Dalam menyikapi sesuatu, kita cenderung berperilaku berdasarkan prasangka (persepsi) 
kita terhadap sesuatu itu. Padahal tidak selamanya prasangka itu memandu kita bersikap 
benar. Daripada terperangkap, mengapa tidak mengembangkan prinsip zero base dalam 
pergaulan? 

Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah sebagian besar dari 
prasangka. Karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa." Namun dalam realita 
interaksi sosial, tak jarang kita mengembangkan prasangka pada seseorang. Adakalanya 
prasangka positif (baik sangka), tapi kebanyakan adalah prasangka negatif (buruk 
sangka) yang menyebabkan jatuhnya korban. 
Sebagai contoh, seorang pegawai baru di sebuah perusahaan bisa merasa tidak nyaman dan 
kurang diterima karena beredar kabar -entah darimana- ia masuk lewat jalur belakang. 
Seorang penghuni baru di sebuah kompleks perumahan bisa merasa tidak betah karena 
sebelumnya berkembang kabar bahwa pemilik rumah adalah orang yang suka menipu dan 
memiliki hutang banyak. Atau seseorang diangap jutek dan menyebalkan karena kurang 
senyum atau kurang perhatian. 
Prasangka yang tidak berdasar ini selain merugikan korbannya, tentu saja dapat membawa 
kerugian pada para penyangkanya. Secara moril, kita telah terlibat dalam 
persekongkolan membentuk sikap negatif yang membuat seseorang merasa tidak nyaman 
dalam berinteraksi. Secara materi, bisa saja kita menderita kerugian karena kehilangan 
kesempatan memperoleh manfaat dari berinteraksi dengannya. Sebab, seseorang yang pada 
dirinya telah muncul buruk sangka pada seseorang cenderung membangun benteng bukan 
jembatan komunikasi dengan orang diburuksangkainya itu. Padahal terentangnya jembatan 
komunikasilah yang memungkinkan sebuah interaksi sosial dapat saling memberi manfaat. 
Melihat kerugian yang bakal muncul, sudah saatnya kita membangun budaya 'persepsi nol' 
dalam berinteraksi dengan orang lain. A. Riawan Amin, dalam bukunya The Celestial 
Management menyebutnya sebagai sikap zero base (mulai dari titik nol). 
Makna zero base
Dalam buku yang menuturkan pengalamannya membangun budaya perusahaan, CEO Bank 
Muamalat Indonesia ini menuliskan prinsip zero base sebagai cara pandang atau sikap 
mental seseorang yang bersih, objektif, apa adanya, tidak ditambah dan tidak dikurangi 
menyangkut pekerjaan dan lingkungannya. Seseorang dengan sikap mental seperti ini akan 
memiliki kejernihan hati dan pikiran dalam menghadapi lawan interaksinya. 
Menurut A. Riawan Amin, setidaknya ada empat pemaknaan sikap zero base. Pertama; tidak 
percaya diri, tidak rendah diri, tapi percaya Allah. Kedua; tidak terikat pada masa 
lalu, tidak terobsesi pada masa depan. Ketiga; tidak menambah, tidak mengurangi, tapi 
apa adanya. Keempat; tidak kufur saat miskin, tidak sombong saat kaya. 
Dengan kata lain, Riawan ingin menjelaskan bahwa seseorang dengan sikap zero base 
memiliki ruang yang lebih luas dan terbuka terhadap segala persoalan yang dihadapinya. 
Dengan cara pandang zero base segala sesuatunya -tentu saja selama dalam koridor 
kemampuan manusia- menjadi mungkin. Lebih jauh, dia menukilkan konsep Zero mind dalam 
tuturan Frank LekanneDefrez & Rene Tissen, penulis buku Zero Space, sebagai berikut: 
Saya berkeliling dan bertanya, "Apakah zero sebuah angka?" Seseorang menjawab: "Ya, 
zero adalah sebuah angka." 
"Bila zero adalah sebuah angka, sela saya, maka Anda dapat melakukan segalanya. Mari 
kita lihat perhitungan ini: 9 X 0 = 0, maka 9 = 0/0. Jika Anda katakan zero adalah 
sebuah angka, maka 0/0 = 1. Jadi, 9=0/0=1 dan 9 = 1." 
Kemudian ia menjawab, "Ah, zero bukan sebuah angka. Ini tidak mungkin. 0/0 = 1 adalah 
tidak mungkin." 
"OK, tidak mungkin tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan 9 x 0 = 0. Ini berarti 9 = 0/0 
dan 10.000 x 0 = 0, maka 10.000 = 0/0. Maka 0/0 = 10.000 dan 0/0 = 9, jadi 9 = 
10.000?" 
"Cara pandang zero dapat melakukan segalanya. Jika Anda mengatakan zero adalah sebuah 
angka, tidak mengapa. Jika Anda berkata zero bukan sebuah angka, itu juga OK. Zero 
adalah segalanya dan segalanya adalah zero. Ini adalah matematika Zen. Karenanya, cara 
pandang zero menjadi sangat menarik. Jika Anda menjaga cara pandang zero, Anda akan 
dapat melakukan segalanya." 
Mengadopsi konsep di atas, maka seseorang dengan cara pandang zero akan bertindak, 
berpikir, membuat pilihan dan memberikan respon dengan mengembalikan segalanya pada 
akar, pada dasar permasalahan, tulis A. Riawan. Jika seseorang memulai sesuatu dengan 
menempatkan diri pada titik nol maka tanggapan panca inderanya menjadi jernih dan 
segala sesuatunya menjadi mungkin. 
Implementasi Zero Base dalam insos Cara pandang seperti ini akan memandu kita untuk 
berpikir terbuka dalam menghadapi segala sesuatu. Kita akan berpikir bahwa selalu ada 
jalan untuk setiap kesulitan, masalah atau problem yang dihadapi. Bukankah tidak ada 
istilah buntu untuk mereka yang meyakini inna ma'al u'usri yusroh? Sebab, persoalannya 
bukan pada kenapa sesuatu (takdir) itu terjadi, tapi bagaimana menghadapi takdir 
tersebut dengan lebih 'nyeni'. Jadi, bukan soal seseorang memiliki kekurangan, tapi 
bagaimana mengubah atau meminimalisir kekurangan menjadi sesuatu yang membawa manfaat 
untuk diri dan lingkungan. 
Dalam praktik insos (interaksi social), cara pandang zero base ini akan memberi 
beberapa benefit, diantaranya: 
1.Memandang manusia sebagai individu yang dinamis
Manusia adalah makhluk dinamis yang bisa belajar dari kesalahan untuk kemudian 
memperbaiki kesalahan. Karena itu, dalam menilai seseorang, kita tidak boleh terjebak 
hanya pada jejak rekam masa lalunya. Setiap manusia boleh memiliki kesalahan masa 
lalu, tapi tidak boleh terjebak dalam kesalahannya. Prinsip ini membuat kita bisa 
memaafkan dan memaklumi kesalahan seseorang selama yang bersangkutan sungguh-sungguh 
memenuhi syarat bertaubat. 
2. Terbebas dari prasangka
Memulai insos dengan prasangka akan membelenggu pikiran kita dengan sejumlah persepsi 
tentang seseorang yang belum tentu benar. Terlalu berprasangka baik -tanda data dan 
informasi akurat- dapat menjebak kita pada sifat lalai dan ghurur (terpedaya). 
Sebaliknya, prasangka buruk pun akan membelenggu kita dengan ketakutan dan 
kekhawatiran yang tidak berdasar. 
3. Menilai apa adanya
Penilaian kita terhadap baik buruknya seseorang bukan didasarkan pada prasangka tapi 
berdasarkan apa yang kita lihat, kita ketahui dan kita alami saat berinteraksi. Apa 
adanya dan objektif. Dalam konsep Rasulullah, seseorang dikatakan saling mengenal 
dengan baik jika telah shalat berjama'ah, bermalam di rumahnya atau melakukan 
perjalanan bersama. 
4. Berani mengambil sikap
Dengan cara pandang zero, kita tidak takut untuk mengambil sikap terhadap seseorang. 
Pembelaan atau penolakan, berpihak atau memusuhi bukan didasarkan pada apa kata orang 
kebanyakan, tapi berdasarkan cara pandang kita yang jernih dan bersih. Jika benar, 
kita akan berdiri membelanya meski sejuta orang menghadang. Jika ia salah, kita pun 
tidak takut untuk menghadapinya meski sendirian. "Dan kebanyakan mereka tidak 
mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun 
berguna untuk mencapai kebenaran" (Yunus:36) 
5. Berpegang pada standar ilahiyah
Cara pandang zero pada dasarnya cara pandang dengan standar langit. Seseorang diukur 
dan dinilai bukan berdasarkan keturunannya, hartanya, kedudukannya atau jabatannya 
tapi berdasarkan kadar relasitasnya dengan Allah swt. Bukankah orang yang paling mulia 
disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa? 
6. Mengosongkan diri dari tujuan kotor 
"Dan kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling 
mengenal..." (Al Hujurat:13). Tujuan berinteraksi adalah untuk saling mengenal, saling 
memahami, dan saling bekerjasama guna mencapai tujuan suci. Dengan capa pandang ini 
kita akan mengosongkan hati dan pikiran dari tujuan menyakiti, merusak, 
memanfaatkannya atau tujuan kotor lainnya. (DSW) 


                        
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Check out the new Yahoo! Front Page.  www.yahoo.com/a

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke