http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/1/6/b22.htm

Dari Warung Global Interaktif-'' Bali Post''
Moratorium tak Perlu Diberlakukan bagi Utang Swasta 
Tawaran pemerintah Jerman agar Indonesia mengajukan moratorium utang luar 
negeri menyusul gempa bumi dan tsunami di Aceh, mengundang pro dan kontra. 
Mereka yang pro menganggap moratorium itu perlu mengingat musiban yang dahsyat 
itu memerlukan pembangunan infrastruktur yang sangat berat dengan biaya sangat 
tinggi. Namun, moratorium itu mestinya tak berlaku bagi utang swasta. Sementara 
yang kontra, Indonesia tak perlu mengajukan moratorium demi harga diri bangsa. 
Jika dikatakan miskin, banyak mereka yang peduli Aceh, buktinya Pemprop Bali 
menyumbang Rp 500 juta. Hal itu terungkap pada acara Warung Global yang 
disiarkan Radio Global FM 96,5 Kinijani, Rabu (5/1) kemarin.   

Alit di Kapal mengatakan mau tidak mau pemerintahan berikutnya  harus mau 
menanggung beban utang karena itu sudah terjadi sejak pemerintahan sebelumnya. 
Moratorium itu perlu karena secara moral keadaan musibah yang mahadahsyat 
memerlukan pembangunan infrastruktur yang sangat berat dan biaya sangat tinggi. 
Jadi jadwal pembayaran utang yang jatuh tempo pada Maret yang akan datang atau 
awal bulan ini bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastrukur. Itulah 
moratorium yang diusulkan oleh Jerman. Masalahnya sekarang apakah moratorium 
itu berlaku untuk seluruh utang atas nama Republik Indonesia . Karena utang itu 
bukan hanya komposisi yang dimiliki oleh negara saja, tetapi lebih besar 
dimiliki oleh sektor swasta. Salah satunya Grup Bukaka yang dimiliki oleh 
Wapres Jusuf Kalla juga masih berutang sangat besar. ''Apakah utang swasta ini 
yang harus dimoratorium,'' tanyanya. Menurutnya, utang swasta jangan diberi 
keleluasaan untuk diberikan moratorium dan swasta harus tetap membayar sesuai 
jadwal. 

Kadek Mako mengatakan pengusaha dikasih menunda utang pasti senang, padahal 
menteri yang berkompeten masih ragu-ragu. Inilah bentuk  persaudaraan secara 
global yang ada di dunia ini. Penundaan atau moratorium harus jelas dan tidak 
memberatkan Indonesia . Jangan sampai karena  penundaan ini bunga dan utang 
pokok dirapel. Adanya tawaran moratorium ini juga menunjukkan adanya rasa 
kepercayaan luar negeri pada Indonesia . 

Kadek Mako berharap agar Indonesia bisa cepat menangkap dan memproses koruptor 
guna meringankan beban utang. ''Jangan sampai ada tangan-tangan bertindak nista 
di balik moratorium itu. Moratorium harus murni untuk kepentingan bangsa, 
khususnya Aceh,'' ujarnya. 

Nang Tison di Canggu mengatakan moratorium untuk sementara memang diperlukan 
karena kondisi Aceh. ''Berarti  Indonesia sangat miskin sekali,'' tegasnya. 

Kenyataannya di saat ada musibah atau tragedi yang memilukan seperti ini tidak 
ada didengar pejabat yang mau memberikan gajinya. Padahal, pejabat tersebut 
saat melaporkan kekayaannya ke KPK jumlahnya mencapai milyaran. Seharusnya di 
saat seperti inilah kesempatan mereka untuk peduli sesama. Kalau ini sifatnya 
penundaan utang, syaratnya harus dipertegas. Dia sangat tidak setuju kalau 
akhirnya kita kembali jatuh ke tangan IMF. 

  

Indonesia tak Miskin 

  

Natri Udiani di Denpasar mengatakan sebaiknya tawaran Jerman untuk moratorium 
jangan ditanggapi. Lebih baik  bayarlah utang sesuai dengan jadwal pembayaran. 
Natri berharap agar Indonesia punya harga diri. ''Walaupun dikatakan miskin 
kita sebenarnya tidak miskin. Buktinya, Pemda Bali bisa menyumbang Rp 500 juta 
dan banyak lagi sumbangan yang mengalir ke Aceh,'' katanya.  Untuk 
menanggulangi infrastruktur di Aceh, solusinya daerah yang surplus dan kaya 
penghasilannya bisa disumbang ke Aceh. 

Putu di Padangsambian menilai tawaran moratorium negara lain membuktikan banyak 
yang peduli terhadap Indonesia . Putu mengajak untuk tidak apriori terlebih 
dahulu dengan tawaran Jerman ini. '' Indonesia jangan terlalu gengsi,'' 
harapnya. 

Negara India yang terkena tsunami menolak ajakan moratorium karena penghasilan 
negaranya lebih besar daripada Indonesia . 

Sementara itu, Guru  Made di Tabanan mengatakan tidak usah menoleh ke India 
karena di sana tidak rusak infrastrukturnya. Sedangkan Aceh Infrastrukturnya 
hancur dan porak-poranda. India yang rusak hanya sebatas pesisir pantai.  Guru 
Made setuju moratorium utang negara, tetapi utang swasta jangan ditunda 
pembayarannya. 

Wayan Sudana Kendal di Denpasar mengatakan pejabat-pejabat yang kaya yang 
seharusnya menyumbangkan sebagian dari kekayaannya untuk Aceh. ''Kalau 
penundaaannya hanya satu tahun buat apa, tetapi kalau penundaannya 30 tahun 
berani saja,'' katanya. 

Dewa di Gianyar heran Indonesia dikatakan sebagai negara miskin, sebab jarang 
ada pejabat naik sepeda gayung. Indonesia sangat kaya, buktinya pejabatnya 
pakai mobil. 

Yando di Denpasar mengatakan sangat tidak setuju  adanya moratorium karena di 
sana akan ada unsur politiknya. Kalau pemerintah menerima ajakan moratorium 
takutnya nanti bila ada kebijakan-kebijakan internasional yang mengintimidasi 
ekonomi Indonesia . Karena itu, pemerintah Indonesia mau tidak mau akan 
mematuhi peraturan internasional. 

Maria di Sidakarya mengatakan dilihat dari sumbangan ke Aceh dari luar negeri 
dan Indonesia sebenarnya sudah memadai untuk membangun Aceh. Masalahnya apakah 
bantuan dan sumbangan itu akan sampai ke sana . ''Kalau negara luar sudah 
menyumbang, sekarang ini diharapkan kontrol yang kuat dan transparan agar 
bantuan bisa digunakan untuk membiayai pembangunan Aceh kembali,'' ujarnya. 
Jika negara donor yang berinisiatif untuk menunda pembayaran utang, terima 
saja. Namun, kalau mereka meminta dan memohon supaya ditunda ia tidak  setuju. 
(bram) 

  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke