Saya bukan orang Budha, tapi meyakini beberapa ajarannya
yang sangat universal diantaranya mis. meditasi yang saya
yakin bila diterapkan oleh orang2 Indonesia akan sangat
membantu keluar dari berbagai krisis berkepanjangan.

Kalau boleh saya ingin ikut berkomentar ttg agama Budha.

> dari sana dan lahir baru... Nyatanya ketika kita tanya 
>pada seorang 
> penganut Buddha saya pastikan dia tidak akan dapat 
>menjawab apa 
> bentuk dia semasa dia dialam baka dan apa proses yg 
>dialaminya..
> 

Reinkarnasi memang sulit dipahami tapi bukan tidak mungkin
betul2 ada, seperti halnya orang lain percaya ada 
malaikat.
Dalam pertanyaan spt diatas, kemungkinan jawabnya adalah
karena :
1. kemampuan perangkat fisik manusia sendiri ( otak ) yang
terbatas sehingga tidak bisa mengingat masa lalu. 
Jangankan
kehidupan masa sebelumnya, sedangkan kehidupan kita
sewaktu masih bayi kita tidak bisa mengingatnya.
2. Kemungkinan memang sudah menjadi hukumnya dalam
reinkarnasi, bahwa dalam kelahiran baru otak kita tidak 
bisa
mengingatnya sehingga seandainya dimasa lalunya mempunyai
pengalaman yang sangat buruk tidak mempengaruhi hidupnya
dalam segi kejiwaannya. Hal ini sepertinya kalau kita 
bekerja,
setiap bulan kita menerima gaji, ketika kita mengalami
kenaikan / penurunan pangkat maka gaji yang baru sesuai
pangkatnya inilah yang kita jadikan modal untuk hidup 
selama
sebulan.
3. Dalam Budha diyakini, bahwa pengalaman masa lalu 
 tidaklah
hilang, tetapi tersimpan dalam alam kesadaran lain ( dalam
diri manusia ada 3 alam kesadaran, saya rodo2 lupa ). 
Setiap
tindakan / niat sekecil apapun akan selalu tercatat di 
alam
kesadaran tsb. ( bandingkan konsep ini dengan konsep dalam
Islam, bahwa setiap tindakan kita dicatat oleh malaikat 
tapi
ada keyakinan juga bahwa malaikat tidak akan masuk rumah
orang yang memelihara anjing atau gambar pornonya )


> tertentu dgn perilaku tertentu( masa lalu), nyatanya dia 
>tidaklah 
> berprofesi sama dgn masa sebelumnya... juga dia ngak 
>tahu apa 
> kesalahannya sehingga lahir baru?
> 

Tugas manusia setiap kelahiran barunya, tetap melaksanakan
darmanya ( melayani ) sebagai manusia dengan peranan yang 
baru,
bisa sesuai dengan tingkat pendidikan kehidupan barunya
atau sesuai dengan bakatnya.

>> > kita ambil contoh:
>> > Thailand dgn pemeluk mayoritas terlihat bukannya makin 
>>bermoral 
>> dari 
>> > sejak berseminya Buddhism di wilayah tersebut.. 
>>malahan makin 
>> sekuler 
>> > dan terhanyut dalam era liberal perilaku yg 
>>memusingkan thailant 
>> > government yaitu AIDS, ALKOHOLISM, PELACURAN,dst yg 

Penduduk Thailand umumnya memang sudah melenceng
dari ajaran Budha. Terjebak dalam semangat materialisme,
bukan karena menerapkan ajaran Budha.



ws



On Tue, 25 Jan 2005 08:52:14 -0000
  "Sang" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Buddhism dalam pandangan saya sesungguhnya ajaran bagus 
>dan 
> mencitrakan sebuah religion yg humany daripada yang 
>materi...
> 
> Agama yg bersemi semula di India ini, lalu berevolusi 
>kearah Hinduism 
> yg berujung sinergi antara dua agama ini. Dan batasan 
>itu jadi agak 
> kabur , tapi dalam hal lahir kembali ada kesepakatan 
>diantara dua 
> agama ini, dimana dalam sistem Buddha maupun Hindustan 
>diyakini bahwa 
> manusia akan berputar-putar dalam pusaran bentuk baru yg 
>bisa 
> berwujud binatang atau malahan manusia yg lahir baru...
> 
> Saya menilai ini penuh kompleksitas dimana tidak semudah 
>itu 
> mengatakan seeorang lahir baru dgn body baru dan 
>identitas baru, 
> sebab setiap insan berbeda specifikasi, profesi dan 
>personality... 
> Sedang Buddhisme pasca Buddha malahan meyakini adanya 
>indikasi bentuk 
> baru...
> 
> Seandainya benar tentunya umat manusia akan makin 
>tercerahkan, dan 
> mampu mencerna alam malakut setelah maut... sebab dia 
>telah kembali 
> dari sana dan lahir baru... Nyatanya ketika kita tanya 
>pada seorang 
> penganut Buddha saya pastikan dia tidak akan dapat 
>menjawab apa 
> bentuk dia semasa dia dialam baka dan apa proses yg 
>dialaminya..
> 
> lalu apa tugas baru dia dialam berikutnya sesuai dgn 
>titah yg 
> diembankan padanya semasa dia dialam maut? ini juga 
>belum tercerna 
> dgn baik  sedangkan dari berbagai sumber seandainya dia 
>berprofesi 
> tertentu dgn perilaku tertentu( masa lalu), nyatanya dia 
>tidaklah 
> berprofesi sama dgn masa sebelumnya... juga dia ngak 
>tahu apa 
> kesalahannya sehingga lahir baru?
> 
> 
> Sang
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "bdurga2000" 
><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> 
>> Setidak2 nya umat Budha dan Hindu di Indonesia ini pada 
>>umumnya 
>> tidak pernah saling menghujat ajaran agama lain yang 
>>mungkin juga 
>> hal nggak masuk akal bagi mereka.  So bagi saya find 
>>aja2, untuk 
> apa 
>> saya mempertanyakan suatu ajaran agama yang jelas2 tidak 
>>membuat 
>> ulah di Indonesia?>??
>> 
>> 
>> 
>> --- In [email protected], "Sang" 
>><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> > 
>> > Dari semua komponen ajaran Buddhisme ada satu yg 
>>betul-betul ngak 
>> > mungkin bisa diterima akal rasio yaitu
>> > 
>> > Reinkarnasi.. rebirth... Tumimbal lahir ngak dapat 
>>dijadikan 
>> pegangan 
>> > kuat..
>> > 
>> > Bukti empirik era sekarang terpampang indikasi bahwa 
>>reinkarnasi 
>> > adalah sebuah ajaran rekayasa belaka... 
>> > 
>> > kita ambil contoh:
>> > Thailand dgn pemeluk mayoritas terlihat bukannya makin 
>>bermoral 
>> dari 
>> > sejak berseminya Buddhism di wilayah tersebut.. 
>>malahan makin 
>> sekuler 
>> > dan terhanyut dalam era liberal perilaku yg 
>>memusingkan thailant 
>> > government yaitu AIDS, ALKOHOLISM, PELACURAN,dst yg 
>>mana jika 
> kita 
>> > berasumsi bahwa mestinya warga Thailand makin baik 
>>dari waktu ke 
>> > waktu tersebab Lahir kembali ato reinkarnasi nyatanya 
>>terbukti 
>> makin 
>> > bad attitude penuh dgn maksiat...
>> > 
>> > China pemeluk Budhisme terlihat ada kecenderungan 
>>liberal sekuler 
>> yg 
>> > mana akan mengarah ke masyarakat terbuka dan 
>>permisif...
>> > 
>> > Sedang doktrin Buddhisme adalah bahwa Lahir kembali 
>>dgn tujuan 
>> > pembaikan diri untuk mencapai tahap yg lebih tinggi 
>>dan 
> Nirvana... 
>> > 
>> > Nyatanya hal itu tidak terjadi dan Reinkarnasi malahan 
>> > berkecenderungan negatif....
>> > 
>> > 
>> > 
>> > Sang
>> > 
>> > 
>> > 
>> > 
>> > 
>> > 
>> > --- In [email protected], babat <[EMAIL PROTECTED]> 
>>wrote:
>> > > 
>> > > Komentar Luky ini kurasa angin segar untuk diskusi2 
>>agama di 
>> milis2 
>> > yg
>> > > rata2 sudah 'stale' karena ubyeg soal kristen-islam 
>>terus2an.
>> > > 
>> > > Padahal kristen, islam & yahudi yg bunuh2an dan 
>>pisoh2an tidak 
>> ada
>> > > habisnya itu terhitung masih family besar agama2 
>>semitic, beda 
> yg
>> > > didebat juga detail2 tidak penting sama sekali (doa 
>>madep 
> kesana 
>> > atau
>> > > kesini, nabi manusia atau anak dewa dlsb).
>> > > 
>> > > Dari sudut pandang agama2 lain - buddha misalnya 
>>disini -- maka 
>> > debat2
>> > > agama semitic itu 'moot' (= tidak relevan sama 
>>sekali), jika 
>> > dikaitkan
>> > > dengan 'tuhan pencipta alam semesta' segala (jika 
>>dikaitkan 
>> kekayaan
>> > > suatu agama, apalagi pribadi leadernya --> ya sangat 
>>relevan!)
>> > > 
>> > > Buddha pernah merupakan organized religion, yaitu di 
>>jaman 
> Asoka 
>> di
>> > > India -- dan tidak lagi.  Jadi dari sisi politis, 
>>bisa 
> dikatakan 
>> > agama
>> > > ini sudah jauh lebih maju lagi daripada paus roma 
>>(katolik) yg 
>> > sekarang
>> > > mulai 'trondhol' (=tidak diajeni lagi oleh kekuasaan 
>>politis) 
>> dari
>> > > tadinya sangat berkuasa.  Islam dan yahudi malah 
>>lebih 
>> terbelakang
>> > > lagi, jadi semua tokoh agamanya masih mimpi untuk 
>>'memimpin 
>> dunia'.
>> > > Perlu 'di-trondholi' beberapa tahun lagi kedepan!
>> > > 
>> > > Dari sisi2 lain, melihat ke agama2 non-semit begini 
>>akan jauh 
>> lebih
>> > > mencerahkan -- pertanyaan ttg evangelisme misalnya 
>>(= 
> menyebarkan
>> > > 'kabar baik' ke kafir2 !) - konsep yg dikenal luas 
>>saat ini 
>> selalu
>> > > hanya konsep semitic.
>> > > Bagaimana dengan agama lain? atau kejawen 
>>(traditional 
>> > spiritualisme ,
>> > > shamanism) ?
>> > > 
>> > > Aku melihat bahwa agama semitic 'juvenile' -- sama 
>>spt filsafat
>> > > Nietzche itu juvenile --- yaitu memberi emphasis yg 
>>terlalu 
>> besar 
>> > pada
>> > > kekuatan dan pemikiran tidak matang, sama spt 
>>pemikiran 
> teenager.
>> > > 
>> > > Teruskan saja.
>> > > jangan terjebak pada sisi ritual, semua agama - baik 
>>semitic 
>> maupun
>> > > tidak - mempunyai sisi 'bodoh2an' yaitu ritual 
>>hapalan --> 
>> > mahayana. 
>> > > Lihatlan konsep dan inti ajaran, kayaknya yg mau 
>>dilakukan Luky 
>> > ini. 
>> > > Jangan takut 'jadi kafir' - lakukan debat2 spt ini 
>>spt kalian
>> > > membicarakan politik atau berita tsunami.  Begitu 
>>pula para
>> > > spiritualist membicarakan agama, jangan spt pedagang 
> membicarakan
>> > > bisnis!
>> > > 
>> > > [EMAIL PROTECTED]
>> > > 
>> > > 
>> > > = = = Original message = = =
>> > > 
>> > > Wah, Sdr.Ridwan ini masih tak mengerti juga PRINSIP 
>>ajaran 
>> Buddha 
>> > > yang berbeda dengan Islam, Kristen, Katolik, dsb 
>>(dalam bahasa 
>> > > Inggris, semuanya disebut penganut 'Abrahamic 
>>traditions'). 
>> Harus 
>> > > anda ketahui, mayoritas pemeluk Buddha itu masih 
>>tradisional 
>> > > (tercampur adat-istiadat Cina, Kong-Hu-Cu, tercampur 
>>dengan 
>> paham 
>> > > teologis dari Islam dan Kristen, dst). 
>> > >  
>> > > > Tanggapan pertama, ya jelas soal pernyataan 
>>"pengalaman 
>> sendiri" 
>> > > > diatas. Pernyataan yg sangat berani dari seorang 
>>yg percaya 
>> pada 
>> > > > hal2 non-material/non-fisikal. Sdr. Loekyh, 
>>sebagai seseorang 
>> yg 
>> > > > mempercayai ajaran Buddha tentu anda percaya betul 
>>soal 
>> > > > rebirth/inkarnasasi/lahir-ulang atau istilah yg 
>>anda gunakan 
>> > > > tumimbal lahir. Apakah anda percaya hal ini 
>>berdasarkan 
>> > pengalaman 
>> > > > sendiri ? 
>> > > > Apakah kejadian lahir-ulang disadari oleh yg 
>>mengalaminya ? 
>> (anda 
>> > > yg 
>> > > > hidup di tahun 2005 ini apakah bisa tahu kejadian 
>>lahir-
> ulang2 
>> > > > sebelumnya, atau paling tidak lahir-ulang anda yg 
>>terakhir)
>> > > 
>> > > Tulisan saya berikut ini adalah contoh kepercayaan 
>>saya 
> terhadap 
>> > > ajaran Buddha berdasarkan PENGALAMAN SENDIRI. 
>>Misalnya berbeda 
>> > > dengan ajaran agama orang tua yang ajarannya saya 
>>alami 
>> diberikan 
>> > di 
>> > > sekolah dan di rumah, ajaran Buddha tidak 
>>berdasarkan DOGMA, 
>> > > kepercayaan membuta terhadap hal-hal 
>>material/non-fisikal. 
> Saya  
>> > > tahu dari pengalaman sendiri bahwa banyak penganut 
>>ajaran 
> Buddha 
>> di 
>> > > mailis ini yang tak bisa 100% sependapat dengan 
>>saya, tetapi 
>> > umumnya 
>> > > mereka semua mengerti bahwa ajaran Buddha bukan 
>>dogma yang 
> wajib 
>> > > dipercayai sehingga tak ada hukuman NERAKA bagi 
>>mereka yang tak 
>> > > mempercayainya atau hadiah SORGA bagi mereka yang 
>> mempercayainya. 
>> > > Lebih penting dari pengakuan adalah perbuatan, 
>>ucapan yang 
>> sejalan 
>> > > dengan pikiran.
>> > > 
>> > > Saya mempercayai ajaran Buddha bukan karena 
>>ajarannya yang non-
>> > > material/non-fisikal (ajaib, gaib, dsb, sesuatu yang 
>>saya 
> anggap 
>> > non-
>> > > sense), tetapi saya percaya pada keberadaan HUKUM 
>>UNIVERSAL 
> yang 
>> > > mencakup hukum karma, hukum-hukum fisika, kimia, 
>>matematika, 
>> hukum-
>> > > hukum kesunyataan tentang hidup, dsb, yang pernah 
>>saya pelajari 
>> > > (alami) sendiri. Jadi kepercayaan saya tidak 
>>berdasarkan dogma, 
>> > > tetapi saya uji (sesuai pesan Siddharta) melalui 
>>renungan dan 
>> > > pengalaman sendiri (mis. menggunakan uji 
>>'scientific' yang saya 
>> > > ketahui).
>> > > 
>> > > Tak semua hukum karma ini dapat dirumuskan dengan 
>>simbol-simbol 
>> > > matematis, rumus kimia atau hukum logika, tetapi 
>>orang yang 
>> > mencapai 
>> > > Buddha telah mendalami (dengan pikiran/renungan 
>>sendiri) hukum-
>> > hukum 
>> > > kesunyataan mengenai alam dan kehidupan sehingga 
>>mampu mengerti 
>> > > hukum-hukum tsb. Semakin dekat kita pada pengertian 
>>yang benar, 
>> > maka 
>> > > semakin banyak kita mengetahui hukum-hukum 
>>kesunyataan ini. 
>> > > 
>> > > Pada tulisan terdahulu, saya mengibaratkan 
>>hukum-hukum 
> universal 
>> > ini 
>> > > ibarat SOFTWARE dari dunia sedangkan fisiknya 
>>(tanah, air, 
>> pohon, 
>> > > mahluk-mahluk hidup, udara, dsb) adalah HARDWARE 
>>(Sebenarnya 
>> saya 
>> > > ingin membahas peran DIMENSI WAKTU, yang juga bagian 
>>dari 
> dunia, 
>> > > tetapi nanti diskusinya terlalu komplikasi). 
>>Semuanya, sotfware 
>> dan 
>> > > hardware, seandainya dunia diciptakan, akan 
>>diciptakan bersama. 
>> > > Perbandingan yang saya kira pas juga berdasarkan 
>>pengalaman 
>> membaca-
>> > > baca sedikit tentang software-hardware komputer.
>> > > 
>> > > >> (Apalagi kalau hanya ucapan seorang bhiku atau 
>>seorang 
>> > > > > tokoh politik agama Buddha, mis. mereka yang 
>>punya jabatan 
>> di 
>> > > > > instansi pemerintah). Saya juga sudah 
>>berkali-kali menulis 
>> > > sebagai 
>> > > > > seorang berlatar belakang dan seseorang yang 
>>bekerja pada 
>> dunia 
>> > > > > sains dan matematika, kepercayaan saya terhadap 
>>ajaran-
>> ajaran 
>> > > > > Buddhism harus saya uji secara 'scientific'. 
>> > > > 
>> > > > 
>> > > > Bagaimana anda menguji secara ilmiah kejadian 
>>lahir-
>> > > ulang/inkarnasi 
>> > > > yg dipercayai pada ajaran Buddha ? Kalau anda 
>>bisa, siapa 
> tahu 
>> > > > model / metode pengujian ilmiah anda tsb bisa juga 
>>diadaptasi 
>> utk 
>> > > > menguji secara ilmiah konsep Trinitas dlm ajaran 
>>Kristen (yg 
>> > > > jangankan membingungkan orang2 non-Kristen, ada 
>>beberapa 
> orang 
>> > > > Kristen pun yg saya kenal secara pribadi bingung 
>>soal ini 
>> sampai 
>> > > > pada taraf sulit utk mempercayai konsep tsb.)
>> > > 
>> > > Tulisan berikut berdasarkan pengalaman saya membaca 
>>buku 
>> pelajaran, 
>> > > buku ilmiah populer, menonton dokumenter (saya 
>>hampir tak 
> pernah 
>> > > menonton filem/sinetron/drama).
>> > > 
>> > > Saya sudah menuliskannya bahwa suatu 
>>ajaran/'scientific' theory 
>> > saya 
>> > > anggap benar jika bisa menjelaskan banyak hal (mis. 
>>fenomena-
>> > > fenomena alam). Kenapa anda bertanya lagi tentang 
>>hal di atas, 
>> > > karena saya sudah memberi contoh bagaimana para 
>>'scientists' 
>> > percaya 
>> > > pada sesuatu model orbit elektron mengelilingi inti 
>>atom suatu 
>> > unsur 
>> > > walaupun tak mungkin (dengan alat modern pun) kita 
>>akan mampu 
>> > > melihat elektron. Coba baca sejarahnya (di mulai 
>>dari buku-buku 
>> > > General Chemistry misalnya), mulai dari teori Bohr 
>>tentang 
> model 
>> > > atom hydrogen sampai akhirnya tercipta ilmu Quantum 
>>Mechanics 
>> > > berbasis probability (ilmu yang keberadaannya 
>>dipertanyakan 
> oleh 
>> > > Einstein).
>> > > 
>> > > Walaupun tak mengetahui secara teknis, tetapi model 
>>penarikan 
>> > > kesimpulan seperti di atas digunakan oleh para 
>>'scientists' di 
>> masa 
>> > > lalu yang percaya bahwa simpanse dalam pohon 
>>keluarga adalah 
>> yang 
>> > > terdekat dengan kita, bahwa kerangka telapak kaki 
>>sampai paha 
>> yang 
>> > > diketemukan adalah mahluk berjalan tegak, bahwa 
>>merokok 
>> menyebabkan 
>> > > kanker paru-paru (walaupun dulu mekanisme kimianya 
>>masih 
>> > > kontrovesial) dst. Sekarang, dengan teknologi DNA, 
>>teori-teori 
>> > > (bermacam-macam teori ini biasa disebut orang awam 
>>hanya satu 
>> > teori: 
>> > > Teori Darwin) tersebut menjadi semakin kuat karena 
>>struktur DNA 
>> > > manusia dengan simpanse lebih dari 90% (saya lupa, 
>>mungkin 
>> sekitar 
>> > > 95-97%) persis sama dengan manusia.
>> > > 
>> > > Satu contoh mengapa saya percaya ajaran Buddha 
>>sejajar dengan 
>> sains 
>> > > adlah pada doa-doanya selalu menyebut 'berbahagialah 
>>semua 
>> mahluk 
>> > > hidup' dan juga mengajarkan 'banyak alam di luar 
>>dunia kita' 
>> tempat 
>> > > di mana kita nanti tumimbal lahir. Jadi, ajaran 
>>Buddha tak 
>> terpusat 
>> > > atau hanya diperuntukkan bagi mahluk-mahluk hidup di 
>>bumi saja. 
>> > Anda 
>> > > perlu tahu salah satu ajaran utama dari Buddhism 
>>adalah saling 
>> > > ketergantungan antara semua mahluk hidup dengan alam 
>>(saya 
> yakin 
>> > > maksud Siddharta termasuk alam-alam di luar bumi). 
>> > > 
>> > > Hal di atas sangat cocok dengan astro-fisika yang 
>>mengajarkan 
>> pada 
>> > > kita bahwa bumi ini hanyalah sekian 0.0000...0001 
>>(jutaan nol!) 
>> > > persen dari dunia/jagat raya. Sistem tata surya 
>>(dengan satu 
>> > bintang 
>> > > matahari dikelilingi planet-planetnya, bumi, Mars, 
>>Jupiter, 
>> > > Saturnus, dsb), hanya satu sistem di dalam Galaksi 
>>Bima Sakti 
>> yang 
>> > > juga memiliki ratusan atau ribuan bintang-bintang 
>>dengan masing-
>> > > masing planetnya (selain matahari dengan 
>>planet-planetnya). 
>> Belum 
>> > > lagi ribuan galaxi-galaxi selain Bima Sakti. Saya 
>>bahkan 
> percaya 
>> > > keberadaan alam lain di luar jagad raya (universe) 
>>kita.
>> > >  
>> > > > Anda tidak menyebut agama orang tua anda. Apa 
>>alasan anda 
>> tidak 
>> > > > percaya ? Kalau bukan Islam, saya ingin gunakan 
>>kesempatan 
> ini 
>> > utk 
>> > > > bertanya pada anda soal pandangan anda (yg saya 
>>anggap 
>> berlatar 
>> > > > belakang ajaran Buddha) thd ajaran Islam. Secara 
>>ajaran, 
>> > bagaimana 
>> > > > ajaran Buddha menjelaskan kenyataan di dunia ini 
>>adanya 
> ajaran 
>> yg 
>> > > > disebut dg ajaran Islam? dan kenytaan adanya buku 
>>yg disbut 
> dg 
>> > > Quran 
>> > > > (yg oleh umat Islam dipercayai sbg kitab suci yg 
>>di"karang" 
>> oleh 
>> > > > Tuhan lalu diwahyukan oleh malaikat Jibril pada 
>>Nabi 
> Muhammad).
>> > > 
>> > > Agama saya dahulu tak ada kaitannya dengan diskusi 
>>kita. Perlu 
>> anda 
>> > > ketahui, saya tak pernah menjelekkan penganut agama 
>>lain karena 
>> > > sesuai pengertian Buddhism yang saya terima, saya 
>>selalu 
>> berusaha 
>> > > mengukur orang lain bukan dari agamanya, tetapi dari 
>> perbuatannya.
>> > > 
>> > > > Tapi, kalau pemikiran2 yg anda tawarkan adalah spt 
>>pemikiran 
>> anda 
>> > > > soal mengapa ada orang2 yg cerdas didunia ini, 
>>saya kira 
> tidak 
>> > > akan 
>> > > > ada yg banyak percaya. Spt anda sudah ketahui, yg 
>>pasti saya 
>> > > > menganggapnya sbg pemikiran "paling lucu" yg saya 
>>dengar 
>> minggu 
>> > > > lalu. Ya, maaf saja.
>> > > 
>> > > Saya tidak apa-apa kok jika anda tak percaya atau 
>>mengangap 
>> > pendapat 
>> > > saya lucu, apalagi cara berpikir anda terikat pada 
>>'Abrhamic 
>> > > traditions'. Salah satu ajaran utama Buddha (dengan 
>>tujuan 
>> > > mendapatkan pengertian yang benar) adalah melepaskan 
>>segala 
>> macam 
>> > > keterikatan duniawi, termasuk keterikatan kita pada 
>>satu 
> tradisi 
>> > > (termasuk tradisi cara/kebiasaan berpikir). Bahkan 
>>kita 
>> dianjurkan 
>> > > tidak terikat pada hubungan keluarga (sebab 
>>keterikatan dengan 
>> > > keluarga membuat kita bersikap tak adil terhadap 
>>orang-orang 
>> yang 
>> > > bukan keluarga kita). Jadi jika kita menjadi bhiku, 
>>kita wajib 
>> > > secara eksplisi melepaskan semua keterikatan ini 
>>(tak boleh 
> lagi 
>> > > mempunyai barang-barang pribadi).
>> > > 
>> > > > Tafsiran menarik, tapi anda belum menjelaskan soal 
>>tafsiran 
>> anda 
>> > > > soal Buddha Maitreya yg dikenal dlm ajaran Buddha 
>>dikenal sbg 
>> > > Buddha 
>> > > > yg akan datang. Yg akan datang bagaimana ? Mengapa 
>>harus akan 
>> > > > datang, tidak sekarang saja. 
>> > > 
>> > > Pengertian Buddha yang saya gambarkan adalah 
>>pengertian umum di 
>> > > kalangan umat Buddha, khususnya di kalangan 
>>Theravada. Saya tak 
>> > > percaya pada Buddha Maitreya sebagai sosok Buddha 
>>yang 
>> DIRAMALKAN 
>> > > akan datang. Info tentang Buddha Maitreya akan anda 
>>dapatkan 
>> jika 
>> > > anda mengunjungi salah satu vihara Maitreya atau 
>>mungkin dari 
>> salah 
>> > > satu umat Buddhis yang anggota milis di sini. 
>> > > 
>> > > Pertanyaan anda "Mengapa tidak sekarang saja ada 
>>Buddha?" 
>> > > menggambarkan cara berpikir 'Abrahamic traditions' 
>>di mana 
> Tuhan 
>> > > bisa menurunkan seorang nabi kapan-kapan saja, jika 
>>Tuhan 
>> > > berkehendak. Menurut saya, seorang Buddha tak bisa 
>>diramal 
>> > > kedatangannya karena menjadi Buddha adalah hasil 
>>usaha sendiri. 
>> > Anda 
>> > > bertanya, mengapa tidak sekarang saja saya menjadi 
>>Buddha? 
> Jawab 
>> > > saya adalah "Masih belum mampu". Menjadi bikhu saja 
>>belum siap 
>> dan 
>> > > mampu, apalagi mencapai tingkat Buddha.
>> > > 
>> > > > Jadi kali ini saya tak tanggapi, tapi saya justru 
>>ingin tanya 
>> > soal 
>> > > > konsepsi dimensi WAKTU dlm ajaran Buddha, termasuk 
>>kaitan dg 
>> > > > kejadian lahir-ulang (mis. apakah sebuah makhluk 
>>selalu ber-
>> lahir-
>> > > > ulang ke masa depan, atau ada kemungkinan 
>>lahir-ulang nya ke 
>> masa 
>> > > > lampau, - semacam film serial Time Tunnel tahun 
>>60an yg pada 
>> > waktu 
>> > > > itu saya sering ikuti).
>> > > 
>> > > Konsep dimensi WAKTU sangat sulit ditangkap dan 
>>dijelaskan. 
>> Sebab 
>> > > tanpa dimensi waktu, pasangan kata-kata 'NANTI dan 
>> > > SEKARANG', 'SEBELUM dan SESUDAH', 'LAMA dan BARU', 
>>dst, tak 
>> punya 
>> > > arti (meaningless). Saya percaya bahwa keberadaan 
>>'two-value 
>> logic' 
>> > > adalah akibat keberadaan DIMENSI WAKTU, walaupun 
>>sementara ini 
>> tak 
>> > > ada alat (rumus-rumus logika) yang bisa 
>>membuktikannya. Bisa 
>> jadi, 
>> > > alam setelah kematian adalah alam TANPA DIMNESI 
>>WAKTU. Jika 
>> benar, 
>> > > bisa saja seseorang setelah terlahir kembali ke 
>>bumi, akan 
> lahir 
>> > > sebagai bayi di tahun 4 abad sebelum masehi. 
>> > > 
>> > > Akhirnya perlu anda ketahui, menurut ajaran Buddha, 
>>musuh utama 
>> > dari 
>> > > kita adalah KEBODOHAN, bukan setan-setan atau jin 
>>yang menyamar 
>> > > sebagai bidadari :o). Sebab kebodohan inilah yang 
>>menghalangi 
>> kita 
>> > > untuk mencapai pengertian yang benar. Lagi pula, 
>>saya tak 
> pernah 
>> > > mendengar konsep setan dalam ajaran Buddha. Jadi 
>>saya percaya 
>> > konsep 
>> > > setan tak ada dalam ajaran Buddha, kecuali dalam 
>>cerita-cerita 
>> yang 
>> > > sudah sering ditulis dengan tambahan bumbu-bumbu 
>>tentang 
>> gangguan 
>> > > oleh para penggoda terhadap meditasi Siddharta 
>>sebelum mencapai 
>> > > penerangan sempurna.
>> > > 
>> > > Salam dari Loeky
>> > > 
>> > > 
>> > > 
>>___________________________________________________________
>> > > Sent by ePrompter, the premier email notification 
>>software.
>> > > Free download at http://www.ePrompter.com.
>> > > 
>> > > 
>> > >          
>> > > __________________________________ 
>> > > Do you Yahoo!? 
>> > > Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard. 
>> > > http://promotions.yahoo.com/new_mail
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor 
> 
> Post message: [EMAIL PROTECTED]
> Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
> List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
> Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa 
Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN 
(467826)
========================================================================================
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke