
> Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidak
> mensyukuri apa yang dimiliki-Nya sampai akhirnya .....
>
> Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan
> memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya
> sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang
> akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang
> mantan presiden Amerika.
> Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di
> Universiteit Utrecht , Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih
> memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat
> pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
> Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf
> diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah
> kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama
> hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak
> didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud
> menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
> Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani
> semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke
> kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah
> bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ''
> Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala
> sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.
> Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby
> sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh
> menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
> Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu,
> tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik
> pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau
> Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir
> dongeng menjelang tidurnya.
> Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut
> dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih
> pengertian
> anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang
> adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya.
> Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya
> mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap
> pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu
> menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat
> kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua
> orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri
> pada keluarga ini.
> Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
> dimandikan baby sitter. ''Alif  ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap.
> Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.
> Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
> keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan
> Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut,
> meski
> wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda,
> mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya
> berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya
> agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa
> ditinggal juga.
> Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu
> dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah
> terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya
> rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
> Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia
> shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah
> memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang
> menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
> Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring
> kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah
> jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya,
> berusaha menyembunyikan tangis.
> Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
> mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,
> berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun
> di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?'' Saya diam
> saja.
> Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung
> seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi
> sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening
> sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
> Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu
> hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih
> tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri
> kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih
> mengiba-iba. Detik
> berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya
> membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
> Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya
> sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
> Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya
> sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya.
> Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu. Sering
> kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang
> diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka
> menyayanginya dan tetap akan ada. Pelajaran yang sangat menyedihkan.
> Semoga yang membacanya bisa mengambil makna serta hikmah yang terkandung
> dalam kisah  tsb
>
>
> Peace,
>
>  - M. R I S F A  -
> Account Payable Finance Div
> PT. Personel Alih Daya
> Gd. Pusri Lt.4
> Jl. Arjuna Selatan
> Jakarta Barat 11480
> mail : [EMAIL PROTECTED]
> hp    : 021-30175919
>
> >
>


-- 
.:. Andry Berlianto .:.
0815.9405884 <> 08989.899088
Every time you go past your limit, that becomes your new limit.
http://www.jalanraya.net/
http://www.andryberlianto.co.cc/
----------------------------------------------

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke