Pendidikan Berbasis Kompetensi

Penyelenggaraan pendidikan harus dilakukan dengan
acuan kompetensi yang dapat dipakai sebagai jaminan
untuk memasuki dunia kerja. Dengan alasan menciptakan
suatu panduan kompetensi itulah tiga hari sejak Senin
25 Oktober kemarin dilangsungkan putaran Surabaya
(sebagai kelanjutan beberapa putaran sebelumnya di
berbagai kota, meniru istilah Putaran Uruguay ya...)
ada gawe nasional Depdiknas dhi. Pendidikan Luar
Sekolah (oleh) Masyarakat menyelenggarakan lokakarya
untuk membuat panduan soal kompetensi tersebut. Dengan
panduan ini nantinya, maka setiap penyelenggara
pendidikan luar sekolah, kursus-kursus, bisa
menyiapkan materi agar lulusannya kompeten. Indah
bukan?

Negeri ini memang rada terkebelakang, sadarnya
terlambat, sebab sebenarnya penyelenggaraan pendidikan
kan tak ubahnya sebuah warung makan. Menu dan rasa,
kalau mau warungnya laku, harus sesuai dengan selera
konsumennya. Mangkanya, rasa masakan daerah Yogya
dirasakan terlalu manis oleh arek Suroboyo. Jika ada
resto steak yang rame di Surabaya, rasanya pasti lain
jauh dibanding yang ada di resto hotel bintang yang
banyak bulenya. Jelasnya, standar kompetensi ini
diperoleh setelah mempelajari apa yang diinginkan
konsumennya, para pemakai lulusan pendidikan.

Di negara tetangga terdekat, Malaysia, misalnya,
standar kompetensi ini sudah komplit. Semua jenis
pekerjaan dan level-level jabatannya pun sudah
tersedia bakuan kompetensinya. Dengan begitu para
penyelenggara pendidikan dengan mudah menyusun materi
pendidikan mereka berdasarkan standar tadi.

Ada beberapa hal yang aku rasa ngganjel dalam acara
lokakarya ini. Pertama, para peserta yang terdiri dari
pimpinan dan penyelenggara kursus hanya memiliki
pemahaman teknis terhadap materi pendidikan yang
mereka kelola. Mereka tak memiliki, atau tak dibekali,
dengan kualifikasi kompetensi apakah yang dibutuhkan
oleh industri yang diharapkan menjadi pemakai lulusan
lembaga pendidikan tersebut. Dari hal itu saja sudah
bisa membuat kita kuatir, apakah hasil lokakarya
tersebut mampu menciptakan standar kompetensi yang
benar-benar terpakai oleh industrinya, atau tidak.
Bisa lebih, atau kurang. Maka kita akan bicara
mengenai kemubaziran, biaya tinggi, pengangguran
terdidik yang tak mampu memenuhi kebutuhan industri
pemakai.

Kedua, bahwa cara ini jelas berlebihan. Sebagai
penyelenggara pendidikan atau kursus, sebenarnya
mereka tinggal memanfaatkan acuan baku kompetensi tadi
semata, tak perlu membuatnya. Bahwa kebutuhan
konsumennya begina-beginu, ya sudah, manut, kan?

Untuk mengukur kekompetenan hasil didik dan
penyelenggaraan pendidikan memang sudah dibentuk
sebuah badan nasional untuk sertifikasi ini, hal
serupa yang juga dilakukan berbagai negara yang sudah
menyelenggarakan hal serupa. Di Indonesia, badan ini
sudah ada. Mestinya, badan ini tak cuma melakukan
sertifikasi saja, tetapi juga menghimpun standar
kompetensi yang akan dipakai untuk melakukan
penyertifikatan tadi. Sayang, meski badan ini ada,
mereka tak cukup komplit memilikinya. Beberapa sudah
ada. Mungkin dengan alasan kebelumadaan tersebutlah
lokakarya diadakan.

Sayang seribu sayang, badan sertifikasi nasional yang
ada tersebut dibentuk oleh departemen ketenagakerjaan.
Sementara lembaga pendidikan, setidaknya lokakarya
pembakuan kompetensi yang sedang saya bicarakan,
diselenggarakan oleh departemen pendidikan nasional.
Adanya perbedaan departemen penyelenggara ini membuat
peserta lokakarya tak bisa melakukan akses pada badan
sertifikasi tadi. Setidaknya untuk mencontoh bentuk
form-form, untuk dijadikan materi bahasan lokakarya.

Dengan kenyataan bahwa sudah cukup banyak
negara-negara yang sudah memiliki standar kompetensi
tersebut, sebenarnya dengan mudah bisa dilakukan
peniruannya saja, sembarai direviu mana yang menurut
standar industri dalam negeri masih kurang, atau
berlebihan. Edarkan saja draft berdasarkan
standar-standar yang ditiru tadi ke kalangan industri,
lalu tunggu feedback dari mereka, gampang kan?

Pembaca sekalian, begitulah salah satu wajah dari
penyelenggaraan kepemerintahan di negeri ini. Banyak
pemubaziran, tak fokus, dan jauh dari kompeten.
Kegiatan-kegiatan disusun dengan cara serampangan,
mubazir, dan banyak buang ongkos. Perlu diketahui,
kegiatan serupa pernah pula dilakukan (saya ikuti) dua
kali sebelumnya. Sebelumnya adalah dalam rangka
link-and-match, ketika mendikbud-nya sedemikian getol
dengan istilah tersebut.

Aku jadi mikir, apakah SBY mengetahui keadaan
pengamburadulan yang sedemikian itu. Dan jika belum
tahu, apakah SBY mampu menemukannya? Jika sulit, lalu
dengan jalan apakah yang bisa dilakukan oleh
mereka-mereka yang ingin menyampaikan keadaan
amburadul ini, agar benar-benar bisa efektif
penanganannya?

Tahun 2004 masih tersisa dua bulan lagi. Dipastikan
akan banyak acara-acara lokakarya, seminar, semiloka,
dan lain sebagainya, yang biasanya hanya dimaksudkan
untuk menghabiskan anggaran. Alangkah indahnya,
sebagai bagian dari rencana 100 hari kerja pertama ini
segala kegiatan yang seperti itu dibatalkan saja.
Sambil pula melakukan reviu atas anggaran 2005
tinggalan pemerintahan Megawati, sebab aku berani
bertaruh, pasti juga akan banyak kegiatan-kegiatan
mubazir yang terselip di dalamnya. Apa bisa melalui
e-mailnya Andi Malarangeng? Tapi, apa alamatnya?

Gigih Nusantara

=====
Mampir untuk ketawa ala Suroboyoan di
http://matpithi.freewebsitehosting.com

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke