SBY mungkin pepesan kosong! 

    Tapi dia dipilih - secara demkratik - oleh orang Indonesia. 

    Dan saya melihat bahwa orang Indonesia TIDAK salah memilih SBY. 

    Mereka memilh diantara calon-calon yang ada. 

    Calon yang ada ketika itu TIDAK ada yang lebih baik dari SBY. 

    Jadi tugas orang yang ingin terlaksananya perbaikan di Indonesia
    adalah untuk - dari sekarang - memikirkan buat mencari lalu
    mendukung calon yang lebih baik dari SBY di pemilihan yang akan
    datang. 


On 28 Jan 2005, at 20:04, radityo djadjoeri wrote:

> SBY cuma pepesan kosong
>  
> SBY cuma pepesan kosong. Tapi rupanya, begitulah jadinya. Namanya Susilo 
> Bambang Yudoyono. Sang "jagoan" peraih Adhimakayasa, predikat lulusan terbaik 
> AKABRI tahun 1973. Juga mengenyam pendidikan militer kesohor Amerika di West 
> Point. Bahkan merampungkan strata S3 di IPB dengan menggondol cum 
laude lewat disertasinya tentang kesejahteraan petani di pedesaan. Kini 
“jagoan” itu hijrah dari kastilnya di Cikeas ke istana Merdeka, Presiden RI 
! 
> 
> Edan -  terpilih jadi presiden bukan lantaran prestasi akademiknya tapi 
> justru oleh kegantengannya, kegagahannya, kesopanannya, kekalemannya, oleh 
> popularisasi melalui sistem 'Indonesian Idol', dsbnya yang melibatkan para 
> pakar komunikasi profesional. 
> 
> Syahdan, ketika sudah jadi presiden, ia membentuk kabinet yang terdiri dari 
> orang-orang nyentrik : Aburizal Bakrie si konglomerat bermasalah, Sri Mulyani 
> si cecunguk IMF, Andi Malarangeng si ABG yang keberatan kumis dan sederetan 
> 'pasukan bodrex' dari negeri antah berantah. Termasuk si Marie 
Pangestu itu ! Belum lagi gerombolan petinggi-petinggi legislatif seperti Agung 
Laksono, Ginanjar dan sohib-sohibnya. 
> 
> Tentu saja, 'kebijakan'  yang mereka telorkan makin jauh dari harapan rakyat 
> : BBM naik, subsidi untuk Rakyat dicabut, tarif-tarif terus merangkak ke 
> atas, dan jeritan Rakyat dianggapnya sebagai simfoni sembilan Oda To Joy 
> karya Beethoven yang dibiarkan meraung-raung 'merdu'. 
> 
> Setelah si Yusuf' 'Bethara' Kalla berhasil menjadi Ketua Golkar, kini 
> 'jagoan' kita terkena 'penyakit bengong'. Sorot matanya yang memang dari 
> sononya sayu, kini makin pudar ronanya. Suntrut dan kehilangan gairah senyum. 
> Akronim SBY sekarang menjadi 'Susilo Bawahan Yusuf'. Dan si Kalla pun 
makin sok dan mulai berani sesumbar tanpa basa-basi : "Wajar toh, kalau BBM 
dinaikkan. Kan ini untuk menjamin keberlangsungan pembangunan", ujarnya sambil 
menyeka kumis Chaplin-nya. 
> 
> Apalagi ketika musibah tsunami melanda Aceh dan Sumut. Kalla berubah garang, 
> sementara si 'jagoan' makin kebingungan. Dan semua orang tahu belaka. Rakyat 
> Aceh kian menderita. Bantuan dari seluruh penjuru negeri sampai seminggu cuma 
> menumpuk di gudang, tidak mampu disalurkan, dan korban 
dibiarkan kelaparan. Setidaknya 90.000 lebih mayat bergelimpangan di seantero 
tempat, terabaikan dan membusuk dan paling-paling kemudian dikuburkan masal 
tanpa kafan. Di sisi lain, show of force armada AS dan kedatangan Collin Powell 
ke Aceh disambut dengan kata-kata, 'sahabat sejati'. 
Astafirullah liladzim … 
> 
> Sekarang jelas terlihat, dan Rakyat pun menjadi sadar. Kalau dulu rezim 
> Suharto dijuluki rezim militer-fasis maka predikat apa yang pantas menjadi 
> sebutan rezim SBY ini ? SBY lahir dari gua-garba militer dan dididik dari 
> kancah candradimuka orba, kemudian Yusuf Kalla dimakzulkan menjadi Ketua 
Golkar dari dukungan Aburizal dan Surya Paloh yang pengusaha kapitalis, Prabowo 
yang militer serta Agung Laksono yang Golkar dan Ketua DPR. 
> Nah, tak salah lagi, rezim yang berkuasa sekarang adalah rezim 
> neo-militer-fasis yang identik dengan neo-orba juga. 
> 
> Orientasi pembangunan rezim ini makin gamblang berperspektif ke arah 
> neo-liberal. Keledai pun tah
u bahwa ekonomi Indonesia kini berorientasi ke pasar bebas. Coba saja, Sri 
Mulyani jelas-jelas meng
arahkan pendulum kepada kepentingan ekonomi swasta tanpa menengok sedikit pun 
kepada ekonomi keraky
atan. Itu berarti bahwa kepentingan ekonomi Rakyat ditempatkan pada urutan 
belakangan. Artinya, kep
entingan Rakyat berada pada urutan 'nanti saja'. 
> 
> "Lho, bukankah sekarang pemerintah sedang getol-getolnya memberantas korupsi 
> ?" kata sementara or
ang yang belum sembuh dari penyakit dungunya. 
> 
> "Iya, ya benar. Saat ini para Bupati sedang blingsatan, pada takut. Mereka 
> lagi ramai-ramai menca
ri perlindungan paranormal. Biar selamat dari jeratan korupsi," timpal temannya 
yang ikut-ikut teri
mbas virus dungu. 
> 
> "Wah, apa benar sih, pemerintah mampu memberantas korupsi ?" sanggah lainnya 
> setengah bertanya. 

> 
> "Pemberantasan korupsi bukan hal baru, bung", ujar temannya yang lain lagi 
> mulai kritis. "Nyatany
a dari dulu tak ada hasilnya. Bagaimana mungkin maling menangkap maling." 
> 
> Memang demikian nyatanya. Banyak orang tidak yakin korupsi dapat diberantas. 
> Sejauh tidak adanya 
keberanian menerapkan konsep pembuktian terbalik dan meninggalkan prinsip 
praduga tak bersalah sert
a alasan ketakutan pada pelanggaran HAM, kejahatan korupsi mustahil dapat 
diberantas sampai tuntas.
 Apalagi para “pemberantas korupsi” ini masih berada dalam lingkup mafioso. 
Mereka maling juga.
 
> 
> Begitu naif bila kita beranggapan bahwa pemberantasan korupsi adalah 
> segala-galanya. Bukankah par
a penguasa dalam rezim neo-orba ini makin jelas berperan sebagai 
komprador-komprador yang licin ? M
ereka ini senyatanya adalah para pengabdi setia kapitalis global. Senyampang 
membiarkan berlangsung
nya proses pembabatan hutan lewat ilegal-logging (yang setiap hari merugikan 
negara sebesar Rp.83 m
ilyar), mereka terus melestarikan penjarahan kekayaan bumi Nusantara oleh 
tuan-tuan kapitalis globa
l mereka. Lihatlah Freeport, Inco, Buyat, Exon, Conoco, Shell, Mobiloil dan 
Multi National Corporat
ion lainnya. Sejauh kepentingan tuan-tuan mereka tidak terusik, apa pedulinya 
dengan kepentingan Ra
kyat sendiri. 
> 
> Mari kita sejenak merenung. 
> 
> Rezim ini begitu takut menyakiti hati tuannya. Kasus bom Bali, bom Marriot, 
> bom Kuningan yang per
soalannya sangat rumit, begitu sigapnya mereka atasi, sementara kasus peracunan 
Munir yang sudah je
las lokasinya, jelas saatnya dan jelas kronologisnya, begitu ogah-ogahan mereka 
bertindak. Belum la
gi kasus Buyat. Dengan getol mereka berkelit mencari pembenaran. Fakta lapangan 
yang menunjukkan bu
kti nyata penderitaan Rakyat, mereka kesampingkan begitu saja. 
> 
> Bahkan dulu, sebelum sang 'jagoan' jadi presiden, seorang menteri nekat 
> berani pasang badan berha
dapan dengan Rakyat. 
> 
> Tahukah anda, rezim ini tetap memberi peluang bersimaharajalelanya impor 
> gula, impor bawang putih
, bawang merah, beras, jagung, kedelai dan sebagainya, sementara para petani 
kita kelimpungan tak b
erdaya. Sebaliknya impor pakaian-bekas yang justru mampu sedikit memberi nafkah 
para pedagang kakil
ima, mereka larang mati-matian ? 
> 
> Satu lagi, tahukah anda bahwa 70% pemasukan keuangan negara dalam RAPBN 
> berasal dari Rakyat melal
ui pajak dan 60% dari padanya diperuntukkan membayar hutang, sementara Rakyat 
sendiri tidak pernah 
menikmatinya ? 
> 
> Jelas sudah, rezim neo-orba dengan sengaja telah menarik garis demarkasi 
> untuk berhadapan dengan 
Rakyat. Mereka di sana, kita di sini. Mereka menindas, kita ditindas, termasuk 
menindas Rakyat yang
 berani berlawan. Buktinya, kasus Bojong, kasus demo mahasiswa dan kasus-kasus 
lainnya. Mereka beri
ngas, Rakyat dilibas. Mentang-mentang sudah punya kuasa ! 
> 
> Oke, bung. Tunggu saja hari pembalasan. Ketika Rakyat sudah menyadari arti 
> persatuan, ketika Raky
at sudah memiliki keberanian, ketika Rakyat sudah tidak tahan lagi dan siap 
serta terpaksa harus me
manggul metraliyur untuk membela diri dan ketika rezim sudah makin kebingungan. 
> 
> Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Tak perlu lagi menanti mentari terbit 
> di ufuk timur. 
> 
> "Enjing bidal gamuruh. Saking nagari Wiroto. Obro busananiro. Lir suryo 
> wedaliro. Lumaksono magit
o-gitooooo !" Begitu analoginya seperti yang diucapkan Ki dalang NartoSabdo. 
> 
> Dulu, melalui janji-janjinya, SBY merajutkan mimpi untuk kita Gebrakan 100 
> hari sang 'jagoan', ny
atanya justru membangunkan kita pada realita. 
> 
> Yah, c u m a  p e p e s a n  k o s o n g ! 
> 
> 
> Jakarta, medio Januari 2005. 
> 
> Lembaga Studi dan Pengembangan "Kedaulatan Rakyat"
> 
> 
> 
> 
> Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke