http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/29/opini/1511855.htm
 Sabtu, 29 Januari 2005 

Masih tentang Subsidi 

Oleh Ari A Perdana



Prof Mubyarto "menggugat" para ekonom yang bersikukuh, subsidi harus dihapus 
dari 

MASALAH subsidi dibahas Prof Mubyarto dan Prof Franz Magnis-Suseno pada pekan 
yang sama. Ini menunjukkan, masalah ini amat penting.

anggaran (Kompas, 12/1), dua hari kemudian (14/1) Prof Magnis- Suseno 
menyerukan agar pemerintah tidak menunda pencabutan subsidi bahan bakar minyak 
(BBM).

Meski yang diserukan sekilas bertolak belakang, kedua artikel itu tidak 
bertentangan. Keduanya tidak membicarakan hal yang sama. Prof Mubyarto 
mengkritik pendapat, segala bentuk subsidi adalah buruk untuk perekonomian 
(argumentum generalis). Sementara Prof Magnis-Suseno menyoroti perlunya 
pencabutan salah satu subsidi (subsidi harga BBM, argumentum specialis). 
Sebenarnya, ilmu ekonomi adalah ranah yang tidak hitam-putih. Jawaban ekonom 
atas aneka pertanyaan adalah "it depends".

Prof Widjojo Nitisastro pernah berkelakar tentang seorang mantan Presiden AS 
yang mencari ekonom yang hanya punya sebelah tangan. Alasannya, jika ditanya 
sesuatu, ekonom selalu menjawab, "on the one hand, but on the other hand.".

Begitu pula dengan subsidi. Apakah subsidi itu baik atau buruk, lagi-lagi, 
tergantung. Di satu sisi, ekonom neoklasik percaya, kondisi terbaik adalah jika 
intervensi pemerintah minimal. Di sisi lain, ada kondisi di mana intervensi 
berupa pemberian subsidi punya legitimasi. Misalnya sebagai instrumen transfer 
pendapatan guna tujuan redistribusi. Atau jika ada hal-hal struktural yang 
membuat pasar tidak bisa bekerja sempurna dalam menghasilkan alokasi sumber 
daya efisien.

DALAM buku teks ekonomi neoklasik apa pun, tidak pernah ada argumen yang 
eksplisit menolak subsidi. Bahkan, the second fundamental theorem of welfare 
economics mengatakan, dalam keadaan tertentu, gabungan antara mekanisme pasar 
dan transfer kekayaan (subsidi) secara lump sum bisa menghasilkan alokasi yang 
optimal secara Pareto (Mas-Collel, Whinston dan Green, Microeconomic Theory, 
hal 308).

Namun, teori ekonomi juga mengatakan dua hal lain. Pertama, di dunia ini tidak 
ada yang gratis. Jika kita menyubsidi sesuatu, berarti memindah dana dari satu 
kegiatan ke yang lain. Kita ingin agar dana yang berpindah itu tepat sasaran 
dan menghasilkan produktivitas lebih tinggi. Di sinilah perlunya targeted 
subsidy, yang diberikan kepada kelompok yang dituju. Bukan dengan memberi 
subsidi secara universal melalui instrumen harga.

Kedua, manusia bergerak atas dasar insentif. Jika sebuah kebijakan salah 
memberi insentif, akan muncul perilaku ekonomi yang salah. Harga adalah sebuah 
bentuk insentif, dalam hal ini insentif bagi konsumsi. Pajak dan subsidi atas 
harga suatu barang akan memengaruhi insentif guna mengonsumsi barang itu. Hasil 
bisa baik atau buruk tergantung bagaimana masyarakat merespons perubahan 
insentif yang dihasilkan.

Atas dua prinsip itu, subsidi yang diberikan pada konglomerat bermasalah, 
berbentuk BLBI dan penghapusan utang, adalah kebijakan yang salah. Pertama, 
dana yang dialokasikan untuk kebijakan itu tidak seimbang dengan keuntungan 
bagi perekonomian. Kedua, kebijakan itu memberi insentif yang salah bagi pelaku 
bisnis.

Dengan prinsip dan logika yang sama pula, saya sepakat dengan Prof 
Magnis-Suseno bahwa subsidi atas harga BBM, cepat atau lambat, harus 
dihapuskan. Subsidi atas harga memberi insentif bagi pelaku ekonomi untuk 
mengonsumsi terlalu banyak (dan konsumen terbesar BBM tentunya bukanlah rakyat 
miskin).

Subsidi harga membuat harga barang tidak mencerminkan kelangkaan sebenarnya. 
Akibatnya, seperti, insentif untuk mengembangkan teknologi alternatif menjadi 
berkurang. Sebaliknya, ada insentif untuk menyelundupkan BBM ke perbatasan 
karena ada paritas harga yang disebabkan subsidi.

BAGAIMANA dengan rakyat miskin? Preferensi masyarakat miskin bukan pada harga 
BBM murah, tetapi bagaimana agar kebutuhan dasar bisa terjangkau. Ini membuat 
kita berpikir ulang, apa yang sebenarnya dibutuhkan kaum miskin?

Artinya, subsidi atas harga BBM bukan kebijakan optimal. Tetapi, perlu ada 
kebijakan lain yang tidak medistorsi harga relatif BBM, di saat yang sama tidak 
mengurangi pendapatan riil kaum miskin. Caranya, dengan mengupayakan agar aneka 
kebutuhan dasar selalu tersedia dan terjangkau.

Jika masalahnya adalah harga pangan yang melonjak karena petani kurang 
produktif akibat harga pupuk yang tinggi, subsidi pupuk bisa dibenarkan. Dengan 
catatan, tidak ada monopoli dalam produksi dan distribusi pupuk yang membuat 
subsidi salah sasaran. Jika masalahnya biaya pendidikan, dana subsidi sebaiknya 
dialokasikan untuk sektor pendidikan, dan alokasi subsidi harus berorientasi ke 
jenjang pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah.

Kesimpulannya, jawaban atas perdebatan soal subsidi adalah "tergantung". Tidak 
ada alasan umum untuk menolak subsidi. Sebaliknya, pemberian subsidi harus 
didasarkan kebutuhan spesifik. Karena, subsidi tidak bisa menjadi sebuah solusi 
universal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Ari A Perdana Mahasiswa Kennedy School of Government, Harvard University, 
Cambridge, AS; Peneliti CSIS, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke