Tulis orang ini: 

    "To justpig alias batagur" 

    Saya toh tidak perlu komentar... 

    Betapa dungunya orang Islam itu bukan? 


On 21 Dec 2004, at 6:15, Alhamdulillah agamaku paling benar wrote:

> To justpig alias batagur:
> -------------------------
> 
> 
> 
> Message 63457
> From:  batara guru <[EMAIL PROTECTED]>
> Date:  Thu Dec 9, 2004  7:30 pm
> Subject:  [islamkristen] KEBIADABAN KRISTEN TERHADAP ISLAM [20 CONTOH]
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Alhamdulillah agamaku paling benar" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, December 08, 2004 10:28 AM
> Subject: [islamkristen] KEBIADABAN KRISTEN TERHADAP ISLAM [20 CONTOH]
> 
> >=================================
> >KEBIADABAN KRISTEN TERHADAP ISLAM
> >=================================
> >
> >1. Tahun 614 (8 H). Utusan Nabi Muhammad, Al-Harits ibu Umair al-Azady, 
> >yang membawa surat untuk pemimpin Bushro, dihadang dan diculik untuk 
> >selanjutnya dipenggal lehernya oleh pegawai Romawi atas perintah Kaisar 
> >Romawi, Heraklius. Padahal, membunuh duta merupakan kejahatan yang amat 
> >keji dan sama halnya dengan mengumumkan perang. Akibat kebiadaban kaisar 
> >Kristen ini timbullah perang Mut'ah dan perang Tabuk antara umat Islam 
> >melawan Kristen Romawi. Inilah konflik pertama kali antara umat Islam 
> >dengan orang Kristen. Dan seperti yang terpampang dalam sejarah, Kristen 
> >lah yang lebih dulu membunuhi umat Islam.
> 
> [justpig/batagur]:
> hijrah itu thn 622, bukan?
> 
> forza ini membualnya bodoh sekali
> 
> Forza:
> Keidiotan anda benar-benar mencengangkan, pantas saja anda dikutuk Allah 
> memiliki tampang seperti BOL KUCING begitu. Anda TIDAK MAMPU membantah 
> kebenaran fakta-fakta yang saya lemparkan, sehingga anda cuma bisa mencari 
> KESALAHAN KETIK dari sedemikian banyaknya posting saya. Suatu hal yang 
> sungguh ironis, karena kalau mau mencari kesalahan ketik yang anda lakukan, 
> jumlahnya sangat jauh lebih banyak. Menulis Hasanuddin saja anda pernah 
> KUMAT IDIOTNYA sehinhgga menjadi "Hasaniddiri", Katolik anda tulis menjadi 
> "Katolok" dsb. Makanya buang tuch kacamata rabun yang bikin ketololan ente 
> semakin jadi bahan tertawaan milist ini. Apes banget dech nasib ente, udah 
> kafir, jelek banget mukanya kayak taik, dogol berat lagi! (^_^)
> 
> Dalam peristiwa diatas terjadinya adalah pada tahun 8 Hijriah, hitung 
> sendiri itu tahun berapa dalam perhitungan Masehi, perhitungan tahun Hindhu 
> dsb, biar otak ente diajak kerja dikit biar nggak cepet kena stroke. Duch 
> ente ini udah jelek goblog banget sich!?! (^_^).
> 
> 
> � Forza Islam 2004
> 
> 
> 
> 
> ============= ARSIP =============
> 
> 
> ============================
> STANDAR GANDA TERHADAP ISLAM
> ============================
> 
> 
> Berikut ini sedikit ulasan mengenai perlakuan standar ganda yang dilakukan 
> oleh pers-pers barat -yang didominasi Kristen dan Yahudi- terhadap Islam. Di 
> kutip oleh Forza Islam dari sebuah sumber.
> 
> Aksi-aksi teroris oleh orang Kristen tidak pernah ditonjolkan 
> kekristenannya, berbeda ketika yang melakukan aksi adalah umat Islam, sangat 
> ditonjol-tonjolkan bahwa pelakunya adalah umat Islam dan ditambah dengan 
> segala opini menyesatkan lainnya.
> 
> Dalam kasus pemberitaan aksi kekerasan kelompok IRA (Tentara Republik 
> Irlandia/Irish Republican Army's) yang melakukan pemboman di tengah kota 
> London. Dalam siaran pers di Gedung Putih, Amerika Serikat pada hari Jum'at, 
> 15 Maret 1996, sekretaris pers Mike McCurry, bahkan secara tegas menolak 
> penyamaan kasus pemboman yang dilakukan IRA ini dengan yang dilakukan 
> kelompok Hamas di Palestina. Ia menyebut pensejajaran kedua aksi kekerasan 
> itu seperti membandingkan buah apel dan jeruk.
> 
> Dengan kata lain, kelompok Hamas pantas mendapatkan label "Islamic 
> Terrorist," sedangkan teror kelompok IRA tidak bisa disebut sebagai 
> "Catholic Terrorist," walaupun secara umum diketahui aksi-aksi teror 
> kelompok IRA itu sangat terkait dengan ketidak-puasan kelompok Katolik 
> Irlandia atas dominasi pemerintah Protestan Inggris. Dan korban-korban aksi 
> teror gerilyawan IRA juga lebih banyak dari yang dilakukan oleh Hamas. 
> McCurry mengatakan tanpa memberi keterangan lebih jauh: "The history is 
> different, the nature of the conflict is [also] different."
> 
> Dari contoh-contoh ini, jelas media Barat pemberlakukan standard ganda dalam 
> meliput kasus-kasus kekerasan. Label-label "Christian Terrorist" atau 
> "Catholic Extremist" dan sejenisnya hampir tak pernah terdengar. Sebaliknya, 
> kata "Islamic Terrorist" hampir tak terlupa disebut bila aksi kekerasan itu 
> kebetulan dilakukan oleh kelompok-kelompok yang beragama Islam. Sikap ini 
> jelas dapat menjadi indikasi bahwa pers Barat menyadari akan perlunya 
> menghindari terjadinya stigmatisasi di kalangannya sendiri, dan sebaliknya 
> secara sengaja menyebarkan stigma untuk masyarakat Islam secara umum. 
> Pertanyaanpun muncul, mengapa cara-cara pemberitaan semacam ini terus 
> berlangsung dan semakin terasa gencar?
> 
> Banyak analis sosial yang jujur di kalangan Barat sendiri sebenarnya telah 
> melakukan kritik pedas terhadap kecenderungan yang tidak adil ini. Misalnya, 
> Karen Amstrong, seorang intelektual wanita (bekas biarawati Katolik Roma 
> selama tujuh tahun), mengatakan bahwa kecenderungan media Barat yang terus 
> menerus bersikap curiga dan memberlakukan Islam sebagai musuh (enemy), 
> berakar pada sejarah panjang. Menurutnya, peradaban Islam yang pada masa 
> awal tumbuh secara pesat dan meluas kekuasaan politiknya hingga memasuki 
> pintu gerbang Eropa di zaman kekuasaan Ottoman Turki, telah menimbulkan rasa 
> cemas yang sulit dihilangkan.
> 
> Bahkan setelah Eropa berhasil bangkit dari masa kegelapan dan dapat 
> mengembangkan peradaban maju, rasa cemas itu terus tumbuh. Terlebih lagi 
> peristiwa Perang Salib yang pernah terjadi, tampak meninggalkan trauma 
> psikologis yang dalam, yang terus terbawa hingga kini. Akibatnya, menurut 
> Karen Amstrong, distorsi terus menerus terjadi dalam penggambaran Islam. 
> Tokoh-tokoh Islam digambarkan sebagai pribadi-pribadi yang sangat kejam. 
> Nama "Mohamet " (Nabi Muhammad), menjadi momok menakutkan, yang namanya 
> disebut para ibu saat menakut-nakuti anaknya yang nakal (lihat Karen 
> Amstrong. 1992. Muhammad: Biography of the Prophet).
> 
> Hingga kini, bayangan Islam sebagai musuh (enemy image) tampak terus 
> terpupuk subur. Bahkan berbagai stereotype buruk secara masal diproduksi 
> lebih intensif akibat meluasnya jangkauan media: dari bentuk film, rekaman 
> pidato para tokoh politik, hingga novel dan tulisan-tulisan jurnalistik yang 
> tercetak setiap hari. Cara pemberitaan media Barat (yang tidak jarang, juga 
> diikuti media Islam sendiri), secara rutin menyajikan berita negatif tentang 
> Islam.
> 
> Karen Amstrong memberi contoh betapa pers Barat membesar-besarkan fatwa 
> hukuman mati Imam Khomeni terhadap novelis Salman Rushdi, dan sebaliknya 
> mengabaikan berita-berita sisi lain seperti hasil Konferensi Islam (Maret 
> 1989) yang secara hampir bulat (44 di banding 45) menolak fatwa hukum mati 
> Imam Khomeini.
> 
> Selain Karen Amstrong, kritik tajam terhadap cara pemberitaan media Barat 
> dilakukan oleh Edward W. Said (1981). Ia mensinyalir bahwa media Barat, 
> khususnya Amerika, telah menempatkan "Islam" sebagai bulan-bulanan berita, 
> yang tidak saja diolah secara menyesatkan, tetapi juga tidak jarang 
> didasarkan rasa kebencian kultural dan rasial. "Islam" dilihat media Amerika 
> sebagai anti-Barat yang menghambat perkembangan ekonomi, mengidap kultur 
> rendah, dan dicurigai sebagai sumber kefanatikan agamis yang berbahaya.
> 
> Dalam era globalisasi yang melanda akhir abad ini, reproduksi "enemy image" 
> menjadi semakin efektif dan dilakukan dengan cara-cara penyampaian yang 
> beragam. Jurgen Link (1991), misalnya, menganalisa bagaimana pengekstriman 
> keburukan para tokoh seperti Imam Khomeini, Saddam Hussein dan Khadafi, 
> muncul pada gambar-gambar kartun di media Barat. Para kartunis seperti 
> serentak menggambarkan "Islam" sebagai makhluk yang menakutkan, yang 
> terwakili dalam gambaran karakter fanatik (unpredictable fanatic), atau 
> perilaku irrasional yang siap ber-"jihad" melakukan teror terhadap 
> kestabilan sosial. Sifat buruk semacam itu dilekatkan pada penggambaran 
> tokoh-tokoh seperti Imam Khomeini, Saddam Hussein dan Khadafi.
> 
> Jurgen Link mensinyalir, akibat penggambaran semacam ini, yang setiap hari 
> dihidangkan di ruang keluarga, berhasil membentuk suasana mencekam (a life 
> threatening situation), yang serta-merta menuntut perlunya penanganan 
> segera. Akibatnya, bisa kita duga, bila terjadi keretakan hubungan antara 
> negara Barat dan Islam, masyarakat Barat akan cenderung dengan mudah 
> menerima segala bentuk tindakan yang dilakukan pemerintahnya (yang tidak 
> adil sekalipun) untuk menghukum negara Islam yang dianggap menjadi ancaman 
> itu.
> 
> Hal ini menjelaskan mengapa masyarakat Barat tidak terlalu perduli terhadap 
> pemberlakuan sanksi ekonomi terhadap Irak, atau bahkan bersorak saat Reagan 
> memerintahkan pemboman terhadap Khadafi yang menewaskan anaknya itu, 
> sekalipun jelas difahami bahwa aksi itu merupakan tindakan yang melanggar 
> hukum internasional.
> 
> Mnurut Prof. Noam Chomsky dan Edward S. Herman, dunia seringkali mengabaikan 
> adanya 'terorisme negara' (state terrorism), yang dampaknya kepada umat 
> manusia sangat besar.
> 
> Edward S. Herman, guru besar di Universitas Pennslyvania, dalam bukunya The 
> Real Terror Network (1982), mengungkap fakta-fakta keganjilan kebijakan 
> antiterorisme AS. AS selama ini merupakan pendukung rezim-rezim "teroris" 
> Garcia di Guatemala, Pinoche di Chili, dan rezim apartheit di Afsel. Di 
> tahun 1970-an, AS memasukkan PLO, Red Brigades, Cuba, Libya, sebagai 
> teroris. Tetapi, rezim Afsel dan sekutu-sekutu AS di Amerika Latin tidak 
> masuk dalam daftar teroris. Padahal, pada 4 Mei 1978, tentara Afsel membunuh 
> lebih dari 600 penduduk di Kamp pengungsi Kassinga Namibia. Sebagian besar 
> adalah wanita dan anak-anak.
> 
> Para pemimpin negara Muslim dan tokoh-tokoh umat Islam, kini perlu berpikir 
> serius untuk memikirkan masa depan umat dan dunia internasional. Bahwa, 
> tampaknya, dunia semakin kencang menuruti sebuah scenario yang disusun kaum 
> garis keras di AS yang menginginkan terjadinya 'clash of civilization'. 
> Koran The New York Times pernah menerbitkan bocoran aktivitas komplotan yang 
> dikenal sebagai 'Wolfowitz Cabal' pada 12 Oktober 2001.
> 
> Pada saat itu, komplotan ini menginginkan agar segera dilakukan perang 
> terhadap Irak, menyusul serangan AS ke Afghanistan. Perang itulah yang 
> mereka harapkan akan menyeret AS ke kancah perang global yang mereka 
> inginkan. Michele Steinberg mencatat: "But Iraq is just another stepping 
> stone to turning the anti-terrorist 'war' into a full-blown 'clash of 
> civilizations', where the Islamic religion would become the enemy image in a 
> New Cold War".
> 
> Michele Steinberg menulis analisisnya itu pada 26 Oktober 2001. Tulisan itu 
> ia beri judul: 'Wolfowitz Cabal' Is an Enemy Within U.S. dan dimuat di 
> Executive Intelligence Review. Teori "Clash of Civilization", menurut 
> Steinberg, adalah teori yang dikembangkan oleh Profesor Harvard University 
> yang menjadi penasehat keamanan Presiden Carter, yaitu Zbigniew Brzezinski 
> dan sejumlah anak didiknya, termasuk Samuel P. Huntington. Brzezinski 
> bermaksud menggunakan "kartu Islam" untuk melawan Uni Soviet, dan setelah 
> itu memposisikan Islam fundamentalis untuk behadapan dengan Islam moderat 
> serta pemerintahan Arab/dunia Islam yang pro-Barat.
> 
> Pada 12 Oktober 2001, New York Times mengungkap perpecahan yang serius di 
> dalam tubuh pemerintahan Bush. "Cabal" ingin melenyapkan Irak, menempatkan 
> Presiden Palestina Yasser Arafat dan Pemerintahan Otonomi Palestina dalam 
> daftar teroris, dan mengumumkan perang terhadap sejumlah negara. Majalah 
> Times pernah mengungkapkan, pada 22 September 2001, Presiden Bush menolak 
> rekomendasi "cabal" untuk menyerang Irak. Tapi, menurut Steinberg, "cabal" 
> mampu merancang operasi "negara dalam negara" sebagaimana pernah terjadi 
> dalam kasus "Iran-Contra".
> 
> Apalagi, "cabal" menempatkan tokoh-tokoh penting dalam jajaran pengambilan 
> kebijakan pertahanan AS, seperti ketua Defence Policy Board, Richard Perle. 
> Tokoh ini telah bekerjasama dengan Wolfowitz selama lebih dari dua dekade 
> sebagai "agents of influence" dari faksi sayap kanan Israel. Wolfowitz dan 
> Perle pernah disebut-sebut termasuk daftar "X Committee" yang diduga terkait 
> dengan operasi Jonathan Jay Pollard, yang pada tahun 1985 ditangkap karena 
> melakukan pekerjaan mata-mata bagi Israel.
> 
> Jadi, "Wolfowitz cabal" ditengarai tengah mendorong AS agar mengikuti 
> kebijakan "sayap kanan Israel" yang sangat berbahaya, termasuk kemungkinan 
> serangan nuklir Israel ke negara-negara Arab.
> 
> Analisis Steinberg ini menarik, karena sejumlah diantaranya sudah terbukti. 
> Misalnya, serangan AS terhadap Irak, yang semula ditolak Presiden Bush, 
> akhirnya toh terjadi juga. Kini, kata-kata Steinberg lain perlu direnungkan, 
> bahwa: "But Iraq is just another stepping stone to turning the 
> anti-terrorist 'war' into a full-blown 'clash of civilizations', where the 
> Islamic religion would become the enemy image in a New Cold War".
> 
> Jika dianalisis secara histories, rekayasa ini sangat masuk akal dilakukan 
> kalangan fundamentalis Kristen dan Yahudi, untuk tetap menempatkan Islam 
> sebagai musuh bersama mereka. Mengapa? Sebab, mereka tidak ingin jarum 
> sejarah berputar kembali, ketika Islam bersama dengan Yahudi berhadapan 
> dengan Kristen Barat.
> 
> Kita perlu ingat, bahwa sejarah hubungan Yahudi-Kristen adalah sejarah yang 
> berlumuran darah. Menjelang Perang Salib pertama, 1096, misalnya, tokoh 
> Kristen Prancis Godfrey Bouillon bersumpah: "the blood of Christ would be 
> avenged by the blood of Jews." (Darah Kristus harus dibalas dengan darah 
> orang-orang Yahudi.)"
> 
> Sejarah Eropa, sejak awal pertumbuhan Kristen tahun 300-an sampai abad ke-20 
> adalah sejarah yang berlumuran dengan darah Yahudi. Maka, ketika Perang 
> Salib I, tentara Kristen membunuh sekitar 60.000-100.000 penduduk Jerusalem, 
> terutama Muslim dan Yahudi. Baik laki-laki, wanita, anak-anak, maupun orang 
> tua, semua dibantai tanpa pandang bulu. Kaum Yahudi yang ditindas dan 
> dibantai di Eropa kemudian mendapatkan perlindungan dari para penguasa 
> Muslim. Bahkan mereka hidup aman dan damai di negeri-negeri Muslim. Sejak 
> munculnya Gerakan Zionis, pada akhir abad ke-19, peta hubungan segitiga 
> Muslim-Yahudi-Kristen menjadi berubah. Kaum Zionis lebih suka bersekutu 
> dengan pihak yang justru menindas mereka.
> 
> Apakah prediksi yang akan terjadi dalam masa peralihan abad ini? Banyak 
> analis sosial yang telah menyebut bahwa penutupan abad ke-20 ini ditandai 
> dengan munculnya pertentangan peradaban Islam melawan Barat (clash of 
> civilization). Tumbangnya ideologi komunis disinyalir telah menempatkan 
> Islam sebagai satu-satunya peradaban yang siap menggugat dominasi Barat.
> 
> Oleh karena itu, sangat logis bila dalam tahun-tahun mendatang, Islam akan 
> semakin menjadi bulan-bulan kecurigaan dan permusuhan media Barat. Jargon 
> politik yang memberi gambaran buruk terhadap musuh-musuh Barat sebelumnya 
> seperti "Totalitarianism," "Authoritarianism," dan "Communism," akan 
> digantikan dengan meluasnya simantik baru yang bernada bermusuhan terhadap 
> Islam. Ungkapan sejenis "Islamic Terrorist" akan bermunculan lebih gencar.
> 
> Apa seharusnya sikap yang dilakukan dalam merespon situasi semacam ini? 
> Upaya meningkatkan kesadaran terhadap arus yang muncul ini dengan tanpa 
> perlu terpancing untuk ikut terlibat permainan simantik yang menyesatkan, 
> adalah sikap yang harus diutamakan. Bila penggunaan jargon "Islamic 
> Terrorist" sebagaimana disebarkan media Barat telah dapat kita rasakan 
> memberi stigma terhadap keseluruhan umat Islam (hingga kepada yang tidak 
> berdosa sekalipun), maka tidaklah sepantasnya kita membalas perlakuan 
> semacam itu dengan menggunakan permainan simantik sejenis seperti penggunaan 
> istilah "Christian Terrorist" atau "Catholic Extremist."
> 
> Peran media Islam adalah mendidik masyarakat luas agar tidak terjebak dalam 
> perangkap kebodohan dengan menyajikan label-label menyesatkan. Dalam surah 
> An-Nahl (16) ayat 125 disebutkan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu 
> dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang 
> baik..." Agaknya ayat ini dapat menjadi pegangan untuk menatap masa depan.
> 
> ============================
> 
> _________________________________________________________________
> FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
> http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/
> 
> 
> 
>  
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
>  
> 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke