http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=187488&kat_id=16
Republika
Selasa, 15 Februari 2005

Rekonstruksi Aceh dan Dimensi NKRI yang Terabaikan
Oleh :
KH Ma'mur Noor
Anggota Komisi VIII DPR RI

Setelah tertatih-tatih mengatasi pelbagai masalah yang menimpa korban 
tsunami, pemerintah kini akan menghadapi problem yang lebih besar lagi dalam 
menghadapi rekonstruksi Aceh pascatsunami. Kalau sebelumnya pemerintah 
terengah-engah mengatasi tumpukan sampah, evakuasi mayat, penyelamatan 
korban hidup, dan distribusi bantuan (sandang, pangan, dan pangan), kini 
pemerintah akan berhadapan pada peliknya persoalan pembangunan fisik (sarana 
dan prasarana kota), mental korban, budaya, pendidikan, ekonomi, politik, 
dan lain-lain. Masalah-masalah terakhir ini jauh lebih pelik karena obyek 
dan subyek pembangunannya masing-masing mempunyai kepentingan. Berbeda 
dengan pembuangan sampah dan penguburan mayat, obyeknya diam dan 'manut' 
saja pada manusia yang mengarahkan dan menempatkannya.
Aceh dan NKRI

Dalam sebuah rapat kerja dengan Meneg Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, 
akhir Januari 2005, di Gedung DPR RI, ada kesan bahwa Aceh adalah sebuah 
wilayah yang sangat istimewa sehingga perlu penanganan khusus dalam 
merekonstruksinya dan berbeda dengan wilayah-wilayah Indonesia yang lain. 
Memang benar Aceh adalah daerah istimewa yang menjadikan Islam sebagai 
landasan hukum-hukum di wilayahnya, namun satu hal jangan dilupakan Aceh 
adalah salah satu bagian dari wilayah Indonesia. Aceh adalah salah satu 
provinsi dalam Negara Kesatuan Republik ndonesia (NKRI). Konsekwensinya, 
banyak hal perlu dipertimbangkan kembali dalam membangun kembali Aceh, 
khususnya yang menyangkut hal-hal yang primordial di atas. Kita jangan 
melupakan bahwa Aceh dan budayanya merupakan bagian dari budaya besar 
Indonesia.

Selama ini ada nuansa, masalah-masalah primordial Aceh yang sebetulnya tidak 
kompatibel dengan integrasi NKRI sangat ditonjolkan dalam menyelesaikan 
problema Aceh pascatsunami. Dalam pelbagai pernyataannya, Meneg Perempuan 
juga cenderung mendukung reprimordialisasi Aceh. Padahal, primordialisasi 
tersebut telah terbukti kurang produktif dalam merangkul masa depan Aceh ke 
pelukan ibu pertiwi. Pertanyaannya: kenapa dalam membicarakan rekonstruksi 
Aceh, kita cenderung mengabaikan dimensi NKRI? Bukankah Aceh adalah adalah 
bagian dari NKRI? Jika orang Padang punya pribahasa ''dimana kaki berpijak 
di situ hati menambat kasih'' dan peribahasa itu telah berhasil mengangkat 
harkat orang Padang di perantauan, kenapa hal itu tidak diberlakukan pada 
orang Aceh?

Sebagai contoh saya mengambil masalah rehabilitasi dan rekonstruksi 
anak-anak Aceh yang selamat dari bencana tsunami. Para pejabat di Jakarta, 
LSM, tokoh masyarakat lokal maupun nasional hampir semuanya sepakat: 
anak-anak Aceh harus tetap berada di Aceh agar mereka hidup dalam lingkungan 
Aceh dengan segala keunikan budayanya. Pertanyaannya, jika ada anak-anak 
Aceh yang mengalami trauma psikologis karena menjadi saksi dan korban hidup 
bencana dahsyat tsunami itu, apakah mereka akan dipaksakan tinggal di Aceh? 
Soalnya, jangankan anak-anak, orang dewasa saja banyak yang mengalami 
trauma --bahkan di antaranya gila-- akibat tekanan batin dan jiwa jika 
mengenang bencana dahsyat tersebut.
Irmansyah, seorang relawan Aceh untuk Kesehatan Mental mengungkapkan bahwa 
sebagian besar korban selamat pascatsunami kini mengalami gangguan 
psikologis. Keberhasilan menyelamatkan diri dari gelmbang tsunami, tulis 
Irmansyah, ternyata bukanlah kisah heroik - tapi sebaliknya merupakan beban 
trauma yang luar biasa. Mereka sangat traumatis jika mengenang perpisahan 
dengan keluarga tersayangnya secara tiba-tiba tanpa diduga. Mereka yang 
selamat juga kehilangan pijakan hidup. Yang tersisa adalah kekosongan jiwa 
dan tatapan hampa terhadap masa depannya. Peristiwa traumatis akan 
mempengaruhi keseimbangan kimiawi otak, terutama yang berkaitan dengan 
keadaan emosi. Susunan kimiawi, kadar hormonal, lintasan neuron, dan 
koordinasi di antara neuron menjadi kacau. Butuh waktu lama untuk 
mengembalikan kekacauan saraf itu kepada kondisi semula (Tempo, 6/2/05).

Melihat gambaran beratnya beban psikologis tersebut, khususnya yang menimpa 
anak-anak korban hidup tsunami, apakah mereka harus dipaksakan untuk tinggal 
di Aceh? Jika mereka tidak mampu lagi untuk tinggal di Aceh karena 
pengalaman traumatis di tanah kelahirannya, maka alternatif memindahkan 
mereka ke tempat lain di wilayah Indonesia adalah jalan terbaik. Dari 
sinilah, kita seharusnya berpikir jauh bahwa tidak perlu terlalu sentimentil 
memaksakan diri untuk harus meng-Aceh-kan anak-anak Aceh. Artinya, jika 
kondisi memaksa mereka harus meninggalkan Aceh dan itu adalah jalan terbaik 
untuk menyembuhkan beban psikologisnya, kenapa tidak harus dilakukan dan 
kita dukung?

Sebagai negara besar dengan seribu satu macam tradisi dan bahasa, Indenesia 
adalah surga bagi kreativitas, akulturasi, dan blending berbagai budaya dan 
karsa. Pengembangan kreativitas tersebut akan sangat pesat jika seorang anak 
manusia mau melihat dan mengakulturasikan nilai-nilai yang terpendam dan 
termaknai dalam jiwanya. Kita bisa melihat seniman tari Bagong Kusudiarjo 
yang ''mbalelo'' dari pakem-pakem tarian Jawa dan akhirnya diakui sebagai 
seniman besar yang menciptakan genre tari kombinasi yang memperkaya khasanah 
seni Indonesia. Tari-tarian Aceh yang unik, misalnya, akan makin menarik 
jika di-blend dengan tarian Jawa, Sunda, dan lain-lain. Semua itu bisa 
dilakukan jika anak manusia mau terbuka dan mengembangkan wawasannya. Dari 
perspektif itulah, kita berpikir kenapa anak-anak Aceh tidak harus tinggal 
di Aceh tapi perlu diperkenalkan dengan kehidupan tradisi dan budaya daerah 
yang lain. Semua itu nantinya demi kebesaran Aceh sendiri sekaligus demi 
kekayaan budaya Indonesia.

Diaspora orang Aceh
Dalam merekonstruksi Aceh, misalnya, pemerintah tidak semestinya mengarahkan 
dan mengentalkan kembali "komunitas budaya" yang sudah cair di perkotaan 
seperti banda Aceh dan Meulaboh. Di kedua kota itu, budaya Aceh sudah mulai 
mencair dan bereaksi positif dengan budaya-budaya lain. Sebaliknya, alangkah 
indahnya jika budaya Aceh pun - termasuk tarian, masakan, dan nyanyian - 
Aceh berkembang pula di wilayah Indonesia yang lain berkat banyaknya 
orang-orang Aceh yang tinggal di perantauan. Jika anak-anak Aceh yang 
mengalami trauma dengan tanah kelahirannya dipindahkan ke wilayah lain di 
Indonesia (entah itu diadopsi atau dipelihara negara) - maka pemerintah akan 
memperoleh dua keuntungan sekaligus. Si anak akan sembuh dari beban 
traumanya dan budaya serta tradisi Aceh berkembang di wilayah tersebut.
Kita bangsa Indonesia, misalnya, sudah bisa menikmati diaspora orang-orang 
Minang ke seluruh Indonesia. Mereka membuka restoran Minang yang khas dan 
ternyata sebagian besar rakyat Indonesia menyukai masakan Minang. Perputaran 
uang yang berarti berjalannya roda ekonomi daerah akibat munculnya 
warung-warung Padang atau Minang tersebut luar biasa besarnya di Indonesia. 
Ribuan tenaga kerja lokal terserap oleh industri makanan khas Padang 
tersebut! Jika hal itu terjadi pula pada masakan Aceh, bangsa Indonesia 
niscaya akan makin kaya dengan alternatif pengembangan ekonomi kerakyatan 
seperti halnya industri warung Padang. Sekedar infomasi saja, masakan Aceh 
tak kalah sedap dan enaknya dibandingkan masakan Padang sehingga mempunyai 
potensi berkembang di Indonesia.

Gambaran di atas baru merupakan salah satu keuntungan dari diaspora orang 
Padang. Dengan melihat perspektif tersebut, masihkah kita harus mengumpulkan 
orang Aceh di tanah Aceh lagi? Barangkali, salah satu dampak positif dari 
tragedi tsunami adalah akan terjadinya diaspora orang-orang Aceh ke pelbagai 
pelosok di Indonesia. Dengan membiarkan bahkan mendorong diaspora tersebut, 
percayalah budaya dan tradisi Aceh justru akan makin terkenal di Indonesia 
dan masyarakat di seluruh nusantara akan makin menikmati keunikan-keunikan 
Aceh. Ujungnya, bangsa Indonesia akan makin mencintai Aceh dan orang Aceh 
pun makin mencintai Indonesia!







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke