Millis sampah dikirim sampah...... Plung ................. Proootttttttt sur ( capek juga aku nerima mail ndut-ndut-an dengan isi sampah berserakan dari mana-mana..................cucian dah akuuu ) ----- Original Message ----- From: "budiantolis" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, February 17, 2005 9:18 AM Subject: [proletar] Fwd: Re: EMHA: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki/komentar Budi Antolis
> > > --- In [EMAIL PROTECTED], "budiantolis" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Dear Denny Indrayana, > Bagus sekali tulisan yang kau kirim ini ,Denny !!,Emha Ainum Nadjib > memang tokoh Islam yang hebat dan pantas kita kagumi.Denny,tolong > dong sering kirim tulisan tokoh Islam yang hebat ini. > Salam sukses selalu Den, > Budi Antolis > > -- In [EMAIL PROTECTED], Denny Indrayana > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekans, > > > > Emha Ainun Nadjib adalah penulis yang selalu saya tamatkan goresan > > pemikirannya. Membaca tulisan Emha memang perlu kerutan kening, > > terkadang, tetapi tetap berkesudahan dengan kehausan untuk membaca > > tulisannya yang akan datang. Berikut adalah tulisan Cak > Nun 'terbaru' > > di Kompas hari ini, Kamis, 17 Februari 2005. > > > > Tabik, > > Denny Indrayana > > ============ > > > > Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki > > > > > > Oleh Emha Ainun Nadjib > > > > ADA kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada > > kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh. > > > > Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah > > rakyat, tetapi kalau ada penguasa, maka yang dimaksud dengan rakyat > > tentu mereka yang dikuasai. Rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah > > yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum saleh. > > > > Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis, rakyat selalu adalah > pihak > > yang diatur pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang amat > > besar untuk bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta amat > > mencurigakan dipandang dari rasionalitas dan proporsi manajemen > > kenegaraan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak untuk > > menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat adalah > wilayah > > terapan hukum. > > > > Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan di > > hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut harus > > dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari > > kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan. > > > > PANDANGAN ini amat laknat terhadap kenyataan bahwa sebenarnya rakyat > > adalah pemilik kekayaan amat melimpah dari tanah rahmat Tuhan > bernama > > Republik Indonesia. Namun, kekayaan rakyat itu dijadikan langganan > > perampokan oleh tiap penguasa. Dan setiap penguasa selalu tidak tahu > > diri berlagak menjadi pahlawan yang akan melakukan perubahan dari > > kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin. > > > > Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia, rakyat > > Indonesia memang rata-rata miskin, namun kenyataannya rakyat adalah > > pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfer kejahatan > > negaranya sehingga aneka upaya berekonomi kerakyatan itulah yang > > berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total. > > > > Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas > > kesejahteraan rakyat, menikusi administrasi keuangan negara milik > > rakyat, mencuri dengan berjemaah dan dengan modus-modus yang makin > > tidak kasatmata. Namun, ubet ekonomi rakyat, "budaya kaki lima" yang > > cair dan longgar, menciptakan semacam "pernapasan dalam" yang > membuat > > rakyat terus survive meski hampir tak ada suplai udara dari negara. > > > > Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, para penjahat > > penunggang negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian > > besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan manajemennya kepada > > negara. Namun, ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri > > mereka dari kebangkrutan total. > > > > Meski demikian, siapa pun yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan > > ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan > > keangkuhan luar biasa, menyatakan akan dan sedang menyelamatkan > rakyat > > dari kebangkrutan. > > > > KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih > > nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang > kebodohan, > > melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang > > menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi. > > > > Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai > orang > > pandai, merancang diri untuk melakukan pemandaian atas rakyat. > Pejabat > > memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. > > Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum > > intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan > > rakyat. Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan > > pengetahuan agar rakyat melek dunia. > > > > Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak anggapan > > diam-diam di dalam dirinya, mulai hari itu ia melangkah meninggalkan > > kebodohan rakyat yang kemarin masih jadi bagian darinya. Kapan ada > > rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku > utama. > > Sebab, agent of change mustahil pelakunya adalah rakyat. > > > > DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang > > mungkin Tuhan pun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang > saleh. > > > > Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling > > jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi > > mereka dipastori, siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. > > Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi > > taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana menata kalbu, > > padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat keahlian dan > > kemampuannya melebihi rakyat. > > > > Jika Quran menyebut "berimanlah kepada Allah", yang dituju adalah > > rakyat, bukan ustadz atau ulama. "Wahai orang-orang kafir"-itu > > kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiai. "Dekatkanlah dirimu > > kepada orang saleh"- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat > > mendekat-dekat kepada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan > belajar > > kepada umat. > > > > Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, namun dengan > > parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya > ditertawakan > > dan ditinggalkan rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan > > sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa > bakul > > pasar. > > > > ADA semacam feodalisme naluriah dalam psikologi kita, mungkin karena > > tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai yang tak > > pernah usai dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau > > mendengar kata "rakyat", tanpa sengaja langsung ada perasaan look > down > > dan menemukan yang bernama rakyat itu ada di dasar jurang dari peta > > nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan kebudayaan. > > > > Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan "kasta" itu tidak menjadi > > kikis misalnya oleh pengalaman intelektual atau kesadaran demokrasi > > atau egalitarianisme. Misalnya, rakyat "yang paling rakyat" adalah > > pembantu rumah tangga. Tak sedikit contoh bagaimana seorang profesor > > doktor, pejabat tinggi, atau ulama memperlakukan pembantu rumah > > benar-benar sebagai "pembantu rumah tangga" yang hampir berkonsep > > mirip perbudakan. Rumah tangga awam terbukti bisa lebih egaliter, > > santai, dan demokratis kepada pembantu rumah tangga. > > > > Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan pendidikan > > masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi > > tingkat pendidikan seseorang, makin menumbuhkan perasaan lebih > unggul > > dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. Dunia pendidikan tidak > > punya concern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan > > hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan. > > > > KARENA kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, umpamanya, "rakyat > > yang paling rakyat" lainnya, kita pandang sebagai faktor noda dan > > kehinaan sebagai bangsa. TKW dijadikan suku cadang utama kalimat > > penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang > > merasa nyaman dan puas: negeri lain mengekspor produk-produk > teknologi > > bergengsi peradaban tinggi, sementara negara kita mengekspor TKI- > TKW. > > > > Dan, kita tidak melakukan apa pun yang lain kecuali menghina dan > > merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak menolong mereka, > > tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang menimpa > mereka. > > Sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang- kurangnya ada tiga juta > > kasus TKI-TKW di luar negeri tanpa satu pun pernah dibereskan pihak > > yang berwajib dan digaji untuk pekerjaan menangani nasib TKI-TKW. > > > > Pekerjaan kita hanya menghina sambil pada saat bersamaan > memanfaatkan > > mereka di rumah tangga kita masing-masing. Kehidupan sehari-hari > rumah > > tangga kita amat bergantung pada mereka, upah yang dibayarkan kepada > > mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk penghidupan > manusia, > > plus bonus penghinaan dalam hati, cara berpikir dan tradisi perilaku > > budaya kita atas mereka. > > > > Dengan begitu, kita adalah serendah-rendahnya dan sehina-hinanya > > manusia sehingga karena itu pula kita memiliki keperluan untuk > > menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, semakin > > tinggi kebutuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang secara > > psikologis demikian itulah formula survival kejiwaannya. > > > > Bahkan kalau mereka pulang ke Tanah Air, sudah disiapkan lembaga dan > > birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. Pertama, > > menyiapkan terminal dan gate khusus untuk memperhinakan mereka. > Kedua, > > kebijakan memperhinakan diri sendiri dengan cara memeras uang jerih > > payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri orang. > > > > Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap. Resmi > maupun > > liar. Dan, puncak kehinaan kita adalah memperlakukan para koruptor > > keluar masuk bandara sebagai raja, sementara TKI-TKW yang balik > > kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan besar kepada > > devisa negara justru kita injak-injak martabatnya. > > > > BANGSA yang hina melahirkan generasi demi generasi hina, memilih dan > > menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji > > perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan mempekerjakan > > orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan anak-anak > terhina > > itu sambil terus memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan atas > > mereka. > > > > Pada kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak sejarah yang kita > > TKITKW-kan sepanjang masa. Rakyat adalah TKI-TKW di genggaman tangan > > dan di bawah injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik > tongkat > > kekuasaan politik, modal, wacana, dan informasi. Rakyat yang ditipu > > terus-menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang dipecundangi dari > > periode ke periode. Yang namanya disebut, dikomoditaskan, > > diatasnamakan oleh setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai > > mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu kekuasaan > itu > > tergenggam di tangannya. > > > > Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang kemuliaan > posisinya > > dipakai sebagai mahkota kekuasaan, namun dalam praktik pundak mereka > > ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian > > bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan pidato-pidato > > demokrasi. > > > > Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan: yaitu dikempongi > > oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin rampal > sehingga > > mulut kedaulatannya kempong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, > > dikelabui pagi hari diakali sore hari, dininabobo siang hari dicuri > > miliknya malam hari. > > > > RAKYAT yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang memakai merah > > darah mereka sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi sehingga akhirnya > > tidak lagi mengenal kebodohan. Rakyat yang terus-menerus dan terlalu > > lama dihina sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina tanpa tersisa > > sedikitpun kesadaran dan pengetahuan bahwa mereka hina. > > > > Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemuliaan di dalam > > kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekadar bermain sepak > bola > > kalau kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang salah menemukan > > sebabnya kenapa menang. > > > > Visi, wawasan, ilmu, identifikasi, dan pemetaan nilai-nilai dan > > realitas telah menjadi suatu jenis seni rupa impresionis instan. > > Kehidupan intelektual yang menjadi muatan utama komunikasi dan > > informasi sudah mengalami aneka pecahan, pengepingan-pengepingan, > > syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam mengomentari > > pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami pergantian > > parameter sampai empat-lima kali, saking tidak mendasar dan tidak > > menentunya prinsip ilmu pertinjuan kita. > > > > Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politis, > > kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang > > sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari > ulama, > > yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak. > > Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, > yang > > dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. Mencari > > tokoh, yang disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, emas > > dijadikan ganjal lemari. Nasi diperlakukan sebagai kerupuk, terasi > > didewakan sebagai makanan utama. > > > > Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala bidang. Bangsa > yang > > memilih langsung presidennya, namun tanpa melewati pijakan substansi > > demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah informasi tiap > > hari, namun semakin tidak mengerti apa yang seharusnya mereka > > mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran apakah mereka sedang > > maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, > > apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah. > > Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai > manusia, > > sebagai rakyat, atau bangsa. > > > > Bangsa yang-sesekali-menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan > > hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya > > berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara wadak sedang > > menjalankan ajaran agama, namun hampir tak terdapat pada perilakunya > > dialektika berpikir agama, tak ada kausalitas mendasar antara input > > dan output nilai agama. Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara > > praksis kehidupan beragama dengan hakikat Tuhan. > > > > YANG paling beruntung dalam kehidupan sepanjang ada sejarah umat > > manusia adalah Pemerintah Indonesia. Karena semakin hari rakyatnya > > semakin tidak paham apakah pemerintahnya berhasil atau gagal. > Semakin > > tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah mereka dicintai atau > tidak > > oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran apakah dari > > pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan semangat > > pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses penghancuran. > > > > Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini > > adalah "Kiai Bejo", "Kiai Untung" atau "Kiai Hoki". Orang yang > > mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pemeo > > membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai > kalah > > oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang > kaya > > kalah oleh orang bejo. > > > > Setiap Pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pemeo > itu, > > sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya, dan bejo. > > > > Emha Ainun Nadjib Budayawan > > > > ======================== > > [EMAIL PROTECTED] > > [EMAIL PROTECTED] > > [EMAIL PROTECTED] > --- End forwarded message --- > > > > > > > > Post message: [EMAIL PROTECTED] > Subscribe : [EMAIL PROTECTED] > Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] > List owner : [EMAIL PROTECTED] > Homepage : http://proletar.8m.com/ > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
