http://www.kedaulatan-rakyat.com/article.php?sid=10826
Saturday, 19 March 2005, Yogyakarta
'Knowledge Worker' Seimbangkan IQ dan EQ
YOGYA (KR) - Kecerdasan Intelektual (Intelektual Qoutients/IQ) dan
Kecerdasan Emosi Emotional Quotients/EQ) merupakan strategi berkompetisi dalam
era globalisasi saat ini. IQ menjadi pengetahuan dasar yang harus dimiliki dan
tumbuh berkat pengembangan ilmu yang disampaikan oleh dosen di kelas. Perlu
penyeimbangan antara IQ dan EQ sehingga mahasiswa bisa menjadi knowledge
worker. Tuntutan semacam ini timbul bukan hanya adanya persaingan bebas di era
global, juga karena sistem kerja di Indonesia menggunakan curriculum vitae
(CV).
Psikolog dari UGM, Dr Amitya Kumara MS (psikolog UGM) menegaskan hal itu
dalam Seminar dan Diskusi bertema 'Membangun Potensi Mahasiswa di Era Penuh
Kompetisi (tinjauan psikologis dan spiritual)', Kamis (17/3), di Ruang Sidang
Gedung Ahmad Dahlan Kampus Terpadu UMY. Seminar ini juga menghadirkan Ustad
Wijayanto MA sebagai tinjauan dari Emotional Spiritual Quotients (ESQ).
Menurut Amitya, saat menjadi mahasiswa merupakan awal karier seseorang
dalam menentukan tujuan hidup dan masa depan. Selain penyeimbangan IQ dan EQ
juga harus memiliki kepribadian yang mencakup, sikap positif pada lingkungan
(attitude), selalu terdorong untuk hal baru (motivation), bertindak atas dasar
kebutuhan bukan keinginan (Needs), dan menjunjung nilai-nilai etika (values).
"Mahasiswa saat ini, kebanyakan pintar namun sangat kurang dalam
pengembangan diri secara emotional. Efek buruk orang semacam ini, bisa teori
tak mampu mengembangkan secara praktik. Kecenderungan seperti ini timbul akibat
mahasiswa hanya melakukan dua hal, yaitu habis kuliah lalu pulang ke kos,"
paparnya.
Dijelaskan, maka perlu adanya pengembangan diri dalam jiwa mahasiswa.
Karena mahasiswa cenderung untuk mudah menyerah dan bila belum tercapai akan
merasa bosan. Kalau hal ini tidak dipikirkan dari sekarang, maka pengangguran
di Indonesia akan bertambah banyak setiap tahunnya. Amitya mengutip perkataan
Aa Gym, pengembangan diri itu dimulai dari tiga M yaitu, mulai saat ini, mulai
dari diri sendiri dan mulai dari yang kecil.
Sedangkan Ustad Wijayanto menggambarkan fenomena anak muda sekarang
terlalu terbuai dengan efek globalisasi yaitu modernitas. Akibat dari budaya
global yang sangat mempengaruhi pola hidup anak muda nilai-nilai moral, etika
dan agama sudah terkucilkan dari pandangan masyarakat. Maka dari itu, ujar
Wijayanto, penyeimbangan antara IQ dan EQ juga harus didasari pengetahuan
secara spiritual (ESQ). (Fsy/Ben)-s
.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/