http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/1/26/b1.htm

 
Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post
Pendidikan jangan Lahirkan SDM Bermental Priyayi 

Data terakhir Disnaker Bali menunjukkan angka pengangguran mencapai 442 ribu 
orang, jumlah ini tak sesuai dengan keadaan di lapangan, bahkan lebih dari itu. 
Selain ada pengangguran yang terselubung, ada juga orang yang malas bekerja. 
Disadari, mengatasi persoalan pengangguran sangat susah dan perlu pemecahan 
dari segala lini. Pendidikan perlu dibenahi agar tak melahirkan SDM bermental 
priyayi yang tak mau berusaha sendiri. Selain itu, perlu diterapkan pendidikan 
militer untuk menggembleng mental priyayi menjadi mental yang inovatif dan 
berjiwa wirausaha. Hal itu terungkap dalam acara Warung Global interaktif Bali 
Post, Selasa (25/1) kemarin yang disiarakan Radio Global FM Kinijani dan 
dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM.



==========================



Nyoman Ledang Asmara di Denpasar mengungkapkan kesedihannya mendengar begitu 
banyaknya pengangguran di Bali. Masalah ini adalah persoalan yang sangat sulit 
dan melilit untuk dipecahkan. Masalah ini tak mungkin bisa diberantas secara 
revolusi atau secara cepat, namun secara berangsur-angsur atau secara evolusi. 
Misalnya melalui media pendidikan yang mana pendidikan di zaman sekarang ini 
terlalu elite. Maksudnya, pelajar kini hanya tinggal naik turun kendaraan mewah 
untuk sampai di sekolahnya dan berdasi lagi. Cara pendidikan seperti ini 
melahirkan lulusan bermental priyayi karena mental mereka tak dilatih. Akhrinya 
produk pendidikan ini melahirkan mental pengangguran.

Dia juga mengusulkan agar diberikan latihan militer saja agar mereka yang sudah 
lulus di dalam mengembangkan imajinasi dan inovasi yang nantinya dapat 
mengembangkan diri mereka sendiri. Ia juga harus mengambil langkah setelah 
meninggalkan jenjang pendidikan. Namun, peran serta orangtua serta pemerintah 
dan penegak hukum tetap diperlukan sehingga pengangguran di Bali dapat 
diminimalisasi. 

Gus Delut di Denpasar menyatakan kesetujuannya dengan Nyoman Ledang Asmara. 
Namun, ia menambahkan, faktor ekonomi sangat berpengaruh menciptakan 
pengangguran. Saat ini pasang-surutnya ekonomi juga menyebabkan peningkatan 
pengangguran di Bali, sehingga diperlukan sekali peran dari pemerintah untuk 
membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya. Ia menambahkan, ada baiknya jika 
pemerintah menyediakan bahan dan fasilitas untuk mengembangkan industri rumah 
tangga (home industry) untuk mereka yang belum punya pekerjaan. 

Sudana Kendal di Denpasar menyatakan pendidikan militer juga perlu, di samping 
itu kita juga harus mampu mengembangkan usaha yang telah dikembangkan oleh 
orangtua kita untuk dikembangkan lebih maju lagi. Jangan hanya tergantung 
dengan lapangan kerja yang disediakan oleh pemerintah. Kalau toh orangtua tak 
mempunyai usaha, ia menyarankan carilah pekerjaan lain yang dapat menghasilkan 
uang dengan cara yang halal. Misalnya membuka bengkel atau garmen, di mana itu 
mempunyai prospek yang sangat bagus. 

Ngurah Bayan di Mengwi menyatakan lebih dari 442 ribu tenaga kerja yang 
menganggur di desa-desa. Bahkan, ia mengatakan banyak pengangguran yang 
terselubung. Mereka ini memiliki tanah luas di desanya kemudian mereka 
menganggur. Untuk mengurangi jumlah pengangguran ini ia mengharapkan ke depan 
agar orientasi pendidikan yang diubah. Jangan hanya mengejar gelar atau 
lulusan, namun juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. 

Ngurah Kapah di Penatih menyatakan kalau dianalisis banyak pekerjaan yang 
terbengkalai alias tidak mengalami jenjang dari primer, sekunder ke tersier 
(pekerjaaan yang berpendapatan tinggi), sehingga banyak tenaga kerja yang 
kelabakan. Hal ini disebabkan tingginya pendapatan dan banyak kesempatan untuk 
bekerja, namun tidak diambil. Karena semua lulusan yang menganggur tak mau 
mengambil pekerjaan primer (berpenghasilan kecil). ''Jadi, jangan sia-siakan 
kesempatan jika ada lowongan pekerjaan,'' ujarnya.

Dewa Pacung di Gianyar menyatakan peran serta aparat desa juga diperlukan untuk 
menelusuri orang-orang yang menganggur atau belum bekerja, sehingga pemerintah 
dengan mudah menjangkau  mereka dengan menyiapkan lapangan pekerjaan. Hal ini, 
ditambahkan Dewa Kakiang di Negara, bahwa lantaran gengsi yang gede dan sudah 
dimanjakan oleh orangtuanya, banyak anak muda sekarang malas mencari pekerjaan 
atau bekerja dengan orang lain. Banyaknya pendatang dari luar Bali yang 
mengambil kesempatan untuk bekerja di Bali menjadi sangat besar, banyak di 
antara mereka yang membuka lapangan kerja sendiri seperti berdagang 
kecil-kecilan di pinggir jalan. Dan, orang Bali sendiri hanya bengong menonton 
tak mau berusaha karena gengsi. "Harapan saya jangan cuma membeli, kita juga 
harus ikut berjualan," pintanya.

Komang Arta di Jembrana menyatakan tidak sedikit penyalur tenaga kerja yang 
menyimpang dari rasa kemanusiaan. Misalnya mempekerjakan karyawannya 
siang-malam, namun upah atau gaji yang diberikan tak sepadan dengan 
pekerjaannya itu. Akibatnya, banyak karyawan keluar dari suatu perusahaan dan 
pada akhirnya menjadi pengangguran. Solusinya adalah kembali lagi ke yang 
memberi pekerjaan, jangan seenaknya memberikan kerja kepada karyawan tanpa 
diimbangi pendapatan yang yang sepadan.

Sementara itu, Widi di Denpasar menyatakan Bali ini memang sangat potensial 
kalau masyarakat menyadari bahwa memang harus bekerja. Namun, semua itu harus 
disadari tanpa ada unsur gengsi, sehingga kesempatan untuk bekerja tak diambil 
oleh orang lain. Ia mengusulkan, lapangan pekerjaan di Bali harus disebar 
merata di seluruh Bali, jangan hanya di Bali Selatan seperti di Denpasar. 
Denpasar akan banyak dipadati pendatang untuk mencari pekerjaan, sedangkan di 
kampungnya ,sendiri misalnya Karangasem, kosong. Ini akibat tak dikembangkan 
lahan pekerjaan yang potensial di sana, sehingga pemerintah bisa menarik 
investor ke daerah tersebut. 

Sinda di Denpasar menyatakan pengangguran yang didata ke daerah-daerah harus 
jelas, berapa banyak dan apa latar belakangnya. Penganggur jangan hanya didata 
tanpa memberikan solusi yang jelas. Satu sarannya, masyarakat di Bali jangan 
gengsi mengambil kerjaan apa pun.

Sementara itu, Komang Karyawan di Denpasar menyatakan tak perlu susah-susah 
mencari pekerjaan untuk memperkaya orang lain. Yang penting, perlu ditanamkan 
jiwa wirausaha agar jangan terlalu tergantung dengan orang lain. Tentu saja 
perlu modal untuk membangun usaha tersebut. Jadi, dalam hal ini orang yang 
punya modal bisa memberikan suntikan dana bagi mereka yang ingin membuka usaha 
sendiri.

Ngurah Kadek di Seririt menyatakan jumlah pengangguran di lapangan pasti lebih 
banyak dibandingkan yang disebutkan Disnaker. "Saya harapkan kita tidak putus 
asa dalam mencari pekerjaan. Jangan bermalas-malasan, teruslah berusaha," 
harapnya.

* sikha


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke