http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004122801552119
Selasa, 28 Desember 2004
Bencana Tsunami dan Sistem Deteksi Dini
Jan Sopaheluwakan, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI
GEMPA tektonik disertai gelombang pasang (tsunami) yang terjadi Minggu
(21/12), telah meluluhlantakkan berbagai kawasan di Asia, termasuk Indonesia.
Ribuan orang menjadi korban dan disertai kerugian material yang tidak sedikit.
Dari sisi teknologi dan ilmu pengetahuan, masalah gempa maupun tsunami
sebenarnya telah menjadi bahan penelitian mendalam sejak lama. Terutama di
kawasan pinggir pantai yang sering menjadi korbannya.
Gempa kemarin, terjadi karena lempeng Samudra Hindia menumbuk ke bawah
Benua Asia Tenggara. Tepatnya di sepanjang daerah yang disebut zona
penghunjaman. Zona tersebut terletak tepat pada palung yang memanjang dari
sebelah barat Pulau Sumatra hingga terus ke selatan Jawa.
Di tempat pertemuan lempengan itulah gempa-gempa sering terjadi. Semakin
dekat ke arah samudra, palung semakin dangkal, karena menunjang ke bawah
lempeng, begitu juga sebaliknya.
Banyak kawasan di Tanah Air yang memiliki zona penghunjaman. Misalnya
saja sebelah barat Sumatra, sebelah selatan Jawa dan Bali, NTT, Timor lalu di
sekeliling utara Pulau Seram. Zona seperti itu juga terdapat di utara Papua
berupa hunjaman lempeng dari arah Samudra Pasifik, lalu di laut Sulawesi yang
menyebar ke arah timur dan menjepit Kepulauan Halmahera. Praktis kawasan
Kalimantan dan sekitarnyalah yang relatif bebas zona tersebut.
Gempa tersebut juga besar kemungkinannya diikuti gempa susulan. Namun,
para ahli gempa di dunia memang belum bisa menentukan secara tepat kapan sebuah
gempa utama dan gempa susulannya terjadi.
Karena merupakan hasil gesekan dari beberapa lempengan, gempa menimbulkan
suatu energi. Energi lantas terakumulasi dan dilepaskan dalam bentuk gempa.
Tetapi, lepasan gempa itu tidak sekali saja. Terjadinya berurutan. Tentu saja
kalau sudah mencapai puncaknya, yaitu gempa berenergi besar, maka gempa-gempa
berikutnya akan semakin kecil.
Begitu juga sebelum terjadi gempa utama ada yang disebut foreshock atau
gempa pendahuluan. Bentuk gempa pendahuluan atau foreshock itu sendiri dimulai
dari gempa kecil hingga yang besar. Makin lama makin besar dan akhirnya terjadi
gempa utama dan setelah itu disusul aftershock atau gempa susulan.
Jika misalnya suatu daerah mengalami gempa dengan kekuatan hingga 9 skala
Richter, maka perlu diwaspadai kekuatan gempa susulannya. Soalnya, skala
gempa-gempa susulan tadi bisa saja masih dalam skala besar seperti skala 8 atau
7.
Orang juga perlu memerhatikan perbedaan dan keterkaitan antara gempa dan
tsunami atau gelombang pasang akibat gempa. Jika titik pusat gempa (epicenter)
berada di laut, maka itu bisa menimbulkan tsunami atau gelombang besar. Namun,
jika adanya di darat maka gempa hanya menimbulkan guncangan.
Sebenarnya, gempa di laut pun bisa berakibat ke darat karena getarannya
terjadi bukan di lautnya tapi di bawah dasar laut. Jadi, getaran itu memang
diteruskan ke mana-mana, berupa guncangan dan pergerakan massa dasar laut yang
diikuti arus air cukup besar dan menimbulkan gelombang.
Faktor pengaruh
Terdapat sejumlah faktor yang membuat besar kecilnya pengaruh gempa
tektonik dasar laut terhadap kawasan sekitar. Misalnya kondisi oseanografi atau
kelautan di tempat tersebut serta kondisi dasar laut. Jadi, jika lautnya
sendiri cukup dalam maka gelombangnya lebih rendah. Namun, jika gempa terjadi
dekat daerah pantai yang landai, energinya yang keluar pun akan berubah menjadi
gelombang tinggi.
Bentuk rangkaian pesisir juga ikut memengaruhi. Apalagi kalau kemudian
pesisir tadi berbentuk teluk. Hasilnya, seperti terkumpul semua energi dan
menghasilkan gelombang yang lebih besar lagi.
Contoh, kawasan Meulaboh di Aceh memiliki pantai bertebing terjal
sehingga mungkin gelombang besar dari laut tidak menyebabkan akibat terlalu
serius. Berbeda dengan daerah lain yang lebih landai seperti di pesisir timur
atau di dekat Banda Aceh.
Efek getaran gempa tektonik kemarin memang besar. Dengan skala Richter di
atas 8, jarang sekali gempa yang bisa mencapai tingkat tersebut. Ini ada
kaitannya dengan catatan sejarah. LIPI selama ini melakukan penelitian berdasar
catatan sejarah, misalnya melihat usia terumbu karang. Ternyata ada terumbu
karang yang terangkat dari laut lalu terendam lagi akibat pergeseran lempeng
bumi.
Dalam penelitian LIPI di kepulauan Mentawai di dekat Sumatra selama 10
tahun terakhir misalnya, bisa disimpulkan tipe gempa serupa di gugus kepulauan
mengalami periode pengulangan setiap 200 tahun sekali.
Gempa besar di Mentawai sendiri terekam dari hasil penelitian terumbu
karang terjadinya pada 1833. Jadi gempa-gempa besar yang terjadi sepanjang
pesisir Mentawai hingga kepulauan Enggano bisa jadi mengalami periode
pengulangan sekitar 200 tahunan sekali. Kalau terjadi 1833, berarti kemungkinan
terulang lagi tahun 2033 untuk sekitar Mentawai.
Namun, LIPI memang belum mempunyai data untuk gugus kepulauan lain.
Termasuk untuk kawasan sepanjang Pulau Simeuleu dan daerah lain yang terkena
gempa tektonik kemarin. Soalnya pemasangan GPS baru dilakukan tahun depan.
Pengamatan
Para pakar gempa bumi sendiri telah mengembangkan teknologi yang saling
berkaitan untuk pemantauan gempa. Pertama-tama tentunya teknologi khusus
pemantauan gempa sendiri berupa pengamatan gerakan muka bumi dan daerah yang
berpotensi mengalami pergeseran lempengan. LIPI misalnya telah melakukan
penelitian pemantauan bersama tim California Institute of Technology berupa
pemasangan sejumlah alat Global Positioning System (GPS) yang mempunyai
kepekaan tinggi. Alat tersebut dapat mencatat getaran horizontal maupun
vertikal pada lempengan yang bergerak.
Teknologi kedua berupa pengukuran gelombang seismoelektrik atau gelombang
listrik yang terjadi menjelang dan sesudah gempa besar. Perlu diketahui, pada
saat gempa terjadi, terjadi perubahan medan listrik yang cukup signifikan
akibat regangan permukaan bumi.
Tim peneliti LIPI sudah menempatkan sejumlah sensor yang merekam
perubahan-perubahan medan listrik tersebut misalnya di kawasan Liwa (Lampung).
Hasilnya kemudian dihitung dan direkonstruksi untuk mengetahui apakah perubahan
gelombang listrik itu adalah pendahuluan dari sebuah gempa besar.
Cara pemantauan ketiga melalui penelitian perubahan suhu air tanah yang
berasal dari dasar bumi. Dapat pula melihat retakan tanah dan gas yang
dikeluarkannya. Namun, cara ini perlu menggunakan alat yang sangat teliti
seperti yang dimiliki Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).
Banyak metode lain yang masih bisa dilakukan dan digabungkan, termasuk
misalnya mengamati perubahan perilaku binatang yang berbeda dari biasanya. Hal
ini sudah sejak dulu dilakukan di China dengan melihat apakah banyak binatang
gelisah, lalu ular keluar dari sarang dan sebagainya.
Sementara untuk penelitian terhadap kekuatan gelombang pasang, bisa
dilakukan pemasangan pelampung suar (buoy) yang berisi radar untuk memantau
gelombang. Dengan demikian pemerintah bisa melakukan upaya pencegahan dan
peringatan kepada masyarakat.
Perlu alat
Kita sudah saatnya memiliki sebuah perangkat pemantauan yang bisa bekerja
secara terus-menerus langsung (real-time) maupun secara periodik. Alat tersebut
nantinya mencatat data pasang surut permukaan air laut yang diintegrasikan
dengan data gempa di seluruh dunia.
Sejumlah kawasan pinggir laut seperti Hawaii misalnya telah memiliki
observatorium khusus tsunami. Mereka bekerja sama dengan badan geologi Amerika
Serikat, Jepang, Chile dan lainnya untuk mencatat data hubungan gempa dan
permukaan air laut tersebut.
Dengan demikian, misalkan terjadi gempa di tengah lautan Pasifik, mereka
bisa melakukan perhitungan bahwa dalam sekian jam gelombang tsunami akan sampai
di Hawaii, Jepang dan lainnya. Hasil perhitungan lalu dihubungkan ke sistem
alarm sehingga upaya penyelamatan dapat dilakukan lebih dulu.
Kita juga perlu memasang alat seismograf di kawasan yang baru terkena
gempa. Fungsinya untuk mencatat gempa-gempa mikro sehingga bisa diperoleh
tendensi kecenderungan turun tidaknya frekuensi gempa.
Tak kalah penting adalah dilakukannya penyadaran terhadap masyarakat di
sekitar daerah rawan gempa. Pemerintah misalnya perlu mencontoh usaha Jepang
yang mengajarkan seluruh lapisan masyarakatnya tentang cara berlindung ketika
gempa. Pengajaran ini diberikan mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah
menengah hingga ke perkantoran. Hasilnya, masyarakat tidak lagi panik saat
gempa dan jumlah korban bisa diminimalisasi.
Untuk kejadian gempa tektonik kemarin, waktunya memang mungkin pendek
sekali, sehingga agak terlambat. Tapi kalau kita bisa mengembangkan sistem
deteksi dini atau early warning system yang serupa lalu bekerja sama dengan
negara lain, mungkin penyelamatan bisa dilakukan lebih baik. ***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/