"...............kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia .........."
Artinya perang salib itu hanya reaksi dari aksi kalifah Turki Utsmani.
Singkatnya, siapa yang mula-mula bikin gara-gara ?
Dan hal-hal seperti ini masih terus terjadi sampai sekarang ini dalam
bentuk-bentuk yang terbuka maupun terselubung.
Tapi ini tidak perlu diherankan sudah dari sananya begitu.
Perbandingannya dari masing-masing nabinya saja.
Yesus berkeliaran hanya dengan teman-teman, bahkan dia melarang ketika seorang
muridnya mau melawan serdadu yang akan menangkap Yesus.
Tapi Muhammad, kemana-mana menyandang pedang dan punya pasukan gajah bule.
Jadi bedalah yang berdakwa dengan KASIH dan yang dengan pedang dan pasukan.
Mo di katain apapun tidak akan pernah berubah : AGAMA KEKERASAN
tawangalun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menelusuri Sejarah Perang Salib
Saat perang Salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai
orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat dengan perlakuan
pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Simak akhlaq Salahuddin al-
Ayyubi
"Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki
kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan
panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya
menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala.
Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami
berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah
kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman,
tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana,
para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya."
Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-
sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama
Raymond, salah satu serdadu Perang Salib. Pengakuan ini
didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade:
The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton & London:
1991).
Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I memang menyesakkan. Menurut
catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan
Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara
massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya
tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.
Sepak Terjang Tentara Salib
Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin,
Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang
Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak
masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah
ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu
seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan
invasi.
Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani
merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari
kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong
kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari
cengkeraman kaum yang mereka sebut "orang kafir".
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi
besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin
membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim-yang
menguasai Palestina saat itu-menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi
orang-orang Kristen Eropa. "Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah
suci Palestina harus direbut kembali," kata Paus.
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun
1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di
seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan,
kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para
ksatria yang mau berperang.
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan-
terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat
sipil-untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa
yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci
Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, "Deus Vult!" (Tuhan
menghendakinya!)
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan
pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah
bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan
ekspedisi ini sebagai "Perang Demi Salib" untuk merebut tanah suci.
Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap
tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi
panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan
petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di
medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis
(Yerusalem).
Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan
Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan
Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang
Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini
berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria)
pada tanggal 3 Juni 1098.
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai
orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi.
Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099.
Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan
pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099,
mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota
ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari
Palestina hingga Antakiyah.
Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada tahun 1145-1147 pecah Perang Salib II. Namun perang besar-
besaran terjadi pada Perang Salib III. Di pihak Kristen dipimpin
Phillip Augustus dari Prancis dan Richard "Si Hati Singa" dari
Inggris, sementara kaum Muslimin dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi.
Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu
Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi'ah) dan Dinasti Seljuk
yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat
Shalahuddin prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan
Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.
Pria keturunan Seljuk ini kebetulan mempunyai paman yang
menjadi petinggi Dinasti Fathimiyyah. Melalui serangkaian lobi,
akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan
damai.
Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada
perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad.
Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit
perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi
membekas di hati.
Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama
peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di
festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan
atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai
jihad.
Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya
luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad
membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan
kemiliteran.
Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para
pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berperang
melawan Pasukan Salib di Hattin (dekat Acre, kini dikuasai Israel).
Orang-orang Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul
Maqdis. Kaum Muslimin meraih kemenangan (1187).
Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon
(Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Reynald
akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian
yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan
karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.
Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat
sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam
Isra' Mi'raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya
bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.
Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal
2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis
sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia.
Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang
dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: "Bersabarlah (hai
Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan
Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka
dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan."
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan.
Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: "Dan perangilah mereka
sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika
mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi,
kecuali terhadap orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 193)
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada
perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin
bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-
keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan,
meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah
lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga
sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta
Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan
membebaskannya saat itu juga.
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang
Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang
sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup]
Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti
halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk
mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre
(Libanon).
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik)
meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks--
bukan bagian dari Tentara Salib-tetap dibiarkan tinggal dan beribadah
di kawasan itu.
Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa.
Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan
Richard "Si Hati Singa".
Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang
pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati
3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-
anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang
Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara
yang sama.
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu,
Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia
mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh,
malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard
hingga akhirnya sembuh.
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun
menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen
pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197).
Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk
mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak
membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di
bawah kendali kaum Muslimin.
***
Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan
Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta
Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul,
Turki).
Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang
Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan
pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.
Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang
Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih
berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan
Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis
tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi
Isa 'alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan)
dikuasai orang Eropa-Kristen.
Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja
Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi
gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang
sangat banyak untuk membebaskannya.
Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan
menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan
Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.
Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa
sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh
Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang
Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga
dianggap Perang Salib.* (Agung Pribadi, Pambudi/Hidayatullah)
Tawangalun.
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
document.write('');
---------------------------------
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Meet the McDonald�s� Lincoln Fry get free digital souvenirs,
Web-only video and bid on the Lincoln Fry prop charity auction.
http://us.click.yahoo.com/U0ptCC/fV0JAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/