Republika
Rabu, 29 Desember 2004

Pelajaran dari Gempa Aceh 

Oleh : Subagyo Pramumijoyo 


Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 pagi sungguhlah dahsyat 
disertai gelombang pasang (tsunami) menelan korban jiwa manusia dan harta 
benda. Sampai hari kemarin telah mencapai lebih dari 4.500 orang di Indonesia, 
itu pun mungkin masih bertambah. Tsunami yang menyertai gempa bumi ini juga 
menelan korban jiwa sebanyak 13.000 orang di Srilanka, 3.500 orang di India, 
866 di pantai barat Thailand, 52 orang di Maldives, 44 orang di Malaysia, 30 
orang di Myanmar, 8 di Somalia, dan 2 di Bangladesh. Bahkan gelombang tsunami 
ini dilaporkan USGS terekam sampai dengan pantai barat Amerika Utara dan 
Selatan.

Besaran gempa bumi
Magnitude atau besaran gempa bumi di Aceh tersebut adalah 9 (sumber NEIC), jika 
ditulis dengan moment magnitude, disingkat MW, adalah 8,2. Oleh Badan 
Metereologi dan Geofisika dilaporkan besarannya adalah 6,8 Mb yang dihitung 
berdasarkan body wave. Besaran gempa yang dilaporkan sangat tergantung sinyal 
gempa bumi yang dijadikan dasar perhitungan serta seismometer yang dipergunakan 
untuk merekam gempa bumi. Saat Richter di tahun 1935 memperkenalkan pengukuran 
magnitude gempa bumi, alat yang dipakai adalah seismometer Wood-Anderson. Alat 
ini untuk mengukur amplitudo gelombang gempa yang berepisentrum (proyeksi pusat 
gempa bumi di permukaan bumi) dalam jarak 100 kilo meter. Besaran gempa bumi 
yang dihasilkan biasa disingkat ML. 

Di samping itu masih ada skala gempa bumi yang diukur berdasarkan kerusakan dan 
guncangan yang dirasakan oleh setiap orang yang ada di suatu tempat. Skala ini 
disebut skala intensitas dan yang sekarang banyak dipergunakan adalah skala 
Modified Mercalli Intensity (MMI) yang terdiri dari 12 tingkatan skala. Jika 
terdapat perbedaan hasil perhitungan magnitude tak berarti bahwa yang satu 
benar dan yang lain salah.

Tatanan geologi
Mengapa Indonesia sering diguncang gempa bumi? Setelah Alor, Nabire (dua kali), 
Sumatera Selatan, dan kemudian Aceh termasuk pula Pulau Simeulu telah diguncang 
gempa bumi selama tahun 2004 ini. Sebenarnya hal ini tidak mengherankan karena 
wilayah Indonesia merupakan interaksi dari tiga buah lempeng tektonik besar, 
yaitu lempeng Indo-Australia (di selatan), lempeng Pasifik (di timur laut), dan 
lempeng Eurasia (di sebelah barat daya). 

Dengan asumsi bahwa lempeng Eurasia atau juga disebut lempeng Asia tidak 
bergerak, maka lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke utara-timur laut 
dengan kecepatan sekitar 6-7 cm/tahun, sedangkan lempeng Pasifik bergerak 
relatif ke arah barat. Pada batas antarlempeng tektonik terdapat gejala 
tektonik yang ditandai oleh kehadiran pusat-pusat gempa bumi. Gerakan 
antarlempeng bisa saling mendekat seperti yang terjadi antara lempeng 
Indo-Australia dan lempeng Eurasia tersebut. Lempeng Indo-Australia menunjam di 
bawah Sumatra-Jawa -Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan bagian dari 
lempeng Eurasia.

Tunjaman itu ditandai dengan kehadiran palung laut Sumatra yang membentang 
sepanjang sekitar 4.500 kilometer, berjarak 200-250 kilometer dari pantai barat 
ujung utara Pulau Sumatra ke timur sampai dengan selatan pantai pulau Timor. 
Pada kedalaman sekitar 150 kilometer permukan lempeng yang menunjam mengalami 
pelelehan sebagian (partial melting) sehingga memberikan sumber magma yang 
kemudian menembus ke permukaan dan terbentuklah gunung-gunung api, dan 
kenampakan di permukaan daratan inilah yang dikenal sebagai sabuk api (ring of 
fire). 

Akibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia juga 
menghasilkan patahan atau Sesar Mentawai yang membentang di lepas pantai dan 
sejajar dengan pantai barat Sumatra dan Sesar Besar Sumatra yang memotong Pulau 
Sumatra dari Teluk Semangko di selatan sampai dengan ujung utara Pulau Sumatra. 
Pergerakan Sesar Besar Sumatra antara lain menghasilkan kenampakan depresi 
sepanjang Bukit Barisan dan beberapa danau seperti Danau Ranau dan Danau 
Singkarak. 

Ditinjau dari gerakannya atau kinematikanya, Sesar Mentawai dan Sesar Besar 
Sumatra merupakan sesar geser menganan, artinya jika kita berdiri di atas 
sesar, bagian di sebelah kanan kita akan bergerak menuju kita, sedangkan 
sepanjang palung terjadi pensesaran naik. Perbedaan keduanya, jika sesar geser 
bergerak kemungkinannya sangat kecil dapat menghasilkan perubahan volume di 
permukaannya kecuali di daerah dimana terdapat dua sesar geser berhadapan, 
sedangkan sesar naik dan juga sesar turun akan menghasilkan perubahan volume di 
permukaannya. Jika sesar naik berada di bawah permukaan air (laut) maka bisa 
menimbulkan gelombang pasang yang kita kenal sebagai tsunami. 

Mekanisme sesar
Gempa bumi yang terjadi di Aceh merupakan akibat gerakan sesar naik sepanjang 
daerah subduksi. Hal ini bisa dilihat dari mekanisme fokal yang direkam dari 
gempa tersebut yang menunjukkan gejala sesar naik. Gempa bumi ini termasuk 
gempa bumi dangkal, pusat gempa buminya diperkirakan sedalam 10 kilometer, 
sehingga getarannya terasa sangat kuat mengguncang dan bisa dirasakan sampai 
dengan Bangladesh, Malaysia, Myanmar, Singapura, Srilanka, dan Thailand. 
Menurut perhitungan sementara USGS dari gempa bumi susulan sampai hari ini 
diperkirakan daerah yang mengalami pensesaran sepanjang ratusan kilometer 
dengan pergeseran pada bidang sesar sebesar 15 meter. Bisa dibayangkan 
perubahan volume yang diakibatkan oleh sesar ini sangatlah besar dan air laut 
yang ada di atasnya akan terguncang cukup kuat.

Kenampakan di pantai, permukaan laut akan turun dengan cepat sehingga ikan akan 
menggelepar dan setelah sekian menit (bisa juga hitungan detik, tergantung 
jarak pantai terhadap pusat gempa bumi) maka air akan pasang menyapu daerah 
pantai. Tinggi air pasang sangat tergantung besar perubahan volume yang 
diakibatkan oleh pensesaran tersebut. Sampai saat ini belum ada alat yang bisa 
meramal dengan tepat kedatangan gempa bumi. Di Yunani pernah diperkenalkan 
Metode Van yang pernah bisa meramal kedatangan gempa, namun setelah itu belum 
ada lagi gempa bumi yang bisa diramalkan kedatangannya. Di sini kita tahu bahwa 
gempa bumi sebagai bagian dinamika bumi memiliki karakter yang unik. 

Sistem peringatan dini kedatangan gelombang pasang (tsunami) mungkin bisa 
dikembangkan, tetapi membutuhkan data base yang baik tentang sejarah gempabumi, 
struktur geologi, batimetri, dan juga kerja sama dari berbagai instansi. Untuk 
itu, di Indonesia sudah tiba waktunya menyusun undang-undang tentang 
penanggulangan bencana alam yang komprehensif, mulai dari penelitian preventif 
pra bencana, penelitian saat peristiwa bencana, sampai dengan penelitian pasca 
bencana yang ditindaklanjuti dengan penataan ruang oleh pemerintah daerah.

Dari peristiwa bencana alam gempa bumi Aceh, seperti pada peristiwa bencana 
gunung api, kita bisa belajar bahwa saat duka kita membutuhkan kebersamaan. 
Kita tidak bisa menghentikan gempa bumi, kita tidak bisa menghentikan letusan 
gunung api, karena peristiwa itu bagian dari dinamika bumi tempat kita tinggal. 
Biarkan bumi bergerak dengan ritmenya, marilah kita mempelajari perangainya. 
Saat bumi ramah kita bisa bercanda dan menari, saat bumi kesal kita menjauhi 
pusat kekesalannya. Marilah kita berkoeksistensi dengan dan memahami bumi kita.

Laboratorium Geologi Dinamik Jurusan Teknik Geologi FT UGM




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke