Masalah korupsi di negara ini memang seperti tidak pernah ada selesainya. 
Banyak hal yang telah digembar-gemborkan sekaligus tidak sedikit yang hilang 
seperti asap yang membumbung ke atas lalu pudar. 
Kebutuhan akan adanya transparansi dalam penanganan kasus korupsi agaknya 
memang masuk akal, koruptor menjadi seperti ikan-ikan dalam aquarium yang dapat 
dengan mudah diawasi.

Maka Jaksa Agung tidak bisa dengan mudahnya mengeluarkan SP3 (surat perintah 
penghentian penyidikan) dan Komisi Kejaksaan tidak lagi diduga-duga sebagai 
tameng dari Jaksa Agung.

Transparansi akan membawa banyak keuntungan bagi berbagai pihak, Kejaksaan 
maupun masyarakat, kecuali koruptor yang sedang diadili tentunya.
Selain akan sangat menguntungkan, transparansi bisa menjadi momok tersendiri 
bagi beberapa anggota birokrat yang selama ini bertindak tidak benar alias 
telah keluar jalur. Dan hal ini bisa menambah jumlah masalah.
 
Sedangkan penanganan kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) membutuhkan dana 
yang cukup besar dan hal ini terhalang dengan gemuknya birokrasi pemerintahan 
Indonesia yang tidak pernah diaudit selama 59 tahun sejak negara ini merdeka. 
Pengeluaran negara untuk menggaji para pegawai birokrasi teramat besar 
sedangkan kinerjanya tidak terlalu efektif.
Banyaknya pegawai berimbas pada banyaknya gaji yang harus diberikan dengan 
resiko gaji yang minim. Kurangnya gaji berakibat munculnya korupsi yang 
dibenarkan oleh diri sendiri. 
Menanggapi hal ini mungkin ada benarnya kalau mempunyai menteri dan pejabat 
negara yang berkompeten dan sudah kaya, jadi tidak perlu mengerjakan pekerjaan 
sambilan dalam tanda kutip tersebut.
 
Selama ini masyarakat beranggapan bahwa Program 100 hari pemerintahan Kabinet 
Indonesia Bersatu mampu menyelesaikan segala bentuk permasalahan dalam kurun 
waktu 100 hari saja.
Dan iklan "Gebrakan 100 Hari Susilo Bambang Yudhoyono" menjadi brain image yang 
menciptakan sosok super hero. Tentunya hal ini tidak benar, bukan berarti 
segala masalah termasuk KKN sanggup tuntas dan selesai begitu cepat. 
Kesalahpahaman inilah yang patut diluruskan. Yang dimaksud adalah sistem kerja 
dan cara kerjanya yang semacam diberi deadline dan beberapa target yang 
direncanakan untuk dicapai.Walaupun begitu lebih baik lagi kalau suatu perkara 
diselesaikan dengan jujur dan seadil-adilnya, tanpa terburu-buru untuk mengejar 
target "setoran".Hal serupa juga telah dikemukakan oleh Abdul Rahman Saleh 
selaku Jaksa Agung yang  mengatakan bahwa:  tidak ada target "mengejar setoran" 
dalam melaporkan dan menuntaskan perkara di jajaran kejaksaan, selama masa 100 
hari pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KOMPAS, 24 Januari 2005). 

Bagaimanapun juga presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah manusia biasa dengan 
tanggung jawab besar, begitu pula Kejaksaan bukanlah Superman.
Dan kita tidak lagi bersama Baharuddin Lopa sehingga ada baiknya sebagai suatu 
bangsa, kita tidak terus-terusan menengok masa lalu dengan tujuan untuk 
menyayangkan, merindukan dan selalu bertanya-tanya, "kenapa...oh...kenapa 
begini?".

Ada momen dimana sebagai bangsa yang sangat multikultural berdiri tegak dan 
berani menghadapi tantangan dan resiko tanpa tangis dan keluh kesah. Karena 
dimana kita menabur pasti kita menuai, dalam bentuk apapun itu.
Berbicara tentang suatu semangat bangsa, mau tidak mau kita berbicara masalah 
nasionalisme sedangkan nasionalisme sendiri bisa menjadi suatu racun layaknya 
Hitler yang kelewat chauvinis.

Disinilah saat hati yang berbicara menerobos segala batas nasionalisme dan 
meraih hal yang lebih tinggi lagi sebagai manusia dengan perasaan yang lebih 
universal.
Tanpa membedakan ras mana yang lebih tinggi begitu pula tentang siapa yang akan 
diadili. Pejabat tinggi atau orang terkaya seharusnya sama saja.

Di Indonesia Kejaksaan seharusnya sudah diposisikan secara tepat sesuai dengan 
pemerintahan kita yang berasaskan demokrasi yang berdasar atas hukum 
(rechsstaat) sehingga posisi lembaga peradilan tidak bergantung kepada siapapun 
sehingga bebas dan merdeka tanpa tekanan dari pihak manapun.Tetapi efektifitas 
kinerjanya masih saja tersendat-sendat apalagi masih banyaknya pejabat yang 
belum melaporkan kekayaannya kepada KPK ( Komisi Pemberantasan Tindak Pidana 
Korupsi ). Ditambah pejabat yang berbohong tentang jumlah kekayaannya dengan 
alasan takut dimasukkan dalam kasus tindak pidana korupsi.
 
 
Jeni Sudarwati
JOIN http://groups.yahoo.com/group/jenisudarwati
 
 
 

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn more.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke