Calon presiden pilihan cuman 3. SBY, Mega dan Dadeng Sumardji 
Schwarzenegger. Yang 1 pepesan kosong, yang 1 sagala kosong (kadut 
nya aja yang penuh), yang 1 lagi dulur na the Terminator.

Artinya, Indonesia memang terjepit gak punya pilihan lagi. Terpaksa 
nerima pepesan kosong. Paling tidak, bungkusnya ada sisa sisa bumbu 
pepes yang bisa at least dijilatin.

SBY ganteng???? Wah, bisa bisa yang milih SBY tuh either wanita atau 
Gay.

Martha Rumimper

--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> SBY cuma pepesan kosong
>  
> SBY cuma pepesan kosong. Tapi rupanya, begitulah jadinya. Namanya 
Susilo Bambang Yudoyono. Sang "jagoan" peraih Adhimakayasa, predikat 
lulusan terbaik AKABRI tahun 1973. Juga mengenyam pendidikan militer 
kesohor Amerika di West Point. Bahkan merampungkan strata S3 di IPB 
dengan menggondol cum laude lewat disertasinya tentang kesejahteraan 
petani di pedesaan. Kini “jagoan” itu hijrah dari kastilnya di 
Cikeas ke istana Merdeka, Presiden RI ! 
> 
> Edan -  terpilih jadi presiden bukan lantaran prestasi akademiknya 
tapi justru oleh kegantengannya, kegagahannya, kesopanannya, 
kekalemannya, oleh popularisasi melalui sistem 'Indonesian Idol', 
dsbnya yang melibatkan para pakar komunikasi profesional. 
> 
> Syahdan, ketika sudah jadi presiden, ia membentuk kabinet yang 
terdiri dari orang-orang nyentrik : Aburizal Bakrie si konglomerat 
bermasalah, Sri Mulyani si cecunguk IMF, Andi Malarangeng si ABG 
yang keberatan kumis dan sederetan 'pasukan bodrex' dari negeri 
antah berantah. Termasuk si Marie Pangestu itu ! Belum lagi 
gerombolan petinggi-petinggi legislatif seperti Agung Laksono, 
Ginanjar dan sohib-sohibnya. 
> 
> Tentu saja, 'kebijakan'  yang mereka telorkan makin jauh dari 
harapan rakyat : BBM naik, subsidi untuk Rakyat dicabut, tarif-tarif 
terus merangkak ke atas, dan jeritan Rakyat dianggapnya sebagai 
simfoni sembilan Oda To Joy karya Beethoven yang dibiarkan meraung-
raung 'merdu'. 
> 
> Setelah si Yusuf' 'Bethara' Kalla berhasil menjadi Ketua Golkar, 
kini 'jagoan' kita terkena 'penyakit bengong'. Sorot matanya yang 
memang dari sononya sayu, kini makin pudar ronanya. Suntrut dan 
kehilangan gairah senyum. Akronim SBY sekarang menjadi 'Susilo 
Bawahan Yusuf'. Dan si Kalla pun makin sok dan mulai berani sesumbar 
tanpa basa-basi : "Wajar toh, kalau BBM dinaikkan. Kan ini untuk 
menjamin keberlangsungan pembangunan", ujarnya sambil menyeka kumis 
Chaplin-nya. 
> 
> Apalagi ketika musibah tsunami melanda Aceh dan Sumut. Kalla 
berubah garang, sementara si 'jagoan' makin kebingungan. Dan semua 
orang tahu belaka. Rakyat Aceh kian menderita. Bantuan dari seluruh 
penjuru negeri sampai seminggu cuma menumpuk di gudang, tidak mampu 
disalurkan, dan korban dibiarkan kelaparan. Setidaknya 90.000 lebih 
mayat bergelimpangan di seantero tempat, terabaikan dan membusuk dan 
paling-paling kemudian dikuburkan masal tanpa kafan. Di sisi lain, 
show of force armada AS dan kedatangan Collin Powell ke Aceh 
disambut dengan kata-kata, 'sahabat sejati'. Astafirullah liladzim 
… 
> 
> Sekarang jelas terlihat, dan Rakyat pun menjadi sadar. Kalau dulu 
rezim Suharto dijuluki rezim militer-fasis maka predikat apa yang 
pantas menjadi sebutan rezim SBY ini ? SBY lahir dari gua-garba 
militer dan dididik dari kancah candradimuka orba, kemudian Yusuf 
Kalla dimakzulkan menjadi Ketua Golkar dari dukungan Aburizal dan 
Surya Paloh yang pengusaha kapitalis, Prabowo yang militer serta 
Agung Laksono yang Golkar dan Ketua DPR. 
> Nah, tak salah lagi, rezim yang berkuasa sekarang adalah rezim neo-
militer-fasis yang identik dengan neo-orba juga. 
> 
> Orientasi pembangunan rezim ini makin gamblang berperspektif ke 
arah neo-liberal. Keledai pun tahu bahwa ekonomi Indonesia kini 
berorientasi ke pasar bebas. Coba saja, Sri Mulyani jelas-jelas 
mengarahkan pendulum kepada kepentingan ekonomi swasta tanpa 
menengok sedikit pun kepada ekonomi kerakyatan. Itu berarti bahwa 
kepentingan ekonomi Rakyat ditempatkan pada urutan belakangan. 
Artinya, kepentingan Rakyat berada pada urutan 'nanti saja'. 
> 
> "Lho, bukankah sekarang pemerintah sedang getol-getolnya 
memberantas korupsi ?" kata sementara orang yang belum sembuh dari 
penyakit dungunya. 
> 
> "Iya, ya benar. Saat ini para Bupati sedang blingsatan, pada 
takut. Mereka lagi ramai-ramai mencari perlindungan paranormal. Biar 
selamat dari jeratan korupsi," timpal temannya yang ikut-ikut 
terimbas virus dungu. 
> 
> "Wah, apa benar sih, pemerintah mampu memberantas korupsi ?" 
sanggah lainnya setengah bertanya. 
> 
> "Pemberantasan korupsi bukan hal baru, bung", ujar temannya yang 
lain lagi mulai kritis. "Nyatanya dari dulu tak ada hasilnya. 
Bagaimana mungkin maling menangkap maling." 
> 
> Memang demikian nyatanya. Banyak orang tidak yakin korupsi dapat 
diberantas. Sejauh tidak adanya keberanian menerapkan konsep 
pembuktian terbalik dan meninggalkan prinsip praduga tak bersalah 
serta alasan ketakutan pada pelanggaran HAM, kejahatan korupsi 
mustahil dapat diberantas sampai tuntas. Apalagi para “pemberantas 
korupsi” ini masih berada dalam lingkup mafioso. Mereka maling 
juga. 
> 
> Begitu naif bila kita beranggapan bahwa pemberantasan korupsi 
adalah segala-galanya. Bukankah para penguasa dalam rezim neo-orba 
ini makin jelas berperan sebagai komprador-komprador yang licin ? 
Mereka ini senyatanya adalah para pengabdi setia kapitalis global. 
Senyampang membiarkan berlangsungnya proses pembabatan hutan lewat 
ilegal-logging (yang setiap hari merugikan negara sebesar Rp.83 
milyar), mereka terus melestarikan penjarahan kekayaan bumi 
Nusantara oleh tuan-tuan kapitalis global mereka. Lihatlah Freeport, 
Inco, Buyat, Exon, Conoco, Shell, Mobiloil dan Multi National 
Corporation lainnya. Sejauh kepentingan tuan-tuan mereka tidak 
terusik, apa pedulinya dengan kepentingan Rakyat sendiri. 
> 
> Mari kita sejenak merenung. 
> 
> Rezim ini begitu takut menyakiti hati tuannya. Kasus bom Bali, bom 
Marriot, bom Kuningan yang persoalannya sangat rumit, begitu 
sigapnya mereka atasi, sementara kasus peracunan Munir yang sudah 
jelas lokasinya, jelas saatnya dan jelas kronologisnya, begitu ogah-
ogahan mereka bertindak. Belum lagi kasus Buyat. Dengan getol mereka 
berkelit mencari pembenaran. Fakta lapangan yang menunjukkan bukti 
nyata penderitaan Rakyat, mereka kesampingkan begitu saja. 
> 
> Bahkan dulu, sebelum sang 'jagoan' jadi presiden, seorang menteri 
nekat berani pasang badan berhadapan dengan Rakyat. 
> 
> Tahukah anda, rezim ini tetap memberi peluang bersimaharajalelanya 
impor gula, impor bawang putih, bawang merah, beras, jagung, kedelai 
dan sebagainya, sementara para petani kita kelimpungan tak berdaya. 
Sebaliknya impor pakaian-bekas yang justru mampu sedikit memberi 
nafkah para pedagang kakilima, mereka larang mati-matian ? 
> 
> Satu lagi, tahukah anda bahwa 70% pemasukan keuangan negara dalam 
RAPBN berasal dari Rakyat melalui pajak dan 60% dari padanya 
diperuntukkan membayar hutang, sementara Rakyat sendiri tidak pernah 
menikmatinya ? 
> 
> Jelas sudah, rezim neo-orba dengan sengaja telah menarik garis 
demarkasi untuk berhadapan dengan Rakyat. Mereka di sana, kita di 
sini. Mereka menindas, kita ditindas, termasuk menindas Rakyat yang 
berani berlawan. Buktinya, kasus Bojong, kasus demo mahasiswa dan 
kasus-kasus lainnya. Mereka beringas, Rakyat dilibas. Mentang-
mentang sudah punya kuasa ! 
> 
> Oke, bung. Tunggu saja hari pembalasan. Ketika Rakyat sudah 
menyadari arti persatuan, ketika Rakyat sudah memiliki keberanian, 
ketika Rakyat sudah tidak tahan lagi dan siap serta terpaksa harus 
memanggul metraliyur untuk membela diri dan ketika rezim sudah makin 
kebingungan. 
> 
> Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Tak perlu lagi menanti 
mentari terbit di ufuk timur. 
> 
> "Enjing bidal gamuruh. Saking nagari Wiroto. Obro busananiro. Lir 
suryo wedaliro. Lumaksono magito-gitooooo !" Begitu analoginya 
seperti yang diucapkan Ki dalang NartoSabdo. 
> 
> Dulu, melalui janji-janjinya, SBY merajutkan mimpi untuk kita 
Gebrakan 100 hari sang 'jagoan', nyatanya justru membangunkan kita 
pada realita. 
> 
> Yah, c u m a  p e p e s a n  k o s o n g ! 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke