REPUBLIKA
Sabtu, 19 Maret 2005

Pembangunan Wilayah Perbatasan 
Laode M Kamaluddin 
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang
Penyelesaian konflik perbatasan diperairan Ambalat (Laut Sulawesi) yang 
ditempuh melalui jalur perundingan, merupakan pilihan bijaksana yang patut 
didukung. Karena pilihan yang kita tempuh adalah jalur perundingan, maka 
sepatutnya pula bangsa Indonesia mempersiapkan reasoning yang kuat untuk 
membuktikan kepada pihak lain (dunia internasional) bahwa perairan Ambalat 
merupakan wilayah yang secara de facto dan de jure milik bangsa Indonesia. 
Tulisan ini mencoba urung rembuk, melihat kepemilikan Ambalat dari perspektif 
geoekonomi atau aspek historis pembentukan alamiah perairan Ambalat di Laut 
Sulawesi. 

Secara historis pembetukan alamiah perairan Ambalat, tidak bisa dilepaskan dari 
proses pembentukan pulau-pulau Wallacea yang terletak di perairan timur 
Indonesia. Peta rekonstruksi Asia Tenggara (Hall, 1995) menunjukan bahwa 
struktur geologi kawasan timur Indonesia tergolong kompleks karena memiliki 
sejarah panjang --sekitar juta tahun silam-- akibat benturan lempeng bumi dan 
pergerakan pulau-pulau pecahan dari tepian lempeng Eurasia maupun lempeng 
Indo-Australia yang masuk ke wilayah timur Indonesia. 

Dari peta rekonstruksi memperlihatkan bahwa kawasan Asia Tenggara dibagi dalam 
dua wilayah utama yakni daratan Sunda dan pulau-pulau yang berada di kawasan 
timur. Daratan Sunda mencakup Jawa, Sumatra, Malaysia, Vietnam, dan Borneo 
(Kalimantan, Sarawak dan Sabah). Sedangkan pulau-pulau dikawasan timur atau 
dalam sejarah dikenal dengan garis Wallacea, meliputi Laut Sulawesi, Laut 
Banda, sebagian Laut Sulu, Palau, dan Samudera Pasifik. Daratan Sunda dengan 
pulau-pulau di kawasan timur, dipisahkan oleh Garis Huxley. Garis Huxley ini 
terbentang sepanjang jalur ALKI (Selat Lombok, Selat Makassar, dan Laut 
Sulawesi) hingga di Laut Sulu bagian atas mencakup pulau Calamian, Palawan dan 
Samudera Pasifik antara Luzon dan Taiwan (Bellwood, 2000).

Kekayaan sumber daya
Pemisahan kedua wilayah utama di Asia Tenggara ini menjadi penting dikemukakan 
agar kita dapat menjelaskan asal usul perairan Ambalat yang saat ini menjadi 
pertentangan antara Indonesia dan Malaysia. Dalam sejarah pembentukan pulau, 
maka yang tergolong dinamik adalah kepulauan yang berada di kawasan timur 
Indonesia, sebab pulau-pulau di bagian timur Indonesia telah berevolusi sebagai 
zona ketidakstabilan yang sekarang muncul sebagai pulau yang dipisahkan oleh 
dua cekungan samudera yang sangat dalam, terutama di Laut Sulawesi. Pemisahan 
kedua wilayah itu (daratan Sunda dan pulau-pulau di bagian timur) terjadi 
karena proses-proses pengangkatan dan penurunan yang begitu cepat. 

Menurut peta rekonstruksi Asia Tenggara yang diterbitkan dari London itu, 
memperlihatkan bahwa kawasan timur Indonesia cenderung berevolusi ke barat 
dalam waktu yang lama, sehingga logika yang mengemukakan bahwa perairan Ambalat 
adalah merupakan kelanjutan alamiah dari pulau-pulau yang berevolusi dari 
perairan kawasan timur Indonesia (menuju barat) dapat diterima. Pandangan lain 
yang memperluas argumentasi ini datang dari Hasyim Djalal (2005), yang 
mengklaim bahwa blok Ambalat dan Ambalat Timur merupakan kelanjutan alamiah 
dari daratan Kalimantan Timur yang ditunjukan oleh pemisahan lautan dalam, 
antara blok Ambalat dengan Sabah.

Proses evolusi pulau-pulau di bagian timur menyebabkan perbedaan topografi. 
Perairan dibagian timur, jauh lebih dalam dibandingkan dengan perairan yang 
berada dibagian barat. Laut Banda, Laut Seram, Laut Maluku, Laut Sulawesi 
(termasuk perairan Ambalat) dan Laut Mindanao, jauh lebih dalam, dibandingkan 
dengan Laut Cina Selatan, Selat Karimata, dan Laut Jawa. Bukti-bukti perbedaan 
kedalaman laut antar kedua kawasan berdasarkan Garis Huxley, dapat dilihat dari 
pola pergerakan arus dan aliran air laut. Aliran air laut yang berasal dari 
perairan bagian barat menuju timur, setelah mengalami arus balik, volumenya 
tidak sebanding dengan aliran air yang mengalir dari timur menuju barat. 
Perairan dibagian timur kemudian mengalami penumpukan nutrisi di dasar laut 
yang akan menjadi rantai makanan. Karena mengalami proses pengangkatan 
(upwelling) nutrisi makanan di dasar laut akibat tumbukan arus, maka 
memungkinkan migrasi ikan dari Pasifik akan terhenti lebih lama di Laut Banda 
dan Laut Sulawesi. 

Itu sebabnya Laut Banda dan Laut Sulawesi memiliki ikan yang lebih banyak. 
Disamping sumber daya alam yang dapat pulih seperti ikan, perairan timur, 
khususnya Laut Sulawesi, juga memiliki sumber daya alam yang tidak dapat pulih 
(unrenewable) yang berasal dari cekungan bumi didasar laut, misalnya 
pertambangan dan energi lepas pantai. Sejauh ini, Indonesia telah lama 
memberikan konsesi pengelolaan minyak lepas pantai di Laut Sulawesi, khususnya 
Blok Ambalat kepada British Petroleum, Unocal, dan sebagainya. Pihak Malaysia 
tidak melakukan protes terhadap pemberian konsesi itu. Namun setelah 
memenangkan pulau Sipadan dan Ligitan, pihak Malaysia mengklaim blok Ambalat 
sebagai bagian wilayahnya, yang ditandai dengan pemberian konsesi pengelolaan 
minyak lepas pantai kepada Shell. Padahal dalam UNCLOS 1982 ditegaskan, pulau 
terluar bagi negara kontinental seperti Malaysia, tidak serta-merta dijadikan 
titik pangkal pengukuran batas wilayah di laut. 

Membangun kawasan perbatasan
Konflik yang terjadi di perairan Ambalat, lebih disebabkan oleh konflik 
resource maritim yang memiliki nilai ekonomi. Tetapi bagi Indonesia, perairan 
Ambalat tidak sekedar perebutan resources. Indonesia memandang wilayah Ambalat 
lebih pada harga diri bangsa sebagai negara yang berdaulat. Itu sebabnya 
wilayah Ambalat harus dipertahankan, dan terbukti dengan munculnya berbagai 
relawan dari masyarakat sipil untuk mempertahankan Ambalat, merupakan reaksi 
atas terganggunya harga diri negara yang berdaulat. 

Dalam konteks kedaulatan negara, maka sudah saatnya pembangunan kawasan 
perbatasan dilakukan dengan pendekatan ekonomi dan pertahanan. Berbagai konflik 
didaerah perbatasan yang kesekian-kalinya mengganggu NKRI, seharusnya 
menyadarkan kita kembali mengenai pentingnya pembangunan pulau perbatasan, 
karena kawasan perbatasan di Indonesia sangat tertinggal dari sisi ekonomi, 
sosial dan infrastruktur wilayah. Atas dasar ketertinggalan itu maka pengaruh 
ekonomi dan sosial negara tetangga terhadap pulau-pulau di perbatasan menjadi 
dominan. 

Pulau Marore dan Pulau Miangas yang kental dengan nuansa sosial, dan ekonomi di 
Filipina; Pulau Sebatik yang kental dengan nuansa ekonomi di Malaysia; serta 
Pulau Fani yang interaksinya lebih condong ke Palau, mengindikasikan bahwa 
tarikan ekonomi dan sosial negara tetangga terhadap pulau perbatasan jauh lebih 
kuat. Secara kewilayahan, negara-negara yang berbatasan langsung dengan 
Indonesia meliputi Papua Nuigini, Palau, Australia, Timor Leste, Filipina, 
Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, dan India. Kesepuluh negara tersebut 
masing-masing berpotensi memiliki perselisihan mengenai batas wilayah dan pulau 
perbatasan dengan Indonesia.

Secara faktual, pulau perbatasan merupakan pagar NKRI yang wilayahnya harus di 
modernisasi untuk dapat mengontrol dan menguasai batas-batas wilayah kedaulatan 
negara. Modernisasi pulau perbatasan tidak melulu diterjemahkan dalam 
pengertian fiskal. Modernisasi pulau perbatasan dapat dilakukan dengan 
pendekatan resources karena tidak sedikit pulau-pulau perbatasan maupun daratan 
diperbatasan, memiliki potensi wilayah yang dapat dikembangkan secara ekonomi 
(ekonomi perbatasan). Dalam konteks ini, fokus pengembangan ekonomi perbatasan 
harus terkonsentrasi dalam suatu kelembagaan yang akan menjadi task force yang 
bekerja tidak hanya pada saat sengeketa perbatasan terjadi. 

Pembangunan kawasan perbatasan merupakan keniscayaan karena wilayah perbatasan 
rata-rata terisolir, jumlah penduduknya sedikit, atau tidak berpenghuni, 
umumnya sulit dijangkau karena keterbatasan sarana dan prasarana transportasi 
laut, teknologi komunikasi hampir tidak ada, ketersediaan air bersih sangat 
terbatas, fasilitas kesehatan dan pendidikan tidak memadai. Oleh karena itulah 
pulau perbatasan tidak memiliki insentif untuk berkembang serta tidak memiliki 
daya tarik karena selalu tidak mendapat keberpihakan (dalam konteks pembangunan 
wilayah). Dengan pendekatan ekonomi perbatasan, kita dapat membuat blue print 
pulau-pulau mana saja, atau daratan mana saja, yang termasuk dalam kategori 
pulau atau daratan perbatasan yang potensial. 

Sebagai contoh, pulau perbatasan dapat dikembangkan untuk kepentingan membangun 
industri dan perdagangan (growth center), pengembangan pariwisata bahari, 
industri perikanan, pertambangan dan energi, pengembangan pulau-pulau kecil 
yang berpotensi menjadi kota pantai (township), dan peruntukan pulau atau 
daratan perbatasan menjadi kawasan pertahanan dan keamanan negara, atau juga 
dapat menjadi costal guard untuk mencegah praktek illega seperti illegal 
fishing, illegal trading, illegal logging, serta bentuk kejahatan lain 
diperairan Indonesia. 

Kelembagaan kawasan perbatasan ini bersifat koordinatif untuk dapat menjangkau 
para stake holders. Sejauh ini, model ekonomi perbatasan telah mulai dirintis 
dikawasan perbatasan Kalimantan dengan Sarawak dan Sabah (Malaysia), dengan 
mengambil komoditi perkebunan sebagai belt ekonomi perbatasan, serta disertai 
pula dengan pengembangan infrastruktur di daerah perbatasan. Bila model ini 
menjadi kenyataan yang baik dan menguntungkan, maka dapat saja direplikasi pada 
tempat-tempat perbatasan lain yang membutuhkan pengembangan. Oleh sebab itu, 
sengketa di perairan Ambalat, harus menjadi warnning bahwa membangun kawasan 
perbatasan, sesungguhnya telah membangun pagar-pagar yang kokoh bagi keutuhan 
NKRI.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke