http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=7013


Apa Yang Perlu Dilakukan?
* (Ketika Malaysia Lecehkan RI)
Oleh Djoko Susilo, anggota Komisi I
Oleh Redaksi
Selasa, 08-Maret-2005, 04:26:52286 klik


Jika ingin damai, bersiaplah untuk berperang. Adagium tersebut sudah lama 
diketahui banyak orang dan menjadi rujukan setiap pemimpin yang bertanggung 
jawab menjaga harkat, martabat, dan keutuhan negaranya. Kita cinta damai, 
tetapi terpaksa harus siap berperang jika ada ancaman serius terhadap 
kedaulatan negara. Karena itu, ketegangan hubungan antara Indonesia dan 
Malaysia harus dilihat dalam perspektif menegakkan kedaulatan negara 
kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang sesungguhnya merupakan satu 
bangsa: puak Melayu. Sejak zaman nenek moyang hingga masa modern, masyarakat 
di dua negara ini sudah saling berhubungan dan bekerja sama dengan erat.

Sejarah Kerajaan Malaka, Sriwijaya, Majapahit, Demak, dan lain-lain 
menunjukkan bahwa mereka sudah sangat dikenal dengan kerajaan lain yang ada 
di kawasan nusantara dan selalu bahu-membahu serta saling bantu satu sama 
lain. Ketika Malaka diduduki Portugis yang dipimpin Alfonso D?lbuquerque, 
Sultan Demak Pati Unus mengirimkan armada lautnya untuk membantu membebaskan 
kesultanan di Semenanjung Malaya itu dari penjajahan.

Perjalanan sejarah menyebabkan Indonesia dan Malaysia berkembang menjadi dua 
negara yang berbeda. Malaysia sebagai jajahan Inggris tetap menjadi negara 
kerajaan konservatif dengan tradisi Melayu kental. Indonesia yang dulu 
dijajah Belanda menjadi negara republik yang bangga dengan Bhineka Tunggal 
Ika, yakni keragaman budaya dan bahasa lokal warganya.

Konfrontasi

Meski demikian, tidak dimungkiri terjadi pasang surut hubungan antarkedua 
negara. Di masa Bung Karno, Indonesia dengan tegas pernah mencanangkan 
politik konfrontasi: Ganyang Malaysia. Sebaliknya, di bawah Soeharto, 
Indonesia terkesan sangat akomodatif terhadap negeri jiran tersebut. 
Soeharto tidak pernah menunjukkan sikap keras dan berani melawan Malaysia. 
Presiden yang lama berkuasa di masa Orde Baru itu malah terkesan terlalu 
banyak memberikan konsesi kepada Malaysia.

Akibatnya, di mata warga Malaysia dan pemerintahnya, Indonesia dipandang 
sebelah mata. Kata Indon di negeri jiran itu bersinonim dengan sikap pandang 
merendahkan terhadap bangsa Indonesia.

Mengapa pada masa Bung Karno, Indonesia berani melancarkan politik Ganyang 
Malaysia dan Tungku Abdurrrahman, pendiri dan pemimpin Malaysia saat itu, 
benar-benar hormat dan takut terhadap Indonesia? Tidak sulit menjawabnya. 
Ketika itu, kebijaksanaan pemerintah Indonesia di bawah Bung Karno tidak 
akan mengizinkan sejengkal wilayah pun diduduki bangsa lain. Selain itu, 
Bung Karno juga tidak mengizinkan pencurian ikan, kayu, dan hasil kekayaan 
alam lain yang merajalela seperti sekarang.

Untuk mendukung kebijaksanaannya itu, Indonesia di masa itu benar-benar 
jaya, baik di laut, darat, maupun udara. Di udara, AURI diperkuat dengan 
empat skuadron MiG 21 yang pada zamannya merupakan pesawat tempur terhebat 
di dunia. Indonesia adalah negara pertama di luar Uni Soviet yang 
menggunakannya.

Hal itu jauh berbeda dengan kondisi TNI-AU sekarang yang hanya memiliki 
empat buah Sukhoi tanpa persenjataan lengkap, tiga F16 yang laik terbang, 
dan beberapa buah Hawk buatan Inggris. Kekuatan tempur tersebut masih 
diperkuat dengan sejumlah pesawat pengebom canggih Tu (Tupolev) -16 dan 
pesawat angkut Antonov.

Di laut, Indonesia juga berjaya karena selain masih mempunyai sejumlah kapal 
selam, fregat, dan korvet modern, Indonesia punya KRI Irian yang mempunyai 
kemampuan hebat karena merupakan kapal penjelajah dengan awak sekitar 1.000 
orang. TNI-AL juga sangat kuat karena pasukan elitenya, KKO, merupakan 
satuan tempur laut terhebat di Asia Tenggara pada waktu itu. Indonesia 
benar-benar negara yang kuat di kawasannya, bahkan Australia saja tidak 
berani berbuat sembarangan.

Karena itu, menghadapi eskalasi ketegangan dengan Malaysia belakangan ini, 
sudah waktunya pemerintah kembali memulihkan kekuatan militer TNI, khususnya 
dengan membangun TNI-AU dan TNI-AL. Pada tahap awal, seharusnya yang 
diprioritaskan adalah mengoperasionalkan pesawat udara dan kapal- kapal 
perang yang selama ini tidak bisa bergerak karena ketiadaan suku cadang.

Di TNI-AU, dari satu skuadron F-16 yang ada, hanya tiga yang laik terbang. 
Selebihnya grounded. Di antara 20 pesawat angkut Hercules C-130, hanya enam 
buah yang siap operasi. Demikian juga di antara 39 kapal eks Jerman Timur 
yang dibeli pada 1992, hanya 10 buah yang sudah di repowering dan siap 
tempur. Untuk kapal yang lebih besar, di antara enam buah Van Spyck Class, 
hanya dua buah yang sudah operasional dan satu lagi dalam proses repowering.

Naikkan Anggaran Militer

Untuk itu, sudah seharusnya bangsa Indonesia dan pemerintah bersama parlemen 
bekerja keras meningkatkan anggaran untuk memulihkan kekuatan militer TNI. 
Untuk bisa disegani, mau tidak mau kekuatan militer harus meningkat. Jika 
pada 2005 dari permintaan anggaran Rp 45 triliun, hanya bisa dipenuhi 
sekitar Rp 23 triliun, untuk 2006 dari Rp 56 triliun yang diajukan Dephan, 
sekurang-kurangnya 80 persen atau sekitar Rp 44 triliun harus disediakan.

Memang menjaga kedaulatan itu mahal, tetapi hal tersebut harus dilakukan 
jika bangsa ini tidak mau menjadi cemoohan dan hinaan bangsa bangsa lain di 
dunia. Ketegangan dengan Malaysia belakangan ini harus menjadi pelajaran 
bagi bangsa Indonesia bahwa sudah waktunya masalah pertahanan menjadi salah 
satu prioritas yang tidak bisa diabaikan lagi.

*Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR RI


 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke