GALAMEDIA
12/03/2005
Puluhan Ribu Pemuda Siap Menjadi Relawan
MAJALENGKA, (GM).-
Sejumlah komponen pemuda di Majalengka, menyatakan siap menjadi
relawan untuk berjuang mempertahankan Pulau Ambalat masuk ke wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka juga menyatakan dukungannya kepada
Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk bersikap tegas kepada Malaysia yang
telah mengganggu keutuhan wilayah RI.
Pernyataan keras para pemuda tersebut, di antaranya dari Pemuda
Pancasila (PP), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), FKPPI, Keluarga Besar
Putra Putri Polri (KBPPP), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Ketua MPC PP Kabupaten Majalengka, H. Nazar Hidayat menyatakan,
pihaknya siap mengerahkan sekitar 90 ribu anggota PP menjadi relawan yang siap
bertempur bersama TNI untuk mempertahankan Pulau Ambalat. Mulai Kamis (10/3),
PP membuka posko relawan di depan markasnya. Demikian juga HMI, akan segera
membuka posko.
Hal senada juga diungkapkan Ketua KNPI, H. Budi Victoriadi, S.E.,
sikap arogansi yang diperlihatkan Malaysia harus disikapi secara serius oleh
pemerintah RI. Hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan beberapa waktu lalu yang
dicaplok oleh Malaysia jangan sampai terulang lagi.
Ketua KBPPP, Wawan Ramos, S.E. menyatakan, sikap Malaysia kurun
waktu belakangan ini sudah tidak bersahabat, mulai dari pengusiran ratusan ribu
TKI hingga sekarang pencaplokan Pulau Ambalat.
Tak terpancing
Sementara itu, Gerakan Reformis Islam (Garis) meminta segenap
elemen masyarakat agar tidak terpancing dengan persoalan sengketa tersebut.
Pasalnya, semua kejadian tersebut sengaja diciptakan oleh negara Barat untuk
menghancurkan umat Islam.
"Saat ini negara Barat yang dikomandoi zionis Amerika tengah
berupaya keras untuk mendiskreditkan Islam di mata dunia. Malaysia maupun
Indonesia penduduknya mayoritas muslim, kalau sampai kedua negara ini terjadi
permusuhan, mereka (Amerika, red) akan tertawa," ujar Ketua Umum Garis, H. Cep
Hernawan, S.E., M.B.A. saat dihubungi Jumat (11/3).
Menurut Ketua Umum LSM Islam yang dicap sebagai garis keras ini,
munculnya persoalan perbatasan Ambalat antara Malaysia dengan Indonesia,
merupakan salah satu bentuk upaya pengalihan perhatian dari pemerintah kita.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia yang kini tengah menghadapi kesulitan
ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) seakan lupa karena ikut
terfokus dengan perselisihan di Ambalat.
Salah satu bentuk, dengan diciptakan seakan warga negara kita
menjadi sukarelawan membela bangsa, akan membuat masyarakat lupa persoalan
ekonomi yang tengah menghimpit seluruh rakyat. "Bukannya antipati dengan
pasukan relawan membela bangsa, itu bagus kalau untuk mempertahankan harga diri
bangsa. Tapi kita juga harus telaah lebih jauh persoalannya, jangan sampai
pembelaan yang kita lakukan atas nama bangsa menjadi sia-sia akibat permainan
negara negara Barat," kata H. Cep Hernawan.
Menurutnya, lebih baik persoalan perbatasan yang disengketakan oleh
Malaysia itu penyelesaiannya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sebab
pemerintah lebih tahu cara yang tepat untuk menyelesaikan.
"Biarlah pemerintah yang menyelesaikannya, kita sebagai rakyat
sebaiknya memikirkan bagaimana agar segala kebutuhan ekonomi bisa terpenuhi.
Paling tidak kenaikan harga BBM yang diberlakukan pemerintah ini ditinjau
kembali karena sangat berdampak pada harga kebutuhan pokok yang mengakibatkan
daya beli rakyat menjadi kurang," paparnya. (B.87/B.101)**
12/03/2005
Puluhan Ribu Pemuda Siap Menjadi Relawan
MAJALENGKA, (GM).-
Sejumlah komponen pemuda di Majalengka, menyatakan siap menjadi relawan
untuk berjuang mempertahankan Pulau Ambalat masuk ke wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Mereka juga menyatakan dukungannya kepada Tentara
Nasional Indonesia (TNI) untuk bersikap tegas kepada Malaysia yang telah
mengganggu keutuhan wilayah RI.
Pernyataan keras para pemuda tersebut, di antaranya dari Pemuda Pancasila
(PP), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), FKPPI, Keluarga Besar Putra
Putri Polri (KBPPP), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Ketua MPC PP Kabupaten Majalengka, H. Nazar Hidayat menyatakan, pihaknya
siap mengerahkan sekitar 90 ribu anggota PP menjadi relawan yang siap bertempur
bersama TNI untuk mempertahankan Pulau Ambalat. Mulai Kamis (10/3), PP membuka
posko relawan di depan markasnya. Demikian juga HMI, akan segera membuka posko.
Hal senada juga diungkapkan Ketua KNPI, H. Budi Victoriadi, S.E., sikap
arogansi yang diperlihatkan Malaysia harus disikapi secara serius oleh
pemerintah RI. Hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan beberapa waktu lalu yang
dicaplok oleh Malaysia jangan sampai terulang lagi.
Ketua KBPPP, Wawan Ramos, S.E. menyatakan, sikap Malaysia kurun waktu
belakangan ini sudah tidak bersahabat, mulai dari pengusiran ratusan ribu TKI
hingga sekarang pencaplokan Pulau Ambalat.
Tak terpancing
Sementara itu, Gerakan Reformis Islam (Garis) meminta segenap elemen
masyarakat agar tidak terpancing dengan persoalan sengketa tersebut. Pasalnya,
semua kejadian tersebut sengaja diciptakan oleh negara Barat untuk
menghancurkan umat Islam.
"Saat ini negara Barat yang dikomandoi zionis Amerika tengah berupaya
keras untuk mendiskreditkan Islam di mata dunia. Malaysia maupun Indonesia
penduduknya mayoritas muslim, kalau sampai kedua negara ini terjadi permusuhan,
mereka (Amerika, red) akan tertawa," ujar Ketua Umum Garis, H. Cep Hernawan,
S.E., M.B.A. saat dihubungi Jumat (11/3).
Menurut Ketua Umum LSM Islam yang dicap sebagai garis keras ini,
munculnya persoalan perbatasan Ambalat antara Malaysia dengan Indonesia,
merupakan salah satu bentuk upaya pengalihan perhatian dari pemerintah kita.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia yang kini tengah menghadapi kesulitan
ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) seakan lupa karena ikut
terfokus dengan perselisihan di Ambalat.
Salah satu bentuk, dengan diciptakan seakan warga negara kita menjadi
sukarelawan membela bangsa, akan membuat masyarakat lupa persoalan ekonomi yang
tengah menghimpit seluruh rakyat. "Bukannya antipati dengan pasukan relawan
membela bangsa, itu bagus kalau untuk mempertahankan harga diri bangsa. Tapi
kita juga harus telaah lebih jauh persoalannya, jangan sampai pembelaan yang
kita lakukan atas nama bangsa menjadi sia-sia akibat permainan negara negara
Barat," kata H. Cep Hernawan.
Menurutnya, lebih baik persoalan perbatasan yang disengketakan oleh
Malaysia itu penyelesaiannya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sebab
pemerintah lebih tahu cara yang tepat untuk menyelesaikan.
"Biarlah pemerintah yang menyelesaikannya, kita sebagai rakyat sebaiknya
memikirkan bagaimana agar segala kebutuhan ekonomi bisa terpenuhi. Paling tidak
kenaikan harga BBM yang diberlakukan pemerintah ini ditinjau kembali karena
sangat berdampak pada harga kebutuhan pokok yang mengakibatkan daya beli rakyat
menjadi kurang," paparnya. (B.87/B.101)**
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/