Republika
Rabu, 23 Februari 2005

Jurnalisme di Tengah Masyarakat 'Lapar' 




Anab Afifi
Praktisi Komunikasi 




Kondisi masyarakat kita dewasa ini dapat dikatakan tengah 'lapar'. Bukan saja 
karena banyak di antara saudara kita yang benar-benar lapar perutnya karena 
kemiskinan. Kekuasaan represif Orde Baru yang mengekang kebebasan pers secara 
alami telah melahirkan suatu masyarakat yang tidak hanya haus informasi, tetapi 
juga lapar informasi. Kondisi ini juga ditunjang oleh fenomena informasi yang 
telah meningkat menjadi kebutuhan primer salain sandang, pangan, dan papan. 

Demikian dahsyatnya hambatan arus informasi yang dibangun rezim Orde Baru, 
telah menciptakan rasa lapar yang amat parah. Maka, ketika kebebasan pers 
dibuka lebar-lebar sejak tujuh tahun lalu di era Presiden BJ Habibie, informasi 
ibarat air bah yang menggenangi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi 
seperti itu, karena rasa lapar yang melilit, semua yang ada disantap dan 
ditelan habis. Kita tidak sempat berpikir lagi apakah yang ditelan itu hidangan 
yang penuh virus atau racun. Hingga sedemikian kebalnya tubuh masyarakat ini 
menelan aneka jenis informasi beracun, kelaparan itupun telah meningkat pada 
kelaparan nilai-nilai dan budaya! Seorang remaja tanggung diberitakan 
memperkosa tetangganya yang masih SMP. Dalam sebuah tayangan reality show, 
ketika ditanya polisi ia mengaku terbangkit hasratnya setelah menonton siaran 
langsung goyang dangdut yang amat erotis. Bulan Ramadhan lalu diberitakan 
seorang bocah usia lima tahun kedapatan memukuli kepala neneknya hingga tewas. 
Lalu dengan polosnya, menjawab pertanyaan polisi dan orang-orang sekitarnya, ia 
mengatakan hanya menirukan adegan tayangan sebuah televisi.

Adalagi seorang pemuda tega membunuh rekannya dengan memotong tubuh korban 
menjadi beberapa bagian. Saat ditanya mengapa dipotong-potong? Dengan singkat 
ia mengatakan terinspirasi dari berita-berita kriminal yang ia lihat.

Kasus-kasus tersebut hanya sebagian saja diantara sekian banyak kerawanan 
sosial yang muncul akibat interaksi media dengan masyarakat kita. Kita akan 
pilu ketika menyaksikan tayangan seperti Kisah Sedih di Hari Minggu. Sinetron 
yang ditayangkan RCTI tersebut secara vulgar mempertontokan kekerasan orang tua 
terhadap anaknya dengan mimik muka yang amat bengis. Kelicikan, kekerasan, dan 
perkelahian juga dimunculkan pada sifat anak-anak yang masih berseragam 
biru-putih. Tayangan yang mempertontonkan adegan anak SD yang sudah pandai 
memaki-maki temannya yang lemah, seolah hal biasa. Atau adegan orang tua murid 
yang mengancam dan memarahi guru yang dipanggil karena kenakalan anaknya, 
adalah introduksi nilai-nilai yang amat naif. Atas nama pasar dan sebuah 
rating, dengan jumawa seolah kita selalu merasa benar dan boleh melakukan dan 
mengulang-ulangnya. Mungkin saja benar di antara sebagaian masyarakat kita 
tetap lahap menikmati sajian media kita semacam itu. 

Tetapi di antara masyarakat lapar ini, diam-diam mulai resah. Karena konsumsi 
yang berlebihan, tubuh mulai meradang. Perut-perut kemanusiaan kita mulai 
kejang kesakitan. Nalar dan otak peradaban kita terkena stroke karena darah 
informasi --Bill Gates (2000) mengatakan informasi ibarat aliran darah dalam 
hidup kita-- yang mengalir telah kotor. Kini masyarakat lapar informasi itu 
koma akibat komplikasi berbagai penyakit. Mereka harus segera diselamatkan, 
dilarikan ke unit gawat darurat dengan perawatan dan terapi khusus.

Pembebasan nilai-nilai?
Makna kebebasan pers sepertinya telah bergeser substansinya. Ia telah mengalami 
distorsi. Distorsi kebebasan berekspresi yang barangkali telah kebablasan. 
Sepertinya ia telah bergeser ke arah pembebasan nilai-nilai. Lihat saja. Pers 
yang memiliki peran strategis sebagai agen transformasi pengetahuan yang 
mengusung rasionalisme di sisi lain juga merespon dengan hebat geliat dunia 
irasional. Jurnalisme pers telah beraroma kemenyan dan klenik. Dunia klenik 
yang selama ini terlindung rapi dalam persembunyian budaya timur, serta merta 
dibuka dengan telanjang. Orang-orang yang 'pinter' melihat jin dan hantu itu 
sudah disejajarkan dengan kaum intelektual kita. Mereka sudah biasa dijadikan 
nara sumber seperti pakar-pakar kita.

Media-media beraroma kemenyan ini kian banyak saja jumlahnya. Maka di tangan 
media, hantu-hantu itupun telah jadi selibriti karena sering muncul di 
televisi. Akibatnya, perdukunan pun marak. Mungkin saja, kaum jin dan hantu itu 
resah. Karena daerah-daerah wingit kekuasaan mereka telah tergusur oleh 
pembangunan. Lalu mereka unjuk gigi di televisi. Selain kesurupan hantu, pers 
kita juga terjangkit sejumlah wabah. Sebagaimana diperlihatkan melalui 
kasus-kasus di atas, pers telah terjebak berita sensasi, kekerasan, dan 
pornografi. Terutama media televisi. Hasil jajak pendapat (Kompas, 7/2) 
memperlihatkan hal itu. Masyarakat menilai tayangan televisi telah berlebihan 
dengan kadar masing-masing: pornografi (61,4 persen), kekerasan (68 persen), 
dan sensasional (66,4 persen).

Masalah pornografi salah satu isu yang tak ada habis-habisnya. Tak kurang 
Presiden Susilo Bambang Yudono secara khusus menyentil masalah (maaf) pusar 
perempuan yang banyak diumbar di televisi. Alasannya tak lain karena melenceng 
dari nilai-nilai moral agama dan kesantunan budaya timur. Salah satu artis yang 
telah menuai getah adalah pedangdut Lilis Karlina. Tiga stasiun televisi (TPI, 
Antv dan TVRI) sepakat untuk tidak menayangkan video klip Terpesona dari 
penyanyi dangdut ini. Selain Lilis Karlina konon korbannya Tabloid Sensual. 
Maka, tabloid-tabloid panas lainnya kini susat didapat. Para penggemar, 
tampaknya harus menahan hasrat membaca. Isu yang beredar di internet 
menyebutkan para pemilik kios majalah ketar-ketir karena kerap dirazia oleh 
para oknum berseragam. Tabloid yang kini susah dicari adalah: Lipstik, Exotica, 
Lelaki, dan lainnya. Konon majalah seperti Harper's Bazaar dan Cosmopolitan pun 
ikut-ikutan disita aparat di Bukittinggi. Sekali lagi itu hanya isu, belum 
tentu benar.

Masyarakat tampaknya demikian sensitif. Seorang aktifis hak-hak perempuan, 
Gadis Arivia, di sebuah harian ibu kota beberapa menyikapi kegemasan Presiden 
SBY ini terlalu jauh. Ia mempertanyakan, ''Sejak kapan pemerintah boleh ikut 
campur dalam urusan pusar perempuan dan ranjang?'' Seolah-olah statemen ini 
demikian cerdas dan itelek. Sayangnya, salah tempat. Di sebuah mailing list 
juga beredar komentar-komentar minor tentang masalah ini dengan menyebutkan 
istilah yang ditujukan kepada diri Presiden. Istilah-istilah itu tidaklah 
pantas ditulis disini. 

Adakah respons semacam ini menggambarkan kondisi masyarakat kita yang masih 
lapar informasi? Ataukah memang pembebasan nilai-nilai budaya, etika, dan 
intelektual yang sedang berproses? Maka hendaknya semua sepakat bahwa kebebasan 
pers yang masih berumur tujuh tahun ini perlu dibimbing sekaligus diawasi. Ia 
sudah mulai pandai berlari, melompat-lompat ke sana ke mari, dan suka memukul 
apa saja tanpa sadar bahaya yang ditimbulkan. Nah siapa pun Anda, tugas kita 
adalah membimbing, mengarahkan sekaligus mengawasi kebebasan pers itu dengan 
bijak.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke