so what? islam di aceh itu sdh jadi tradisi, bukan lagi sekedar agama 
yang dipeluk oleh orang aceh. kayak hindu di bali, itu sudah jadi 
tradisi. tradisi itu melekat, susah dilepas dan kaku. beda dgn agama, 
dimana2 bisa dijual-belikan, digotong kemana2, flexible, dsb. agama 
biasanya menyesuaikan dgn tradisi utk dapat diterima masyarakat dan 
sukses dalam misinya. tapi jarang2 tradisi itu diekspor keluar, 
kecuali dgn cara pemaksaan (kolonialisme misalnya).

itu sebabnya, orang aceh melihat islam lebih dari sekedar agama, tapi 
tradisi yg sudah melekat dan menjadi bagian hidup mereka. misi2 
kristenisasi akan dipandang sbg serangan thd tradisi mereka, karena 
lekat dalam pikiran orang aceh bhw kristen itu identik dgn 
kolonialisme. orba pun dipandang telah menyerang tradisi komunal 
rakyat aceh yg religius itu. orba membawa kapitalis2 korporat untuk 
menguras isi perut bumi aceh, membawa 'modernisasi' yg tentu saja 
akan bersinggungan secara keras dgn 'tradisi', dst.

masalahnya adalah bukan krn aceh itu islam berhadapan dgn 
kristenisasi dunia barat, tapi lebih pada benturan antar tradisi yg 
sudah sering hasilnya malah menyakitkan dan merusak kedamaian tradisi 
masyarakat aceh. jaman belanda adalah kolonialisme melawan tradisi, 
jaman orba kapitalisme melawan tradisi, dan sekarang kristenisasi 
melawan tradisi.

kebetulan saja, tradisi tadi sudah menyatu dgn agama yg kebetulan 
juga islam. coba saja ganti islam tadi menjadi hindu, hasilnya tentu 
saja akan sama. bali adalah contoh nyata ttg mulai tercerabutnya akar 
tradisi hindu (dan masyarakat bali) yg berarti kekalahan tradisi di 
hadapan kapitalisme. semua makna tradisi bergeser dan 'diarahkan' 
kepada pemenuhan nafsu kapital dan modernisme. semua seni, budaya, 
upacara, tradisi menjadi hanya lipstick pemoles eksotisme belaka, 
yang dalam pandangan kapitalisme harus layak dijual. tidak heran 
generasi muda bali lebih suka jadi gigolo. kejadian serupa juga 
terjadi di india yg juga mengalami masalah dgn misi2 kristenisasi 
disana. 

jadi, kesimpulannya adalah bukan masalah relawan h/t itu benar atau 
tidak. benar/tidaknya memang bukan jadi masalah, tapi jika pun benar, 
yang menjadi persoalan sebenarnya bukan lagi masalah hak masing2 
agama untuk berdakwah. tapi apakah agama2 itu menghormati tradisi yg 
sudah mendarahdaging di masyarakat aceh atau tidak? ternyata tidak 
kan. terbukti, derita aceh dimanfaatkan untuk mengganggu tradisi yg 
menjadi pegangan hidup masyarakat aceh.

gitu loh... pig!

kamu goblog kan? masih goblog seperti biasanya kan? so what? you have 
a right to remain stupid, jackass!


dan untuk pb yg ex-remaja minggu itu:

> > --- In [EMAIL PROTECTED], Pemerhati Bangsa 
<[EMAIL PROTECTED]> 
> > wrote:
> > > 
> > > Saya binun, apaan sih maksud tujuan dan nilai tambah
> > > bagi koran provokator Republika ini utk trus kipas2in
> > > kebencian antar ummat beragama?

blog, kalo nanya beginian ga usah belagak suci. ngaca dulu sono, 
inget gak elo posting terima berita sms dan disebar2in ke milis2 utk 
tujuan apa coba? ga inget? yap, sama kayak juspig, you also have a 
right to remain stupid, dickhead!


--- In [email protected], "Jusfiq Hadjar" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>     Capek juga baca berita orang Islam paranoiak yang takut akan
>     "usaha pemurtadan yang dilakukan oleh orang Nasrani"
> 
>     Saya persilahkan masing-masing kita membaca Deklarasi HAM PBB.
>     Dan di pasal 18 itu jelas diakui hak tiap manusia untuk bertukar
>     agama... 
> 
>     Artinya untuk murtad... 
> 
>     Sekali lagi: 
> 
>     karena Indonesia adalah anggota PBB dan negara Indonesia  telah
>     berjanji untuk menghormati hak-hak azasi manusia yang ada di
>     Deklarasi HAM PBB itu maka orang Islam Indonesia juga kudu
>     menghargai hak tiap manusia Indonesia untuk murtad. 
> 
>     Dan hak tiap orang untuk mengajak orang Islam buat murtad. 
> 
>     Lagian di Eropa juga orang Islam rajin betul mengajak orang
>     Nasrani untuk murtad. 
> 
> 
> =======
> 
> 
> On 3 Feb 2005, at 9:53, ariel wrote:
> >
> > 
> > Convert iman itu bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Butuh 
> > pergulatan batin yang mendalam untuk memutuskan hal tersebut. 
Bukan 
> > karena hanya sekedar membaca flyer, booklet atau karena membaca 
email 
> > propaganda di milis yang menjelek-jelekkan suatu agama. Apalagi 
bagi 
> > orang Aceh, Islam telah menjadi kepercayaan yang mendarah daging, 
> > buktinya dalam perang Aceh jaman kolonial dulu Belanda sampai 
harus 
> > mendatangkan Snouck Hugronye yang mengaku memeluk Islam untuk 
memecah 
> > belah persatuan orang Aceh. Jadi kasus buku agama Kristen yang 
> > terdapat di kapal itu memang tidak layak dibesar-besarkan, 
apalagi 
> > dalam buku tersebut telah jelas tertulis untuk kalangan agama 
> > Kristen. 
> > PB, kali ini saya sepakat dengan Anda.    
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED], Pemerhati Bangsa 
<[EMAIL PROTECTED]> 
> > wrote:
> > > 
> > > Saya binun, apaan sih maksud tujuan dan nilai tambah
> > > bagi koran provokator Republika ini utk trus kipas2in
> > > kebencian antar ummat beragama?
> > > 
> > > Kenapa sih isu pemurtadan dibesar2kan, itu juga kalau
> > > bener beritanya.
> > > 
> > > Apa sih salah orang bagi2in brosur? Kalau orang
> > > bagi2in brosur produk di mall2 apa mesti divonis sbg
> > > perbuatan kriminal? Emang knapa Aceh harus dianggap
> > > daerah steril agama lain selain islam? Bukankah Aceh
> > > punya 10% kelompok non muslim?
> > > 
> > > Dan..bukankah seprti ulasan bung Albert Duwith
> > > kelompok dakwah islam telah mengislamkan 60% pulau
> > > Papua? Dan apa ada kelompok kresten atau kelompok
> > > indigenious Papua yg meributkannya?
> > > 
> > >  I am fed up with these kiasu people.
> > > 
> > >  PB
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > >  Rabu, 02 Februari 2005
> > >  
> > >  Pemurtadan tak lagi Terbantahkan 
> > >  Buku saku itu, sepintas cocok dibaca oleh pemeluk
> > >  Islam. Jalan Kepada Allah. Salah satu relawan dari
> > >  Hizbut Tahrir, Mujiyanto, tercengang ketika melihat
> > >  banyak sekali buku saku tentang Yesus bertebaran di
> > >  kapal motor Verona yang ditumpanginya menuju Calang,
> > >  Kabupaten Aceh Jaya. Mulanya, dia cuma mendapati
> > >  satu buku di dekat nakhoda. Namun, saat ditelisik
> > >  lebih jauh, buku itu berserakan di mana-mana.
> > >  
> > > ''Ini pasti ada maksudnya supaya orang yang naik
> > >  kapal bisa membaca itu. Kondisi Aceh betul-betul
> > >  dimanfaatkan,'' katanya. Fakta itu pun menguatkan
> > >  pemahamannya soal adanya upaya pemurtadan di balik
> > >  misi kemanusiaan membantu korban Aceh. Temuan
> > >  tersebut, katanya, menguatkan bukti bahwa
> > >  Kristenisasi benar-benar terjadi di Aceh setelah
> > >  gempa dan tsunami menerjang.
> > >  
> > >  Buku saku itu, sepintas cocok dibaca oleh pemeluk
> > >  Islam. Judulnya, Jalan Kepada Allah. Padahal, isinya
> > >  bicara soal ajakan mempercayai Yesus. Mereka yang
> > >  tidak teliti, bisa terkecoh. Buku tersebut
> > >  diterbitkan Missionary Pres Inc dengan alamat Po Box
> > >  120 New Press Indiana 46553, USA. Di Indonesia,
> > >  lembaga tersebut beralamat di Tromol Pos 805 878
> > >  Surabaya Yallki-EHC.
> > >  
> > >  Pada bagian dalam sampul ditulis seruan berbunyi,
> > >  ''Buku ini diterbitkan oleh YALKKI-EHC kepada
> > >  orang-orang Kristen, keluarga Kristen, orang-orang
> > >  yang berminat dan rela untuk menerimanya.'' Di situ
> > >  juga tertulis frasa 'tidak ada paksakan' dengan
> > >  huruf besar dan dicetak tebal. Dia mengakui bahwa
> > >  memang upaya pemurtadan yang dilakukan secara
> > >  terang-terangan itu tidak mudah terlihat. Kebanyakan
> > >  aktivitas tersebut dilakukan tersamar dan jejaknya
> > >  dikaburkan.
> > >  
> > >  Yang jelas, menurutnya, lembaga-lembaga berbendera
> > >  Kristen terlihat begitu giat beraktivitas di Aceh.
> > >  Sebagian mereka berterus terang mengibarkan bendera
> > >  Kristennya dan sebagian lain sembunyi-sembunyi
> > >  dengan mendompleng lembaga kemanusiaan yang namanya
> > >  berkesan netral. Senada dengan Mujiyanto, Manajer
> > >  Relawan Dompet Dhuafa Republika, Veldy Verdiansah
> > >  Armita, juga mengatakan hal yang sama. Penemuan
> > >  selebaran misonaris itu dia dapatkan sewaktu
> > >  mengadakan seleksi guru pada 10 Januari lalu di
> > >  Banda Aceh. 
> > >  
> > >  ''Ada guru yang melaporkan kepada saya bahwa dua
> > >  warga negara Barat membagikan majalah kepada
> > >  anak-anak pengungsi. Setelah dilihat isinya tentang
> > >  ajaran agama Kristen,'' ungkapnya. Mendengar laporan
> > >  tersebut, Veldy pun langsung meminta salah satu
> > >  contoh majalahnya. Sang guru pun membawa majalah
> > >  yang di antaranya bertuliskan 'Menuju Kerajaan
> > >  Yehuwa'.
> > >  
> > >  Atas kejadian itu, Veldy lalu mencari petugas di
> > >  Satkorlak bencana di Pendopo Gubernuran Nanggroe
> > >  Aceh Darussalam (NAD). Di tempat itu, dia berbicara
> > >  dengan salah satu petugas yang mengaku dari
> > >  Departemen Luar Negeri. Ternyata petugas itu
> > >  mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara terbuka
> > >  sehingga bebas bagi siapa saja untuk menyebarkan
> > >  ajaran yang diyakininya. Namun, menurutnya, sebagian
> > >  relawan kaget mendengar kabar itu, karena selama ini
> > >  mereka baru mendengar informasinya secara sepintas.
> > >  
> > >  Tak hanya umat Islam yang geram dengan adanya misi
> > >  penyebaran agama di balik aksi kemanusiaan itu.
> > >  Uskup Agung Kardinal Julius Darmaatmaja juga mengaku
> > >  tidak sepakat dengan cara-cara seperti itu. Dia
> > >  sendiri berjanji untuk tidak 'macam-macam' dalam
> > >  ikut membantu menangani korban tsunami di Aceh dan
> > >  Sumatra Utara.
> > >  
> > >  Bantuan untuk para korban, kata dia, tentunya
> > >  semata-mata merupakan bantuan kemanusiaan dan tidak
> > >  boleh disalahgunakan. ''Semua semata-mata
> > >  berdasarkan kemanusiaan. Kami dari pihak Katolik
> > >  tidak akan macam-macam,'' tegasnya usai mendampingi
> > >  utusan khusus Paus Paulus Johanes II, Paul Josef
> > >  Cordes, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di
> > >  Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (1/1). Cordes
> > >  datang ke Indonesia untuk menyampaikan surat khusus
> > >  dari Paus Johannes Paulus II terkait dengan rasa
> > >  keprihatinan yang mendalam terhadap bencana gempa
> > >  dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara.
> > >  
> > >  Darmaatmadja secara khusus juga memberi komentar
> > >  soal aktivitas WorldHelp yang mengangkut 300 anak
> > >  Aceh ke luar daerahnya. Menurutnya, Paus tidak
> > >  memperkenankan umatnya menjalankan praktik-praktik
> > >  seperti aktivitas WorldHelp. ''Adalah sangat tidak
> > >  manusiawi mengambil anak-anak dibawa pergi jauh.
> > >  Kalau Paus mengetahui, Paus juga akan mengatakan itu
> > >  tidak boleh terjadi,'' ungkapnya. Namun, dia
> > >  menjelaskan bahwa kasus WorldHelp tidak dibincangkan
> > >  dalam pertemuannya dengan Presiden. 
> > >  ( uba/osa/ant ) 
> > >   
> > > 
> > > http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=186023&kat_id=3
> > > 
> > > 
> > > 
> > 
______________________________________________________________________
> > __
> > > Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" 
> > > your friends today! Download Messenger Now 
> > > http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >  
> > Yahoo! Groups Links
> > 
> > 
> > 
> >  
> > 
> > 
> >





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke