KOMPAS - Friday, January 28, 2005Antara citra dan fakta 
POLITIKA 

Budiarto Shambazy 

DALAM acara Meet The Press di Metro TV akhir pekan lalu, Menteri 
Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil menekankan perlunya 
wartawan bersikap profesional. Pak Sofyan bermaksud baik, yakni 
kebebasan pers tak pelak lagi harus didukung sikap profesional setiap wartawan.

Namun, dalam acara yang dipandu wartawan Helmi Johannes itu, saya 
justru mempersoalkan profesionalisme para pejabat tinggi pemerintahan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng jelas 
tidak profesional tatkala menuding sopir bus Garuda sebagai penyebab terjadinya 
tabrakan di Jalan Tol Jagorawi.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab juga tidak 
profesional ketika menyalahkan "mafia" sebagai biang keladi 
amburadulnya proses ujian calon pegawai negeri sipil. Tak lama setelah itu, 
giliran Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaluddin juga mengucapkan 
pernyataan yang tidak profesional, yakni mengancam akan memecat ketua-ketua RT 
dan RW.

Dan, sebenarnya para menteri dan pejabat setingkat menteri yang 
tergabung di dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) ternyata terlambat dalam 
melaporkan kekayaan mereka. Padahal, batas waktu pelaporan kekayaan para 
menteri dan pejabat setingkat menteri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 
sudah lewat tenggat waktu 21 November 2004 yang dijanjikan Presiden SBY.

Apakah itu sikap yang profesional?

Dari acara Meet The Press itu, terungkap juga bahwa ada upaya dari "orang-orang 
istana" yang menghidupkan kembali "lembaga telepon" yang dulu sering diterapkan 
di masa Orde Baru. Orang-orang istana tersebut "membujuk" stasiun televisi 
nasional itu agar tidak merugikan citra 
SBY dalam pemberitaannya mengenai kecelakaan di Jalan Tol Jagorawi 
itu.

"Ah, enggak benar itu. Enggak ada lagi lembaga telepon," ujar Pak 
Sofyan dengan tegas. "Paling saya menelepon teman- teman wartawan 
untuk sekadar bertanya apa kabar," sambung Pak Sofyan, kali ini dengan 
nada bercanda.

Pak Sofyan jelas agak terganggu karena wilayah kerja dia sebagai 
menteri negara komunikasi dan informasi (menkominfo) seperti diurusi 
pula oleh pihak-pihak lain. Menurut dia, menkominfo berurusan dengan 
penjelasan mengenai policy pemerintah, sementara lembaga-lembaga lain 
seperti juru bicara biasanya cuma mengungkapkan kepada publik tentang 
aktivitas keseharian Presiden SBY.

Wartawan menikmati kebebasan pers sejak masa pemerintahan Presiden BJ 
Habibie tahun 1998. Ketika Presiden Megawati Soekarnoputri memerintah, 
hampir-hampir tidak ada larangan tak boleh memberitakan ini atau itu.

Pada masa Orde Baru, kebenaran mutlak berada di tangan menteri 
penerangan (menpen). Apa kata menpen, yang biasanya hanya meneruskan 
"petunjuk bapak presiden" tak boleh digugat kalau masih ingin bekerja 
sebagai wartawan.

Pemerintah selalu berada di pihak yang benar, tak boleh salah. 
Kalaupun kepepet, masih ada eufimisme bahasa yang bedanya kontras 
bagaikan antara langit dan bumi.

Jika ada orang yang tak disenangi Orde Baru, ia pasti "diamankan" 
walaupun kenyataannya menjalani penyiksaan oleh aparat keamanan. Kalau 
ada tokoh yang kritis yang nyata-nyata tidak ada kaitannya dengan 
komunisme, yang bersangkutan pasti disebut terlibat dalam sebuah 
"organisasi tanpa bentuk (OTB)".

JUJUR saja, Presiden SBY merupakan bagian dari struktur kekuasaan Orde 
Baru. Sebagai militer yang membina karier dari bawah, ia tahu betul 
bagaimana pers ketika itu-tak lebih tak kurang-hanya menjadi corong 
pembangunan.

Di kalangan ABRI kala itu, wartawan tidak ubahnya seperti "aparat" 
yang menjadi pelengkap pemberitaan saja. Wartawan hanya diizinkan 
menulis apa kata panglima kodam, Panglima Komando Cadangan Strategis 
TNI Angkatan Darat, kepala kepolisian daerah, Kepala Polri, sampai 
pada perwira-perwira rendahan saja.

Semua wartawan yang pernah meliput di kalangan tentara tahu persis 
bagaimana susahnya berurusan dengan para petinggi ABRI tersebut. Dan, 
maaf, termasuk di antara perwira- perwira tinggi itu adalah presiden 
kita sekarang ini.

Istilahnya, titik dan koma diperhatikan sekali. Pada masa kampanye 
pemilihan presiden putaran pertama dan kedua yang lalu terasa sekali 
bagaimana orang-orang di sekitar SBY bersikap curiga, bermusuhan, 
bahkan sewot juga jika mereka merasa dirugikan pemberitaannya.

Nah, oleh sebab itulah wajar sekali kepada Pak Sofyan saya bertanya: 
bagaimana kira-kira sikap presiden jika pers setelah 100 hari nanti 
melancarkan kritik terhadap kinerja pemerintah? Pak Sofyan menjawab, 
dan ini sebaiknya dicamkan dalam- dalam oleh setiap wartawan bahwa 
pemerintah tetap berkepentingan mengawal jalannya kebebasan pers kita.

Okelah, sikap itu pasti masih bisa dipercaya. Masalahnya, jika 
mengamati situasi belakangan ini, banyak juga rakyat yang mulai 
meragukan benarkah pemerintahan SBY dan Jusuf Kalla (JK) akan memenuhi 
janji- janji seperti pada masa kampanye pemilihan presiden?

Sedikitnya ada tiga orang yang mengatakan bahwa rakyat jangan memiliki 
ekspektasi besar atau sangat berharap terhadap pemerintahan SBY. Di 
depan anak-anak, Andi Mallarangeng bahkan mengatakan tidak mungkin SBY 
menyelesaikan begitu banyak masalah yang dihadapi bangsa ini.

Suka atau tidak, benar atau salah, sebagian rakyat memang berharap 
duet SBY akan seperti a knight with shining armour atau satrio 
piningit yang dapat diandalkan untuk memimpin kita. Namanya orang, 
masak sih enggak boleh berharap?

Lalu, mulai banyak juga para pejabat yang seperti meralat bahwa tak 
benar segala persoalan bangsa ini akan bisa diselesaikan dalam waktu 
100 hari. Wapres Jusuf Kalla bahkan pernah menuding media massa 
sebagai pihak yang mendramatisasi soal 100 hari itu.

Lha, bukankah duet SBY-JK sendiri yang mengumbar janji dengan 
menawarkan program 100 hari ke seluruh negeri?

Sebagian pembaca rubrik ini, yang saya tahu dulu mendukung SBY-JK, mengakui 
bahwa pemerintahan Presiden Megawati ternyata lebih get things done. ""Walau 
Megawati termasuk pendiam, ternyata itu pilihan yang lebih baik ketimbang 
mengumbar 'janji-janji surga'," tulis sang pembaca.

Saya hanya menjawab, ya tunggulah masih ada sekitar 50 hari lagi. 
Apakah citra benar-benar akan menjadi fakta? 













Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke