http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/28/opini/1352173.htm

Kamis, 28 Oktober 2004

DPR: Wajah Baru, Cerita Lama
Oleh Syamsuddin Haris

DI tengah kesibukan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu menyiapkan 
program 100 hari pertama mereka, DPR selaku mitra kerja pemerintah justru 
masih sibuk berebut kursi pimpinan komisi-komisi, panitia, dan badan-badan 
kelengkapan Dewan lainnya.
Fraksi-fraksi yang tergabung dalam Koalisi Kebangsaan dan Koalisi 
Kerakyatan, masing-masing berusaha menguasai sebanyak-banyaknya kursi 
pimpinan komisi.
Rapat Pleno DPR Rabu (27/10) kemarin nyaris gagal lagi karena kembali 
diboikot oleh lima fraksi yang tergabung dalam Koalisi Kerakyatan. Lalu 
kapan DPR mulai bekerja untuk rakyat kalau pada sidang-sidang pertama saja 
para anggotanya telah terperangkap semangat perebutan kekuasaan? Mengapa 
pemilu tak kunjung menghasilkan wakil-wakil rakyat yang lebih bertanggung 
jawab?
Diambil "penjahat"
Fenomena DPR baru yang relatif belum berubah itu sebenarnya telah tampak 
pada saat rapat pemilihan pimpinan DPR dan juga pimpinan MPR beberapa waktu 
lalu. Semangat "berburu" kekuasaan begitu kental ditampilkan oleh 
partai-partai politik sehingga seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan 
mereka berpolitik. Idiom-idiom agama pun acap kali dikumandangkan seusai 
suatu kelompok memenangi pertarungan atas kelompok lain, seakan-akan Tuhan 
turut "merestui" kemenangan tersebut.
Perebutan kekuasaan memang merupakan hal yang wajar, absah, dan halal dalam 
kehidupan partai-partai politik. Namun, ketika kekuasaan menjadi satu- 
satunya tujuan, maka sesungguhnya berakhir pula hak partai-partai 
mengatasnamakan tindakan mereka sebagai wakil kepentingan umum. Dengan kata 
lain, jika kecenderungan menghamba kepada kekuasaan itu menjadi orientasi 
para legislator, maka sebenarnya gugur pula hak para politisi tersebut duduk 
di lembaga perwakilan rakyat.
Penjelasan di balik kecenderungan tersebut dapat dicari dari berbagai 
perspektif, baik historis, politik, etika, maupun kultural. Misalnya saja, 
tradisi berpartai yang pendek dan terputus, pengalaman parlementarian yang 
minim, dan mentalitas priayi yang melekat pada hampir semua elite politik 
kita di semua tingkat. Namun, satu hal yang merisaukan kita adalah bahwa 
kecenderungan menghambakan diri pada kekuasaan itu justru tumbuh subur 
ketika demokrasi baru mulai mekar di negeri ini.
Artinya, di satu pihak kita sebagai bangsa sangat bangga menjadi negeri 
demokrasi terbesar ketiga di dunia sesudah India dan Amerika Serikat. Tetapi 
di pihak lain, kebanggaan itu sesungguhnya semu belaka jika ternyata proses 
demokrasi dikelola dan diambil alih oleh politisi "penjahat", yakni para 
politisi yang memanfaatkan momentum demokratisasi untuk kepentingan pribadi 
dan kelompok mereka sendiri.
Kembali ke Tatib
Setelah melalui rangkaian pemilu yang panjang dan melelahkan, kini mestinya 
saat bagi rakyat menatap masa depan dengan optimistis karena telah memberi 
kepercayaan kepada para wakil yang kini duduk di badan-badan legislatif. 
Namun, harapan rakyat tampaknya tetap akan menjadi harapan yang dirajut 
kembali dalam pemilu berikutnya jika pemilu ternyata hanya 
menghasilkan-meminjam Bill Liddle-"demokrasi kaum penjahat" yang tidak 
mempunyai nilai tambah bagi rakyat kita.
Barangkali di situlah dilema pemilu. Di satu pihak, pemilu merupakan 
mekanisme demokratis untuk memilih para wakil dan elite politik yang bisa 
dipercaya. Namun di pihak lain, dilemanya, pemilu demokratis belum tentu 
menjamin munculnya para wakil rakyat yang bertanggung jawab. Format pemilu, 
struktur kepartaian dan struktur lembaga perwakilan, adalah faktor-faktor 
penting yang sangat memengaruhi kualitas para wakil, kualitas partai dan 
lembaga perwakilan yang dihasilkan pemilu.
Dalam konteks Pemilu 2004 sejumlah perubahan memang berlangsung, mulai dari 
sistem pemilu, daerah pemilihan, penyelenggara, hingga perimbangan jender. 
Namun, kualitas perubahan itu sendiri masih jauh dari harapan karena, 
lagi-lagi, aturan perundang-undangan politik yang berlaku merupakan produk 
politik dagang sapi partai-partai di DPR. Dalam penentuan calon legislatif, 
misalnya, prosesnya sangat didominasi elite partai tanpa keterlibatan 
rakyat. Struktur lembaga perwakilan yang baru juga mengintroduksi lembaga 
Badan Kehormatan untuk mengontrol perilaku dan pelanggaran kode etik oleh 
para wakil rakyat. Tetapi lembaga baru ini pun bakal menjadi "macan ompong" 
karena statusnya sebagai salah satu alat kelengkapan Dewan.
Karena itu, patut disesalkan jika para anggota DPR lebih mengedepankan 
kepentingan kelompok, partai, dan koalisi masing-masing ketimbang 
kepentingan kolektif. Apalagi Tata Tertib (Tatib) DPR telah mengatur dengan 
jelas tata cara pemilihan pimpinan komisi dan alat kelengkapan Dewan yang 
lain. Tanpa harus berpihak pada salah satu kelompok, mestinya aturan main 
yang telah disepakati dalam bentuk tatib itulah yang jadi acuan dalam 
pemilihan pimpinan komisi.
Kesepakatan-kesepakatan yang bersifat ad hoc, seperti di antara pimpinan 
fraksi, tentunya tidak bisa membatalkan Tatib DPR. Sebab, jika setiap aturan 
main bisa dibatalkan oleh kesepakatan unsur pimpinan Dewan, maka mekanisme 
DPR tidak akan pernah bisa berjalan.
Terulang kembali
Apa boleh buat, tampaknya belum banyak yang dapat diharapkan rakyat dari DPR 
baru hasil Pemilu 2004. Namun, harapan akan perubahan akan semakin jauh 
digapai apabila masyarakat hanya mengelus dada dan berdiam diri membiarkan 
para wakil yang tidak bertanggung jawab "mengangkangi" nasib kita dan masa 
depan bangsa ini.
Karena itu, berbagai elemen masyarakat kita-pers, LSM, mahasiswa dan 
akademisi, kelompok buruh, tani, nelayan, dan sebagainya-perlu ikut 
mengontrol perilaku para wakilnya di lembaga-lembaga perwakilan dan secara 
publik "menghukum" mereka yang tak bertanggung jawab. Sekurang-kurangnya 
mengingatkan bahwa konsekuensi logis menjadi wakil rakyat adalah mengurusi 
nasib dan kepentingan rakyat, bukan berebut pimpinan komisi yang basah dan 
menolak komisi yang "kering". Kalau tidak, kita tinggal menunggu Pemilu 
2009, yakni ketika DPR lebih baru dilantik, sumpah dan janji dikumandangkan 
lagi, dan cerita lama pun terulang kembali.
Syamsuddin Haris Pengamat Politik, Bekerja di LIPI
Search :







Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�DPR: Wajah Baru, Cerita Lama
�Sumpah Pemuda, Menpora, dan "Civil Society"
�POJOK 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke