ASWATAMA

TIGA pengendara kuda bergegas menjauh dari danau besar yang muram itu, tiga
laki-laki yang tak lagi ingin bicara. Mereka tak menyaksikan sesuatu yang
tak akan dengan mudah ditanggungkan siapa pun, kecuali oleh Waktu. Perang
selesai, sanak saudara punah terbunuh, tentara kalah, kekuasaan hilang.
Dan pada klimaksnya, di tepi Danau Dwipayana yang tak dihuni, mereka melihat
raja mereka, dengan tubuh setengah hancur, tergolek, sendiri. Duryudhana.
Kesatria yang sulit dikalahkan, telah berkalang tanah, dibalut debu,
bersimbah darah. Bima telah menghancurkan pahanya dengan bengis,
melumpuhkannya - dan para Pandawa telah meninggalkannya telantar....
Hanya tinggal satu perasaan yang membuat ketiga pengendara kuda itu bergerak
: rasa sedih. Berpacu, mereka melintasi sisa utara Kurusetra, menembus
hutan, menggunakan kembali jalan yang bekas ditempuh pasukan, dan akhirnya
berhenti di sebuah bukit lebat. Dari sana, mereka bisa melihat ke bawah - ke
perkemahan pasukan Pandawa dan sekutunya, orang-orang Pancala.
Aswatama yang mulai bicara. "Aku akan mengumpulkan sisa-sisa pasukan inti
yang bersembunyi di jalan menuju Dwaraka - dan malam ini kita akan menyerbu
masuk. Membinasakan mereka waktu tidur."
Kripa dan Kartamarma hanya diam.
"Tuan-tuan setuju?" Aswatama bertanya.
"Sebaiknya kita tidur dulu", jawab Kripa. "Kemarahan menguasai kita kini.
Besok pagi aku akan menyertaimu berperang. "Suaranya suara seorang yang
lebih tua: hati-hati, bijaksana, capek.
Aswatama memandangi mereka sebentar dengan matanya yang tajam dan merah - ia
dari tadi seperti menahan tangis - lalu, serasa menyadari sesuatu, ia pun
mengusap rambutnya yang panjang ke bahu. Pandangnya kini ke kaki bukit,
suaranya seperti berguman, "Aku tahu, Tuan-tuan tak akan menyetujui
rencanaku. Tapi katakanlah bila ada rencana lain.".
"Aswatama, menjelang ajalnya, Duryudhana telah meminta kendi dan air untuk
menasbihkan- mu sebagai panglima perang Kurawa - dan kaulah panglima kami.
Tapi kesatria tak patut membunuh kesatria lain dalam keadaan tidur, tak
bersenjata".
Antara kaget, tak percaya dan kecewa, Aswatama terbeliak mendengar kata-kata
Kripa. Keletihankah yang membuat ia bicara demikian? Bermimpi semuakah
mereka - dan tak bangun dari pengalaman yang begitu dahsyat? Kripa, Kripa
yang bijaksana. Kripa yang fasih di tengah percakapan balairung. Tak tahukah
ia apa yang dihadapinya kini, setelah kehancuran dan kematian? "Aku mengerti
kau heran mendengar jawabanku, Aswatama. Tapi kau, putra Guru Durna, tentu
tahu apa yang diajarkan..."
Tiba-tiba Aswatama meloncat. Ia berkacak pinggang, menatap kedua kesatria
itu, dan mukanya yang berkeringat makin mirip tembaga, dan suaranya gemetar
: "Kau...." Ia tak menyelesaikan kata itu. Dengan cepat ia berbalik,
berjalan ke celah yang menyebabkan sinar matahari senja menyusup seperti
cahaya pada kelambu. Langkahnya gugup - seakan menghindarkan satu benturan
emosi dengan malam yang mendekat.
Hanya suaranya kini yang terdengar menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari
benturan itu, "Tuan-tuan, para kesatria, hendak mengingatkan aku, seorang
anak pendeta, tentang mana yang baik mana yang keji. Tapi musuh telah menipu
ayahku, mengabarkan bahwa aku, anaknya, harapannya, telah terbunuh. Ayah
putus asa, melepaskan senjata - dan Drestajumena menebas batang lehernya.
Siapakah yang terbunuh oleh pengecut itu, selain seorang yang tak ingin lagi
berperang ? Tuan katakan seorang kesatria tak boleh membinasakan kesatria
lain yang tak siap. Tak berlakukah aturan itu buat Durna, hanya lantaran ia
seorang brahmana ?".
"Bukan demikian, Aswatama. Tapi haruskah kita - haruskah kau - juga
merendahkan budi dan meniru perbuatan pengecut ?"
"Seandainya aku hidup besok, seandainya ada kesempatanku, aku ingin bertanya
seperti itu pada Kreshna. Ia akan memberiku dalih. Ia konon bisa menyatakan
suci apa yang semula dianggap tak suci, dia bisa membebaskan kita dari sesal
justa dan pembunuhan. Hanya dia melakukan semua itu bagi para Pandawa. Kita
tak puya Kreshna, Kripa, ah, kita tak punya apa-apa kini. Agama dan petuah
telah mengajariku banyak hal, tapi kematian di Kurusetra mengajariku, agama
bukanlah segalanya. Aku mencium bau hutan menjelang malam. Aku tak tahu apa
saja yang dikandungnya...".
Kripa diam, sadar: Aswatama telah memutuskan. Juga Kartamarma, yang dari
tadi membisu dan bersandar di dekat kudanya. Laki-laki pucat tampan dari
Istana Kuru itu juga tak punya pilihan. Memang banyak hal, Kripa, telah
hancur di Kurusetra, lebih murung dari kematian Bhisma. Tiga generasi mati -
juga harapan tentang kemuliaan dan keluhuran budi, juga sekadar kejelasan
tentang apa yang benar dan tak benar.
"Bayang-bayang," Kripa berbisik.

14 Februari 1987

Gunawan Mohammad
"Catatan Pinggir"

----------------------------------------------------------------------------------
Bila Anda menyukai milis ini, mohon berkenan merekomendasikannya ke
rekan-rekan Anda.
        
Untuk bergabung:  [EMAIL PROTECTED]     
Untuk posting  :  [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------------------- 













------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke