SUARA KARYA

Dana Kompensasi BBM Rawan Dikorupsi 


Senin, (14-03-'05)
JAKARTA (Suara Karya): Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak 
(BBM) harus diiringi dengan kompensasi berupa pemberantasan korupsi secara 
serius dan menyeluruh, termasuk dalam penyaluran dana kompensasi BBM sendiri. 
Ini kian relevan karena pemerintah sendiri belum menyusun program dana 
kompensasi bagi rakyat miskin. 

Definisi rakyat miskin yang berhak mendapatkan dana kompensasi sendiri harus 
dirumuskan lagi menjadi lebih spesifik. Jika tidak, bersama faktor aparat 
korup, program kompensasi pengurangan subsidi BBM niscaya menjadi sia-sia. 

Demikian rangkuman pendapat mantan Menneg Perencanaan Pembangunan 
Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie, Direktur Eksekutif Masyarakat Energi 
dan Mineral Indonesia (MEMI) A Supriyatna, dan ekonom Indef Iman Sugema. Mereka 
dihubungi secara terpisah di Jakarta, kemarin, terkait program kompensasi 
pengurangan subsidi BBM. 

"Yang membuat rakyat terus miskin dan tidak mampu mengelola ekonomi adalah 
korupsi di semua bidang yang bagai air bah tanpa henti. Karena itu, kompensasi 
pengurangan subsidi BBM bagi rakyat seharusnya tidak hanya sebatas pemberian 
dana sebesar Rp 17,8 triliun - karena setelah kompensasi itu diberikan, rakyat 
akan kembali miskin. Yang tak kurang penting lagi adalah pemberantasan korupsi 
dilakukan serius dan menyeluruh," papar Supriyatna. 

Di lain pihak, Kwik Kian Gie mengatakan, penyaluran dana kompensasi BBM tidak 
pernah berjalan lancar apalagi dikatakan efektif. Ini karena seluruh aparat 
birokrasi dari pusat hingga ke daerah terindikasi melakukan korupsi. 

Pemerintah sendiri saat ini tidak bisa melakukan deteksi awal terhadap 
kemungkinan korupsi atas dana kompensasi BBM ini. "Bahkan pemerintah belum 
mempunyai definisi dan penjabaran mengenai kategori rakyat miskin yang menjadi 
sasaran program kompensasi BBM," katanya kepada Suara Karya. 

Kwik memperkirakan, dana kompensasi BBM akan kembali menguap karena pemerintah 
belum bisa memastikan pola penyaluran, di samping karena aparat berwenang yang 
bertanggung jawab maupun rumusan peranserta masyarakat dalam penyaluran dana 
tersebut tidak jelas. "Tidak dijamin penyaluran dana kompensasi bisa efektif 
meski pemerintah melibatkan mahasiswa, LSM, dan masyarakat sendiri," ujarnya. 

Dalam kesempatan terpisah, Imam Sugema juga mengatakan, pemerintah akan 
kesulitan mencairkan dana kompensasi BBM karena sejak awal terlambat 
menyampaikan program tentang itu secara detil. Karena itu pula, wajar jika 
kemudian revisi APBN pun ditolak DPR. 

"Jika pencairan dana kompensasi terlambat, bisa dipastikan target mengurangi 
rakyat miskin juga tak tercapai. Yang terjadi, jumlah orang miskin justru 
bertambah," ucap Imam. 

Menurut Imam, tim ekonomi dalam kabinet tidak pernah memikirkan dampak kenaikan 
harga BBM, juga tidak pernah menyosialisasikan program kompensasi maupun 
membuat dan menyampaikan detil program kepada DPR. (A-1/N-1) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke