Cerita Pengungsi Aceh di Gang Metal

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/25/Utama/ut06.htm

 

DI mulut gang itu tampak banyak mobil berjajar. Dari mobil-mobil itu diturunkan 
berbagai barang sumbangan berupa mi instan, beras, pakaian layak pakai, air 
dalam kemasan, makanan kaleng, dan banyak lagi. Ada pula yang membawa 
sayur-mayur dan buah-buahan segar.

 

Di sebuah bangunan rumah yang telah "disulap" menjadi ruang administrasi 
penerimaan sumbangan merangkap pos kesehatan, relawan mencatat jenis dan jumlah 
sumbangan, serta memberi tanda terima kepada penyumbang.

 

Gang Metal 5 di kawasan Pecinan Medan, sejak lama dikenal sebagai "kamp 
konsentrasi" pengungsi warga keturunan Tionghoa dari Aceh. Pada tahun 
1965-1966, ketika Pemerintah menumpas G30S, warga mengambil kesempatan untuk 
mengusir penduduk keturunan Tionghoa dari Tanah Rencong. Penjarahan dan 
pembunuhan terjadi.

 

Kaum etnis Tionghoa lari meninggalkan Aceh. Di Medan, mereka kebanyakan 
bermukim secara mengelompok di Gang Metal 5. Setelah pergolakan etnis berlalu, 
sebagian kembali ke Aceh, sebagian menetap di Gang Metal 5, dan sebagian lagi 
merantau ke tempat-tempat lain.

 

Sekarang, warga Gang Metal 5 menunjukkan solidaritas mereka dengan menyediakan 
"asrama" untuk menampung kaum etnis Tionghoa yang mengungsi dari daerah bencana 
tsunami di Aceh. Korban bencana politik menolong korban bencana alam!

 

Beberapa di antara mereka bahkan secara sukarela menunggu para pengungsi di 
Bandara Polonia, Medan. Bila melihat pengungsi etnis Tionghoa tidak dijemput 
keluarga, mereka segera menawarkan tempat penampungan di Gang Metal 5. Para 
pengungsi lain diantar ke penampungan pengungsi terdekat, atau keluarga mereka 
masing-masing.

 

Murung

 

Di dekat dapur umum, Chin Tjao Tek (88), tampak duduk murung sambil menunggu 
makan siang yang sebentar lagi dibagikan. Jatah makan tiga kali sehari, tempat 
tidur yang cukup nyaman di salah satu rumah penampungan, dan pemberian pakaian 
layak pakai yang tinggal pilih sesuai selera dan ukuran, rupanya belum 
membuatnya mampu menghapus nestapa.

 

"Cucu yang dititipkan kepada saya hilang," kata perempuan tua itu, pilu.

 

Ketika gelombang datang, ia lari membawa cucunya. Tetapi, air sedemikian deras, 
sehingga cucunya terlepas dari pegangan. Ia sendiri beberapa kali terantuk kayu 
besar, seng, dan puing bangunan lainnya, serta timbul-tenggelam dalam air bah 
yang hitam kotor.

 

Di depan Masjid Al Huda ia diselamatkan orang dan dibawa ke lantai yang tinggi. 
Ia selamat. Tetapi, tatapannya masih kosong bila bicara tentang cucunya yang 
hilang. "Untungnya", tidak ada yang menuntut sang nenek atas hilangnya sang 
cucu karena anak-menantunya pun semua hilang dalam musibah itu.

 

"Kampung Mulia dan Kampung Laksana musnah semua," kata Oei Mi Hang. Kedua 
kampung itu, kata perempuan itu, terletak di belakang Gereja Methodist di Banda 
Aceh, dan kebanyakan dihuni warga etnis Tionghoa.

 

Chow Fong Jiao, semula juga tinggal di Kampung Laksana, Banda Aceh. Perempuan 
berumur 55 tahun itu beruntung bisa lari ke lantai tiga rumahnya ketika air bah 
tiba-tiba memenuhi lantai satu rumahnya.

 

Dapur umum sudah buka! Antrean segera terbentuk. Siang itu lauknya sup sayur, 
empal, dan dua macam sayur. Nasi hangat mengepul dengan bau harum. Para 
pengungsi makan sambil duduk mengitari meja-meja panjang yang diatur di dekat 
dapur umum.

 

Dari sudut lauk-pauk dan ketertataan, dapur umum itu sangat berbeda dengan 
dapur umum yang terlihat di Kampung Syiah Kuala dan Darussalam, Banda Aceh, dua 
hari sebelumnya. Di sana mereka hanya mendapat nasi dengan mi instan yang 
dimasak pedas sebagai lauk. Mereka makan sambil berdiri atau duduk di mana saja 
di dekat dapur lapangan itu.

 

Dapur umum di Gang Metal 5 itu terletak di depan sebuah "gudang" sembako, 
bangunan yang sengaja dikosongkan untuk menampung semua barang sumbangan.

 

Karung beras dan kotak mi instan menumpuk hingga tinggi. Solidaritas masyarakat 
menampilkan wujud nyata setelah bencana gempa dan tsunami Aceh ini.

 

Mengejutkan melihat seorang pria yang tampak berdandan rapi, lengkap dengan 
ponsel PDA tergantung di pinggang, ikut mengambil jatah sembako dari gudang. 
Adik perempuannya yang memakai giwang berlian pun ikut mengangkut dus mi instan 
dan biskuit.

 

Mereka memang ternyata pengungsi dari Meulaboh. Tetapi, dengan kekayaan yang 
tampaknya cukup mereka miliki, mengapa pula tidak bisa mandiri, dan malah ikut 
berebut jatah sembako yang sebetulnya lebih menjadi hak yang kurang mampu?

 

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang perempuan setengah baya sedang memarahi 
anak perempuan berumur sekitar 5 tahun. "Dengar! Kamu tidak boleh keluar 
sendirian dari gedung ini, ya? Kalau lapar, bilang sama tante, atau sama 
tante-tante lain yang di meja panitia itu, ya?"

 

Anak perempuan itu rupanya baru saja keluar dari rumah pengungsian, mengejar 
tukang es. Ayah-ibunya hilang dalam bencana. "Semua ibu-ibu di sini menganggap 
dia anak kami, dan kami jaga baik-baik," kata Cik A Hua, seorang pengungsi Aceh 
yang sejak 1965 bermukim di Medan, dan kini menjadi salah seorang "panitia" 
tempat pengungsian di Gang Metal 5.

 

Bukan Jual-Beli

 

Malamnya, A Hua mengantar ke Gang Pendidikan, tempat penampungan bagi pengungsi 
anak-anak, tak jauh dari Gang Metal 5. Ia memperkenalkan dengan beberapa 
perempuan yang sudah kehilangan suami mereka dalam bencana tsunami. Wong Li Yun 
(38), semula beralamat di Jalan Perwira II, Banda Aceh. Ketika terjadi bencana, 
suaminya sedang keluar sebentar, dan tak pernah kembali lagi.

 

Wong membawa kelima anaknya - berumur 4, 5, 6, 9, dan 11 tahun - mengungsi ke 
Medan. Ia kelihatan sangat kebingungan dan kehilangan pengharapan. Menurut A 
Hua, tadi pagi Wong Li Yun hampir saja menyerahkan salah satu anaknya kepada 
orang tak dikenal yang ingin mengadopsi. Untung, anaknya berontak dan menangis 
keras-keras, sehingga adopsi kilat itu batal terjadi.

 

Fenomena seperti itulah yang tampaknya langsung menjadi isu "jual-beli" anak 
pengungsi. Sebetulnya yang terjadi adalah kondisi terdesak dari pihak si ibu 
yang buntu pemikirannya karena musibah yang mendadak membuat mereka kehilangan 
safety net dan support system mereka.

 

Ida (23), sedang hamil tujuh bulan, ketika harus kehilangan suami, ayah, dan 
ibunya, digulung gelombang tsunami di daerah Lampulo. Ia tampak sangat penakut, 
pemalu, dan tak percaya pada sembarang orang. Ia tak mau bicara kecuali lewat A 
Hua - mungkin sekali juga karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik dalam 
bahasa di luar dialeknya sehari-hari.

 

Masih tampak ragu-ragu ia menerima sekadar uang untuk mempersiapkan kelahiran 
bayinya. Mudah-mudahan pemberian itu membangkitkan kepercayaannya bahwa akan 
selalu ada orang yang bersedia membantunya.

 

A Hua kemudian mengantarkan ke dua rumah penampungan untuk pengungsi anak-anak. 
Rumah pertama dihuni lebih-kurang tujuh keluarga. Terlihat belasan anak kecil 
yang rata-rata telah menjadi yatim piatu.

 

Kasur tipis digelar di lantai untuk tempat tidur mereka. Tak ada perabotan 
lain. Sandang dan pangan terpenuhi. Tetapi, kebutuhan bermain belum tercukupi. 
Rombongan relawan serta-merta menyetujui membelikan sebuah televisi, agar 
mereka dapat sedikit terhibur.

 

Demikian pula ketika melihat beberapa di antara mereka belajar di lantai, 
segera saja terlontar janji membelikan meja belajar bagi mereka.

 

Di rumah penampungan kedua, tampak gambaran yang sama. Beberapa anak berbaring 
telungkup mengerjakan pekerjaan rumah di lantai. Mereka pun dijanjikan 
mendapatkan televisi dan meja belajar.

 

A Sin (18), berasal dari Kampung Laksana, Banda Aceh, menceritakan bagaimana ia 
mengungsi dari kota kelahirannya. "Kami naik Hercules TNI AU. Tidak bayar. 
Antre saja. Begitu cukup 80 orang, kami diterbangkan ke Medan."

 

Keterangan A Sin itu meyakinkan siapa pun yang mendengarnya, bahwa sebenarnya 
cerita "pemerasan" bagi warga Tionghoa yang mengungsi tidaklah benar. Kalaupun 
ada insiden seperti itu di sana-sini, tetap merupakan kekecualian. Bukan 
gambaran umum.

 

Ketika malam telah larut dan harus meninggalkan tempat itu, sebuah pertanyaan 
tiba-tiba muncul di benak. Mengapa di sini tampak seolah-olah kaum etnis hanya 
menolong sesama mereka?

 

Namun, sesungguhnya, kenyataannya tidaklah demikian. Secara nasional terbukti, 
kaum etnis Tionghoa memberi sumbangan signifikan kepada korban bencana - sama 
sekali tanpa memandang etnisitas. Pada tataran kenyataan di lapangan, pengungsi 
etnis Tionghoa bahkan "tidak diterima" - setidaknya, "merasa tidak diterima" - 
di tempat-tempat pengungsian umum.

 

Barak-barak pengungsian ternyata tidak bersifat inklusif bagi warga keturunan 
Tionghoa. Ada banyak kesenjangan yang akhirnya membuat mereka harus menerima 
kenyataan bahwa dalam malapetaka kemanusiaan pun mereka tidak setara dengan 
yang lain.

 

Potret pengungsi di Gang Metal 5 dan Gang Pendidikan Medan adalah gambaran 
memilukan dari kenyataan kebangsaan kita. Mengapa dalam situasi bencana pun 
warga etnis Tionghoa tidak berbaur dengan warga lainnya? Apakah karena tidak 
diterima oleh penduduk, atau sebaliknya?

 

Tak ada keberanian mengambil kesimpulan. Hanya tercatat satu tekad besar, 
mereka akan segera kembali ke Aceh dan memulai hidup baru. Esok masih ada 
matahari di Aceh!

 

LINDA WIDJAJA

Relawan untuk Aceh, tinggal di Jakarta. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke