Menjepit Ryacudu Bom waktu tinggalan Megawati, yang mengangkat Ryacudu sebagai Panglima TNI berbuah hasil. Keputusannya mengganti Endriartono hanya beberapa hari menjelang kekuasaannya berakhir banyak dipandang sebagai tabiat yang tak patut dalam sistem pemerintahan dalam transisi, mengingat bahwa keputusan yang diambil tersebut termasuk keputusan yang bersifat strategis dan mendasar. Termasuk pula berbagai keputusan lain di jajaran kementeriannya, seperti pengangkatan pejabat eselon I serta pemberian SP3 pada Ginanjar oleh Kejaksaan Agung.
Kalau lah yang terakhir disebut, seperti pengangkatan pejabat eselon I maupun SP3 masih bisa dengan gampang dilakukan koreksi, tanpa resko politis yang besar, berbeda dengan pengangkatan Panglima TNI tersebut. Tentu akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi presiden baru, karena Panglima TNI adalah pejabat senior utama, yang sangat bertanggungjawab terhadap sistem keamanan nasional, sehingga gesekan sesedikitpun akan membuat pemerintahan menjadi tidak terjamin. Ryacudu sendiri bukan pejabat yang tidak memadai untuk posisi Panglima TNI, bahkan saya berani menempatkannya sebagai calon pada urutan pertama saat ini. Mungkin penilaian yang serupa bagi SBY. Tetapi proses pengangkatannya yang seperti melanggar sopan-santun politik membuat berbagai pihak menjadi serba salah. Namun, apa hendak dikata, justru suasana rikuh inilah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu di DPR untuk membuat persoalan-persoalan yang bisa digunakan untuk menekan presiden. Faksi Koalisi Kebangsaan, yang saat ini mendapat darah segar dari PKB, yang mampu menempatkan diri sebagai anak yang pasti dimanja oleh Golkar dan PDIP, untuk sekaligus mendapat berbagai keuntungan politis (dan pasti juga yang lain), untuk berada di ujung terdepan guna menganggu kinerja pemerintah, yang konsentrasinya dicoba buyarkan dari rencana kerja 100 harinya itu. Antara lain dengan mempersoalkan kedudukan Ryacudu sebagai Panglima TNI. Dengan ulah para petualang politik PKB ini maka pihak Koalisi Kebangsaan sungguh tak perlu bercelemong kotor ditangannya dalam rangka menjalankan niatnya mengganggu kinerja pemerintahan SBY. Tugas tersebut sudah bisa dijalankan dengan baik oleh PKB, yang sedang mabuk karena berbagai sepak terjang mereka ternyata membuahkan banyak hasil. Jelas saja, sebab sasaran-sasaran yang menjadi target PKB toh sebangun benar dengan grand design dari Golkar dan PDIP. Hanya bermodal dukungan suara, dua tiga target terlampaui, hanya berbekal sekali dayung dalam bentuk mengiyakan rencana-rencana PKB. Bagi Koalisi Kebangsaan, apa yang dilakukan PKB kali ini dapat digunakan untuk menyembunyikan dan membersihkan diri, agar seolah-olah bukan mereka benar yang melakukan serangkaian pekerjaan kotor yang membuahkan berbagai kemelut politik akhir-akhir ini. Dengan enteng mereka akan bilang, bahwa bukan mereka yang menajdi penyebab. Contohnya seperti soal komisip-komisi DPR akhir-akhir ini. Di MetroTV si Panda Nababan dengan santai bilang, bahwa penyebab kemelut itu adalah PKB dan PAN, yang dapat mementahkan tudingan lima fraksi Koalisi Kerakyatan yang gencar menuding Koalisi Kebangsaan. Kembali ke soal Ryacudu, ulah Effendi Choirie yang getol menyebut Ryacudu sebagai sidah Panglima TNI, bahkan ada rencana melakukan audiensi minggu depan, saya melihatnya dengan sudut pandang lain. Ryacudu disebut-sebut sebagai yang mengerahkan sejumlah panser, bahkan disebut pula telah mengarahkan moncong meriam ke istana saat Gus Dur dipaksa mundur kemarin. Bahkan berdasarkan analisis yang beredar, niat Gus Dur untuk memaklumkan keadaan darurat menjadi gagal, adalah karena tidak adanya dukungan dari TNI, yang antara lain dapat diartikan dengan pengerahan panser tersebut. Berdasarkan hal tersebut, saya berani menilai, bahwa ada unsur kekecewaaan PKB terhadap Ryacudu tersebut. Namun mengapa kini malah mereka justru berkoar-koar menyatakan kalau Ryacudu sudah Panglima TNI? Bahkan ada rencana audiensi segala? Sekali ini, target PKB adalah membuat Ryacudu mati langkah. Bukan membuat SBY kacau. Mengapa? Ryacudu, sebagai militer profesional, pasti akan tetap menempatkan dirinya berdasarkan posisinya saat ini, yaitu masih sebagai KSAD, dengan Panglima TNI-nya adalah Endriartono, seperti yang diputuskan oleh Presiden, sebagai Panglima Tertinggi TNI. Berani menyatakan berbeda dengan hal tersebut akan berarti sebagai sebuah pelanggaran disiplin serius. Kategorinya bisa makar dan pelanggaran disiplin berat. Salah ucap sedikit saja beresiko berat baginya. Namun jepitan DPR, yang berkeras, bahkan menafikan surat pembatalan yang sudah disampaikan sebelumnya, dan meskipun presiden SBY sendiri sudah ada isyarat untuk mengangkat Ryacudu sebagai Panglima TNI, akan membuat Ryacudu mati langkah. Jika yang bersangkutan menerima audiensi DPR, maka karir militernya akan habis. Namun jika ia menolak, mala penolakannya tersebut akan digunakan DPR untuk menolak pencalonannya kelak. Berdasarkan UU yang sangat aneh, penolakan oleh DPR tentu tak mampu membuat SBY berkeras mengangkatnya sebagai Panglima TNI. Ryacudu tampaknya sedang jadi bulan-bulanan, kali ini. Bukan SBY atau siapa-siapa. Dasar, partai kerok biang !! Gigih Nusantara ===== Mampir untuk ketawa ala Suroboyoan di http://matpithi.freewebsitehosting.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
