From: Ali Aziz <[EMAIL PROTECTED]> 
Date: Thu Jan 27, 2005 10:24 am 
Subject: Kasus Pura Buleleng jilid II - Buat Sdr Wayan Ilham

Assalamu'alaikum Wr. Wb 
Saya Muhammad Ali Aziz, karena kebetulan saya mengajar sejarah Islam 
baik kelas reguler maupun Pasca Sarjana di IAIN Sunan Ampel, Jl. Ach. 
Yani 117 Surabaya 60237 dengan telp 31 841 0298. Selain mengajar di 
tempat tersebut, saya juga adalah dosen tamu (dosen terbang) di Bali 
untuk beberapa Universitas dan Sekolah Tinggi di Bali. Pekerjaan 
tersebut telah saya jalani sekian lama, maka dari itu budaya dan 
karakter orang Bali saya sangat memahaminya. 
Membaca tulisanmu mengenai kasus pembakaran Pura yang terjadi di 
Legian, sebenarnya saya ingin menanggapi lebih awal, tetapi karena 
keterbatasan waktu maka malam ini saya mencoba untuk menanggapinya, 
semoga berkenan. 
Untuk saudara Wayan Ilham, setelah membaca beberapa tulisanmu, 
terutama yang terakhir mengenai Pura Legian ini, saya tahu bahwa 
karakter seorang Bali melekat padamu, yaitu menceritakan suatu 
masalah hanya pada intinya, sedangkan hal-hal yang cukup 
kontroversial, anda tidak menceritakannya, saya mengerti hal ini 
adalah untuk menjaga perasaan orang lain, atau anda tidak mau polemik 
tersebut berkepanjangan. 
Sebagai dosen tamu di Bali, saya sendiri juga sering sekali menerima 
pertanyaan atau laporan yang "tidak nyaman" dari civitas akedemi di 
Bali maupun dari mahasiswa yang mengikuti kuliah saya. Contohnya 
salah satu adalah mengenai kasus Pura Legian tersebut. Memang masalah 
ini agak meresahkan, dan baiknya saya ceritakan sedikit dari awal 
mengenai hal-hal yang tidak anda ceritakan. 
Mulanya memang tanah kosong tersebut adalah milik orang Bali di 
Legian, tanah tersebut kemudian dihibahkan kepada seorang temannya 
yang keturunan Jawa karena melihat temannya tersebut hidupnya 
memprihatinkan. Tanah tersebut mulanya didirikan sebagai warung 
makanan. tetapi setelah berlalu 2 tahun, mungkin kurang laku atau 
apa, orang jawa tersebut kemudian mengalihkan lagi ke pihak lain, 
sedangkan dia sendiri bersama keluarganya kembali ke Jawa setelah 
mendapatkan dana dari hasil jual tanah tersebut. 
Masalah memang muncul, tahu-tahunya ditempat tersebut bediri sebuah 
bangunan mesjid yang dalam tahap awal. Padahal daeah tersebut memang 
adalah tanah sakral bagi orang Bali sendiri. Memang pendirian mesjid 
tersebut "sedikit" meresahkan warga sekitarnya, karena selain jalan 
di depan mesjid tersebut dijadikan tempat "jala uang", musik atau 
azan yang "terlalu keras" atau anak kecil dikerahkan mendekati turis-
turis asing untuk meminta sumbangan pembangnan mesjid. Dan saya tidak 
tahu dari mana anak-anak tersebut belajar, jika turis tidak mengerti 
apa yang diminta anak tersebut karena komunikasi tidka bisa jalan, 
atau tidak dihiraukan, maka anak-anak tersebut menunjukkan jari 
tengah sambil berteriak F... Y..., suatu kata yang sangat tidak 
sopan. Mungkin hal tersebutlah yang membuat penatua agama Hindu Bali 
merasa tersinggung dan juga masyarakat sekitar merasa tidak nyaman 
karena gangguan-gangguan suara lodspeaker. S 
Selanjutnya saya tidak perlu ceritakan lagi, karena telah anda 
ceritakan melalui tulisanmu. 
Saudara Wayan, saya ingin menjelaskan tentang beberapa keadaan yang 
terjadi tersebut. Seperti misalnya FPBM, saya pernah bertemu dengan 
pengurusnya dan menanyakan, mengapa kata Pengislaman tersebut 
dipakai, karena berbau "ektrim" dan sedikit menakutkan. Pengurus 
tersebut mengatakan bahwa kata itu dipilih berdasarkan kesepakatan 
bersama anggota, jadi nama itulah yang dipakai. Dan menurut 
pengamatan saya, FPBM ini adalah cerminan sekelompok anak muda yang 
ingin menonjolkan keberadaan mereka dengan memakai nama yang "keren" 
Mengenai orang Jawa yang tinggal di Bali, saudaraku Wayan, bahwa pada 
umumnya mereka ke Bali sebagai pekerja perkebunan di era tahun 70 an 
dan kemudian yang datang juga adalah para pekerja yang menjual tenaga 
mereka. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa umunya pendidikan 
mereka tidak tinggi, dan dimana juga orang yang dari suku yang sama 
lebih senang membentuk komunitas mereka sendiri, sehingga terjadilah 
kampung-kampung Jawa di Bali Jadi biasanya untuk orang yang demikian 
mereka mempunyai solidaritas yang tinggi sekali baik mengenai suku 
maupun agama. Jadi mereka sangat mudah sekali diprovokasi oleh pihak 
lain yang tidak bertanggungjawab atau terprovokasi atas isyu yang 
belum tentu benar. Di era tahun sebelum 2000, saya sering mengundang 
AA Gym untuk memberikan ceramah-ceramah yang sejuk di kampung-kampung 
Jawa tersebut. Tetapi sayangnya sekarang AA sudah cukup tenar dan 
sibuk dengan dakwah di televisi sehingga tidak ada waktu lagi untuk 
berkunjung 
Sebenarnya diantara kami , misalnya Gus Solah (Salahuddin Wahid, AA, 
Imron dan beberapa orang lainnya berpendapat bahwa Islam sekarang di 
Indonesia menjadi terlalu "merah", maka tidak bosan-bosannya kami 
memberikan dakwah yang berisifat sejuk, meneduhkan dan mengajak tidak 
mudah mengikuti pancingan segelintir yang mengatasnamakan Islam yang 
sebenarnya tujuannya untuk merusak ajaran agama Islam. 
Saudara Wayan, karena surat ini saya tujukan kepadamu, maka saya 
tidak memakai ayat-ayat yang di Al Quran atau kata-kata yang mungkin 
akan membingungkanmu, karena saya mengerti anda adalah seorang rekan 
saya yang beragama Hindu Bali. 
Sebenarnya saya pribadi dan kalau boleh mewakili Muslim di Indonesia 
menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya atas beberapa kejadian 
pengrusakan pura di Bali, baik Pura di Buleleng maupun kejadian yang 
terjadi di Legian tersebut. Saya harapkan anda dan masyarakat Bali 
pada umumnya memandang hal tersebut cuma dilakukan oleh segelintir 
orang yang mengatas namakan Islam dan bukannya Islam mengajarkannya 
demikian. Penyampaian tersebut tulus, dan juga kami pernah juga 
menyampaikan yang sama kepada masayarakat Bali setelah kasus pura 
Legian tersebut. Dan saya percaya masyarakat bali yang cinta damai 
dapat memilah dengan arif kejadian tersebut. 
Oh ya, selain itu saya ada membaca milis yang menyatakan bahwa anda 
menghasut dan membuat fitnah. Secara pribadi saya sangat menyayangkan 
tulisan tersebut, karena dalam beberapa tulisan anda, walaupun saya 
tidak berada di tempat kejadian, tapi saya tahu itu benar adanya. 
Memang jika seseorang yang tidak mengetahui "sesuatu" atau tidak 
membaca kejadian tentang "sesuatu" dan lantas menuduh "sesuatu" 
tersebut adalah tidak benar. Kenyataan tersebut cukup menyedihkan, 
apalagi jika orang tersebut mempunyai pendidikan yang cukup. orang 
Islam sejati tidak akan berhenti menyampaikan minta maaf bila terjadi 
kesalahan, karena memang demikian titah yang diajarkan oleh junjungan 
kita Nabi Muhammad. 
Oh yah, saudara Wayan, karena waktu saya sangat terbatas, maka saya 
juga tidak bisa memberikan anda tulisan yang lebih panjang, karena 
keterbatasan waktu saya di bidang akademi cukup padat. Mungkin kalau 
saudara Wayan Ilham berkenan ke Surabaya, anda boleh menghadiri kelas 
saya, dimana sekarang saya mengajarkan mata kuliah sejarah Islam baik 
di S1 maupun di program pasca Sarjana, dan semoga anda mempunyai 
pemahaman yang lebih baik tentang Islam itu sendiri, dan jangan 
terpaku atas tindakan segelintir yang mengatas namakan Islam. 
Terakhir, selain saya harapkan juga anda dapat menyampaikan salam dan 
minta maaf tersebut kepada keluarga, sahabat maupun masyarakat Bali 
dari saya pribadi maupun Muslim di Indonesia atas kejadian tersebut. 
Saya harapkan anda terus menulis, karena dari beberapa tulisanmu, 
saya sangat merasa dekat dengan anda dan juga Bali. 
Billaahi-taufiq wai- ihdayaah 
Wassalam'alaikum wr. wb 
KH. Drs Muhammad Ali Azis, MM




--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Berikut tanggapan dari orang asli Bali tentang berita pengrusakan 
pura.
> Semoga dapat menjernihkan suasana.
>  
> 
> 
> Note: forwarded message attached.
> 
> 
> Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke