--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
>     Apakah tidak ada Bible di kapal itu? 

<< Ada banyak... 

> 
>     Apa nggak ada pastor, atau pendeta dikapal itu?

<< Nah inilah bibel2 hidup itu...

 
> 
>     Apa ada tempat sembahyang disediakan? 

<< Untuk sujud dan rukuk bisa dimana aja, asal ada niat


> 
>     Dan jurusan kiblatnya apa bener? 

<< Kiblat yg benar adalah hati nurani, jadi kalau niatnya benar pasti 
kiblatnya benar



> 
>     Dan majallah atau buku porno, apa tidak ada dikapal itu? 

<< Ada banyak... bahkan lengkap dgn 'model'nya !


> 
>     Apakah ini semua bukan usaha kristenisasi yang tersembunyi?

<< Sayangnya, bukan dgn majalah porno cara melakukan kristenisasi...


 
> 
>     Nggak, saya nggak becanda, cuman saya masih sebel dengan segala
>     usaha orang Islam tipikal yang tidak henti-hentinya berusaha
>     melecehkan perbuatan baik orang kafir....

<< Emang nggak ada yg lucu ! mana bisa disebut canda???

   
> 
>     Allahu Akbar! 

<< Haleluya...

Chico Macho



> 
> 
> On 14 Mar 2005, at 17:13, JASP wrote:
> 
> > 
> > 
> > Kapal USNS Mercy milik Angkatan Laut Amerika yang beroperasi di 
Aceh pasca 
> > Tsunami menerbitkan banyak kegamuman masyarakat yang sempat 
dirawat atau 
> > sempat berkunjung disana. Kapal Rumah Sakit yang supermodern dan 
berjasa 
> > bagi masyarakat Indonesia . Ceritera yang layak dibaca agar kita 
memiliki 
> > wawasan yang lebih luas. Banayk hal bisa direnungkan : kerja sama 
> > internasional. bantuan kesehatan tanpa batas lintas bangsa, 
perikemanusiaan 
> > yang sungguh-sungguh terjadi dan pertemuan Barat dan Timur yang 
saling 
> > merangkul.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > SUARA PEMBARUAN DAILY , 14 Maret 2005
> > 
> > ----------
> > 
> > 
> > Belum Dipegang Sudah Sembuh
> > 
> > SAIFUL Bahri (35) tak kunjung henti bersyukur. Ia baru saja 
menjalani 
> > operasi, untuk mengembalikan fungsi kakinya. Kakinya patah ketika 
gelombang 
> > pasang tsunami melanda bumi Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 
lalu.
> > 
> > Ia masih menjalani tahap perawatan untuk pemulihan kini. Ia salah 
satu 
> > pasien di USNS Mercy, rumah sakit terapung milik Angkatan Laut 
Amerika 
> > Serikat.
> > 
> > "Bukan hanya pengobatannya gratis, tetapi semua pasien mendapat 
perlakuan 
> > yang bagus. Dokter menangani pasien dengan sabar. Semua perawat 
selalu siap 
> > sedia menjaga pasien," kata Saiful.
> > 
> > Ia sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda 
Aceh. 
> > Karena lukanya tergolong parah, petugas medis asing memutuskan 
merawatnya 
> > di rumah sakit kapal.
> > 
> > Walau lebih sering terbaring, ia tidak pernah merasa suntuk, 
meminjam 
> > istilahnya. "Agar tidak bosan, pasien-pasien dihibur. Pasien yang 
patah 
> > kaki dibawa berkeliling dengan kursi roda," ia menambahkan.
> > 
> > "Dokter-dokter datang, menanyakan keadaan pasien. Jika ada 
keluhan sedikit 
> > saja langsung ditangani. Paling istimewa, selama di sini, saya 
akhirnya 
> > bisa sedikit-sedikit bahasa Inggris," kata Saiful. Tak ada lagi 
kendala 
> > bahasa jika nurani yang bicara. "Seperti mimpi rasanya, tidak 
pernah 
> > mendapatkan pelayanan yang bagus seperti ini," ia menambahkan.
> > 
> > Pasien lain, Mutia (20), warga Jeunib, Kabupaten Bireun, juga 
baru saja 
> > menjalani operasi. Tim dokter rumah sakit terapung itu berhasil 
mengangkat 
> > tumor yang diidapnya.
> > 
> > Sejak dua tahun lalu ia mengeluhkan penyakit yang dideritanya 
itu, dan 
> > sudah berobat ke berbagai tempat serta sudah menghabiskan banyak 
biaya. 
> > "Baru kali ini terasa enak, saya tidak merasa sakit lagi," 
katanya. "Dokter 
> > di sini mengangkat tumor itu," kata Zuliani (45), ibu Mutia, yang 
setia 
> > mendampinginya.
> > 
> > Perlakuan petugas medis, penanganan yang sabar, serta kecanggihan 
peralatan 
> > operasi, menerbitkan keyakinan Mutia untuk sembuh. "Rasanya belum 
dipegang 
> > sudah sembuh, begitu mendengar saya dirujuk ke rumah sakit 
kapal," kata Mutia.
> > 
> > Selain Saiful dan Mutia, tampak puluhan pasien yang masih dirawat 
di rumah 
> > sakit terapung itu.
> > 
> > Canggih
> > 
> > Kenyamanan, kesejukan, serta keramahan awak kapal dan tim medis 
USNS Mercy 
> > memang langsung bisa dirasakan siapa pun yang berkunjung ataupun 
pasien 
> > yang dirawat di tempat itu.
> > 
> > Siapa pun tamu yang datang, disambut hangat, seperti ketika 
Pembaruan 
> > bertandang ke kapal berukuran panjang 272,2 meter itu, bersama 
wartawan TV 
> > ABC dari Australia dan wartawan TV Global Jakarta, Jumat (11/3) 
lalu. 
> > Bahkan awak kapal dan petugas medis yang tampak sibuk, 
menyempatkan diri 
> > menyapa, menyalam, sebelum kemudian melanjutkan aktivitasnya.
> > 
> > Rumah sakit terapung bercat putih itu "diparkir" sekitar 60 mil 
dari batas 
> > pantai Aceh. Tamu maupun pasien diangkut dengan helikopter ke 
tempat itu. 
> > Jumat lalu, misalnya, terlihat sebuah helikopter sedang 
menurunkan pasien 
> > yang tampak meringis dan mengeluh kesakitan. Sesaat kemudian, 
ketika 
> > memasuki ruang perawatan, pasien itu terdiam.
> > 
> > Matanya tak henti melihat sekeliling. Ia tampak terpesona melihat 
ruangan 
> > kapal besar yang dilengkapi peralatan canggih, terpesona melihat 
keramahan 
> > petugas medis, walaupun tak terjalin komunikasi. Si pasien tak 
bisa 
> > berbahasa Inggris, dan tak seorang pun dari tim medis paham 
bahasa 
> > Indonesia. Wajah pasien itu berubah lega, ketika tim medis 
langsung 
> > memeriksanya.
> > 
> > USNS Mercy bersama USNS Comfort, merupakan kapal rumah sakit 
milik Angkatan 
> > Laut AS. USNS Mercy, seperti dijelaskan Kapten David Mark 
Llewellyn, 
> > komandan kapal itu, tiba di perairan Aceh pada 4 Februari lalu 
dan akan 
> > mengakhiri misinya 16 Maret mendatang.
> > 
> > "Tugas kami di sini dalam rangka membantu korban tsunami di 
Provinsi 
> > Nanggroe Aceh Darussalam Indonesia, dan sejumlah negara lain di 
dunia," 
> > katanya.
> > 
> > Rumah sakit terapung itu dilengkapi 1.000 fasilitas tempat tidur, 
sebagai 
> > pendukung untuk 250 pasien rawat inap. Jika diperlukan, jumlah 
tempat tidur 
> > bisa ditambah, lebih dari 1.000, kata Llewellyn.
> > 
> > Berbagai peralatan canggih mudah ditemukan di bekas kapal tanker 
raksasa 
> > itu. Rumah sakit terapung itu dilengkapi 12 ruang bedah, empat 
buah 
> > laboratorium, termasuk ruang sinar-X, dan mampu melayani 300 
pasien setiap 
> > hari. Di tempat itu juga tersedia bank darah, pelayanan gigi, CT 
Scanning, 
> > fisioterapi, gudang obat, serta berbagai fasilitas penunjang lain.
> > 
> > 93 Dokter
> > 
> > Llewellyn mengatakan, saat itu tercatat 93 dokter dari berbagai 
keahlian 
> > bertugas di kapal itu, terdiri atas dokter ahli bedah umum, 
ortopedi, gigi, 
> > kerongkongan, operasi plastik, saraf, kandungan, penyakit dalam, 
THT, 
> > psikiatri, dermatologi, dan dialisis. Selain itu, masih ada 
perawat, 
> > teknisi, dan petugas non-medis. Tenaga medis dengan berbagai 
keahlian dan 
> > teknisi itu, tergabung dalam HOPE (Health Opportunities For 
People 
> > Everywhere).
> > 
> > Sementara, untuk anak buah kapal, dibagi dalam dua kelompok, 
yaitu marinir 
> > dan sipil. Marinir bertugas menjalankan kapal. Selain itu, di 
kapal itu 
> > masih ada lagi pegawai dari angkatan laut yang bertugas 
mempersiapkan 
> > fasilitas pengobatan supaya bisa beroperasi penuh selama 24 jam.
> > 
> > Kapal yang dilengkapi dengan landasan helikopter itu, mampu 
menampung 
> > 35.000 ton air laut untuk disuling menjadi air tawar. Sejak 
dioperasikan 
> > pertama kali pada November 1989, kapal itu telah merawat 
sedikitnya 300.000 
> > pasien penderita berbagai penyakit. Selama di Aceh, sebanyak 300 
pasien 
> > penderita berbagai penyakit telah ditangani rumah sakit itu.
> > 
> > Pasien bukan hanya korban tsunami. Dokter Heauen, dokter ahli 
bedah, 
> > misalnya, mengatakan selama berada di NAD beberapa kali 
mengoperasi pasien 
> > pengidap tumor.
> > 
> > "Para korban tsunami yang dirujuk ke tempat ini rata-rata 
menderita 
> > penyakit paru-paru, patah kaki, patah tangan dan patah tulang 
rusuk. Saya 
> > senang bekerja di sini, terutama membantu warga korban tsunami," 
kata 
> > dokter yang sebelumnya melakukan kegiatan yang sama, di Irak dan 
beberapa 
> > negara Timur Tengah yang lain.
> > 
> > PEMBARUAN/MUHAMMAD HAMZAH
> >





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke