REFLEKSI:  Tuhan, cobaanMu  tidak tanggung-tanggun mahal harga dalam jumlah 
jiwa ummat manusia serta hartanya.  Tuhan jangan bikin cobaan seperti bom 
atom di Hiroshima yang hanya mendatangkan malapetaka bagi ummatMu, tetapi 
anugerahkanlah kebahagian yang memada  kepada ummatMU  untuk hidup sebagai 
manusia berharga dan bukan pengemis di sarang penyamun. Amin!

http://www.beritasore.com/
Feb. 4, 2004

Belajarlah Dari Cobaan Tuhan
Oleh :
Suryadi

Seorang yang menyebut dirinya "Moesafir di Tano Bato" menulis dalam berkala 
Matahari Terbit no. 5 (1896:101-103) bahwa pada bulan Februari 1861 sebuah 
gempa tektonik dengan episentrum di utara pulau Nias-tak jauh dari 
episentrum gempa yang lebih hebat disertai gelombang tsumani yang terjadi 
tanggal 26 Januari lalu yang meluluhlantakkan Aceh-telah menghoyak bagian 
utara pantai barat Sumatra.

Gempa yang cukup kuat itu menimbulkan gelombang tsunami hebat yang kemudian 
memporakporandakan entrepot-entrepot dan kampung-kampung di pantai barat 
Aceh.
Seorang saudagar Pariaman belum lama melintasi perairan Singkil dan Barus 
dengan sekunar dagangnya ketika gempa hebat itu terjadi. Ia terhindar dari 
musibah ditelan tsunami. Sekunarnya tiba di entrepot Pariaman ketika bumi 
terasa bergoyang dan ombak laut menjadi sedikit menggila. Saudagar itu 
kemudian meninggalkan sepotong cerita kepada kita tentang kerusakan akibat 
gempa itu.

Tentang akibat gempa dahsyat itu, Moehammad Saleh Datoek Orang Kaya 
Besar-demikian nama saudagar itu-menulis dalam otobiografinya, Riwajat Hidup 
dan Persaian Saja (1914): "Pasar Singkil tenggelam, terbenam karena gelora 
naik yang disertai dengan gempa bumi. Dilaut dekat Tarumun [Trumon] ada 
sebuah gosong [pulau] .Gosong Djawi-djawi namanya. Gosong itu penuh ditanami 
orang njiur, kini hilang lindang dengan tidak meninggalkan kesan. Bukan 
pasar Singkil [saja] jang tandas, pandam pekuburan segala orang pun litjin 
disapu air bah. [.] Banjak orang mengungsi, melarikan badan ke bagian 
selatan Singkil, ke Ujung Bawang nama tempatnja."

Pantai Barat Sumatra Langganan Gempa

Peristiwa sejarah yang dilukiskan di atas-yang terjadi 144 tahun yang 
lalu-hanyalah sedikit ilustrasi tentang gempa di pantai barat Sumatra yang 
mungkin telah ratusan kali terjadi-kecil maupun besar-dan selalu berulang. 
Episentrumnya selalu bergeser di dasar laut di luar pulau-pulau kecil yang 
menjadi barrier pantai barat Sumatra.

Kejadian tahun 1861 di atas mungkin sudah terlalu jauh dari ingatan bangsa 
ini, mungkin juga karena kita tak begitu hirau dengan sejarah (siapa yang 
ingat untuk menulis sejarah gempa?). Sebelum bencana tsunami Aceh sekarang, 
sudah beberapa kali pula terjadi gempa di pantai barat Sumatra dengan daya 
rusak yang lebih kecil: tahun 1990 di Sukabumi dan sekitarnya, tahun 1993 di 
Liwa, tahun 1996 di Kerinci, tahun 2000 di Bengkulu, dan tahun 2003 di 
Padang.

Jika kita membalik-balik halaman surat kabar yang terbit di Padang pada abad 
ke-19-Tjaja Sumatra, Warta Berita, Pelita Ketjil, Oetoesan Melajoe, Soenting 
Melajoe, dll. ataupun yang berbahasa Belanda seperti Sumatra Courant, 
Padangsche Handelsblad, Sumatra Bode, dll.-banyak ditemukan berita-berita 
mengenai gempa di pantai barat Sumatra. Seperti halnya orang Jepang, Turki, 
dan Iran, penduduk Sumatra yang tinggal di wilayah pantai baratnya sudah 
begitu terbiasa merasakan bumi bergoyang akibat gempa yang kadang-kadang 
disertai dengan gelombang tsunami seperti kejadian pada bulan Februari 1861 
iru.

Tak terkecuali dalam karya sastra pun bencana alam yang bersifat laten ini 
juga diabadikan, misalnya dalam Syair Lampung Karam yang mencatat peristiwa 
gelombang tsunami yang dahsyat yang antara lain telah menghancurkan kota 
Tanjung Karang (Bandar Lampung) akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883.

Sumber sejarah lainnya yang penting bagi pihak yang berminat meneliti 
sejarah geologi pantai barat Sumatra adalah Notulen van de Algemeene en 
Directievergaderingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en 
Wetenschappen (1862- 1921). Di dalam Notulen yang terdiri dari puluhan jilid 
itu sering ditemukan laporan-laporan dari pejabat Belanda yang bertugas di 
wilayah pantai barat Sumatra. Salah satu hal yang sering dilaporkan ke 
Batavia adalah bila terjadi gempa. Di situ dicatakan kapan terjadinya, 
dimana episentrumnya, dan akibat yang ditimbulkannya.

Selain itu Natuurkunding tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (1850-1940) 
yang dikeluarkan oleh Het Koninklijke Natuurkundige Vereeniging (KNV) in 
Nederlandsch Indie (Batavia) juga merupakan sumber sejarah yang penting 
untuk menelusuri data-data sejarah mengenai gempa yang pernah terjadi di 
kepulauan Indonesia, khususnya dipantai barat Sumatra.

Gempa dan gelombang tsunami yang baru saja melanda Aceh dan beberapa negara 
lainnya mungkin yang paling hebat terjadi. Namun, daya rusak gempa tahun 
1861 itu tak kurang hebatnya. Berdasarkan penelitian geologi yang telah 
dilakukan, hampir dapat dipastikan bahwa pantai barat Sumatra masih akan 
digoyang gempa lagi di masa yang akan mendatang. Ini adalah peringatan dari 
Tuhan yang diberikan dalam bentuk gejala alam yang berulang, yang dapat kita 
pelajari dan dengan demikian kita dapat lebih waspada.

Tinggal pertanyaan: kenapa bangsa kita tidak (juga mau) belajar dari sejarah 
untuk meminimalisir jatuhnya korban, sebab fakta sejarah dan juga ilmiah 
(penelitian geologi) sudah menunjukkan bahwa wilayah pantai barat Sumatra 
memang langganan gempa.

Berdoa dan Berikhtiar

Sebagai umat beragama tentu kita menganggap bahwa gempa atau bencana alam 
lainnya adalah cobaan yang didatangkan oleh Tuhan. Kita wajib berdoa dan 
meminta perlindungan-Nya. Kita wajib melakukan refleksi religius, baik 
sebagai pribadi maupun sebagai bangsa.
Namun, dari wacana yang berkembang terkait dengan bencana gempa dan tsunami 
Aceh, terlihat bahwa rupanya pikiran-pikiran irrasional yang lebih 
mengemuka.

Demikianlah umpamanya, dalam minggu ini beredar statement Salman al-Farizi, 
ketua Laskar Mujahidin Indonesia bahwa orang-orang Aceh yang meninggal 
ditelan tsunami adalah mereka yang telah mengkhianati Allah SWT, dan hanya 
orang Aceh yang benar-benar muslim yang selamat dari bencana hebat itu. 
Pernyataan itu dikutip pula oleh koran-koran internasional seperti 
Volkskrant dan The Guardian. Seorang budayawan kita bermain kata-kata dengan 
mengatakan bahwa gempa dan tsunami hebat itu adalah "rahmat" bagi orang 
Aceh.

Yang terasa agak kurang adalah usaha keras bangsa ini untuk mempelajari 
gejala alam tempat tinggal sendiri dengan akal mereka yang merupakan 
anugerah Tuhan. Seperti ditulis oleh Muhammad Iqbal di 
[EMAIL PROTECTED]  sekarang sudah saatnya Pemerintah menerbitkan 
semacam panduan untuk menghadapi bencana alam, seperti gempa (yang disertai 
tsunami), angin topan, dll. yang cukup sering melanda wilayah Indonesia. Di 
Jepang dan di Amerika, seperti ditulis Iqbal, anak-anak dan orang dewasa 
sudah diajari apa yang harus dilakukan ketika gempa datang.

Dalam kasus tsunami yang baru saja terjadi, diberitakan bahwa banyak orang 
lari ke pantai ketika melihat air laut surut begitu drastis dan ikan-ikan 
bergelimpangan di pasir pantai, padahal kalau mereka diberitahu dan 
diajarkan bahwa itu adalah salah satu gejala tsunami, mungkin jumlah korban 
jadi berkurang.

Sehari sebelum terjadinya gempa itu diberitakan bahwa di lepas pantai Pulau 
Pinang banyak ikan mati dan nelayan di Pantai Kedah, Malaysia, memperoleh 
ikan yang jauh lebih banyak dari hari-hari biasa. Ikan-ikan itu rupanya lari 
dari wilayah laut yang lebih dalam di Samudera Hindia di utara Aceh) karena 
gempa akan datang. Ini adalah warning dari alam, tapi kita yang tidak mau 
belajar gagal menangkap maknanya.

Menurut hemat saya sudah saatnya masyarakat kita, khsusnya yang bermukim di 
pantai barat Sumatra (termasuk pantai selatan Jawa) dibekali dengan semacam 
pengetahuan mengenai gempa dan tsunami yang selalu terjadi berulang.

Tanda-tanda gejala alam yang telah terjadi berulang-ulang ini harus 
dipelajari, lalu diinformasikan kepada masyarakat melalui media dan 
diberitahukan kepada anak didik di sekolah. Ini tugas para geolog dan juga 
para sejarawan. Ajarkan juga kepada anak sekolah sejarah gempa dan 
gejala-gejala geologi tanah air kita, jangan melulu sejarah para penguasa 
saja.

Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang memikirkan keselamatan 
rakyatnya. Jika gempa (dan tsunami) di pantai barat Sumatra adalah gejala 
yang berulang selama ratusan tahun dan sudah menyejarah, adalah sebuah 
kelalaian apabila negara dan bangsa ini tidak juga memikirkan cara-cara 
untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak. Yang sudah terjadi 
memang tidak akan bisa diubah lagi, tapi kita berharap dapat memetik 
pelajaran untuk mengurangi jumlah korban akibat bencana yang sama di masa 
depan.

Gagasan untuk membangun tsunami warning system di Lautan Hindia-walaupun 
begitu terlambat-adalah salah satu usaha yang harus segera diwujudkan untuk 
mengurangi dampak bencana kemanusiaan gempa bumi dan gelombang tsunami yang 
sering melanda pantai barat Sumatra. Mudah-mudahan keterlambatan ini hanya 
karena kita agak mengabaikan sejarah, bukan karena kita memiliki penguasa 
yang cuek terhadap keselamatan rakyatnya.

Pembangunan sistem peringatan dini gempa dan tsunami di Lautan Hindia itu 
haruslah menjadi salah satu komitmen pemerintah Indonesia untuk segera 
mewujudkannya, meskipun untuk membangun itu kita mesti berutang lagi. Kalau 
karena korupsi negara berutang, kenapa tidakuntuk keselamtan rakyatnya 
sendiri ?

Untuk memikirkan cara-cara penyelamatan menghadapi gejala alam di negeri 
sendiri, bangsa Indonesialah yang harus memikirkannya. Jangan berharap 
bangsa lain dengan tanpa pamrih akan melakukanya untuk kita.


**dosen dan peneliti pada Department of Languages and Cultures of Southeast 
Asia and Oceania, Leiden University, Belanda *****

 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke