Srekalan ala Mega

Kenaikan BBM adalah sebuah keputusan yang sulit.
Resikonya sudah jelas, akan segera menarik gerbong
harga-harga produk lain untuk ikut berangkat, naik.
Tak terhindarkan, meski formula apa pun yang digunakan
untuk menghitungnya. Biar sedikit, kan naik?

Kenaikan harga BBM, selanjutnya, akan menjadi salah
satu variabel yang perlu diperhitungkan dalam rangka
menarik simpati rakyat, yang di sistem pemilu sekarang
sangat menentukan keberhasilan para pemimpin yang
berebut suara rakyat tersebut untuk memperoleh
kesempatan jadi elit negeri ini, hingga ke jabatan
puncak, presiden. Maka tak sembarang orang berani
mempertaruhkan ambisinya dengan menaikkan harga BBM
tersebut. Alkisah, pemerintahan Megawati sudah dapat
dijadikan bukti bagaimana ia berani tak menaikkan
harga BBM, dengan membuang sampai 70 trilyun rupiah
sebagai subsidi. Sebuah angka yang tak bisa dibilang
sederhana bagi sebuah negeri yang lagi empot-empotan
saat ini.

Kocek dana negeri ini seperti terkuras, sampai tak
berdaya untuk membenahi sektor-sektor lain yang
menjadi kewajiban pemerntah untuk mengatasinya.
Seperti buruknya layanan kesehatan bagi si miskin,
atau tak sempatnya rakyat kecil memperoleh sekedar
pendidikan dasarnya saja. Sebab, dari mana datangnya
duit, kecuuali dari kerja lebih produktif, efisiensi
dan penghematan, serta dari utang?

Utang lagi, jelas sebaiknya tak dilakukan. Selain juga
makin tak banyak sumber utang membolehkan kita
memperolehnya, wong utang-utang lama yang sudah
terjadi saja sudah bikin terengah-engah melunasinya.
Cicilan tak bisa dibilang sedikit. Jika ada kesempatan
bernafas, juga sangat sementara sifatnya. Contohnya
adalah moratorium, yang sifatnya hanya menunda saja.
Lain kali tetap harus membayarnya pula. Di beberapa
netter, moratorium utang dianggap sebagai bisa
mengganti subsidi BBM. Ini seperti kelakuan yang tak
berbudi, karena meninggalkan beban yang sangat berat
pada anak cucu, yang notabene tak pernah menikmati
utang tersebut sebelumnya. Tragis.

Keringnya kocek negeri ini, yang antara lain
disebabkan oleh keengganan pemerintahan Megawati
menaikkan harga BBM, yang konotasinya lebih karena
dalam rangka memelihara perolehan suara di Pemilu
2004, dibanding karena cintanya kepada rakyat kecil,
diakuinya dalam nota keuangan yang disampaikan bulan
Agustus 2004, dalam rangka penyusunan RAPBN 2005,
dengan menyebut, bahwa 'kenaikan harga BBM harus
dilakukan oleh pemerintahan yang akan datang'. Kenapa
Megawati berani menyatakan hal tersebut? Tak lain
karena ia sebagai presiden ia tau benar, seberapa
dalam kocek pemerintah saat itu. Dan semua juga tau,
sebagian pengurasan kocek tersebut karena digunakan
untuk subsidi BBM.

Apa yang dinyatakan oleh Megawati tersebut ternyata
benar. Pemerintahan penggantinya, SBY-MJK, terpaksa
melakukannya, meski harus menerima nasib menjadi tak
populer, dan seperti membantah sendiri apa yang pernah
dinyatakan dalam kampanyenya kemarin, untuk tak
menaikkan harga BBM. Bagaimanapun, kocek negeri ini
bukan kocek yang berbeda dengan kocek yang pernah
dikelola oleh Megawati.

Adalah Kalla, wapres, yang mengetengahkan dalih,
mengenai kenapa nian pemerintahannya tak sanggup untuk
tak menaikkan harga BBM. Salah satu yang disitirnya
adalah kalimat yang pernah diutarakan Megawati ketika
menyampaikan nota keuangan Agustus 2004 kemarin.
Setidaknya dari pernyataan Kalla tersebut bisa
ditafsirkan, bahwa tanda-tanda ketidakmampuan
pemerintah untuk terus-menerus menggelontor subsidi
BBM sudah bisa dibaca. Seandainya Megawati menang pun,
pasti pernyataannya di dalam naskah nota keuangannya
itu akan dilaksanakan. Kocek tandas, mau apa coba?

Pemerintahan SBY-MJK sangat sadar, bahwa kebijakannya
menaikkan harga BBM adalah sesuatu yang seharusnya
dihindarkan, dengan alasan apa pun. Namun mereka
dengan berat harus melakukannya, tak bisa tidak.
Berbagai alasan yang bersifat teknis sudah diutarakan.
Sembari itu, pernyataan Megawati dalam nota keuangan
Agustus 2004 juga dijadikan sebagai petunjuk, betapa
pekerjaan yang sebaiknya tidak dilakukan itu harus dan
terpaksa diambilnya.

Tanggapan Megawati?

Seperti biasa, presiden yang satu ini selalu membuat
dalih, yang banyak terlihat naif, asal-asalan, kalau
orang Jawa bilang, 'srekalan'.

Dia menampik kilah Kalla, mengenai apa yang pernah
disampaikan melalui nota keuangan Agustus 2004
tersebut sebagai 'apa hubungannya?'. Megawati
menyebut, bahwa (kurang lebih begini) :

'Sistem pemilu sekarang ini beda, di mana tak ada lagi
GBHN, tetapi program pemerintah adalah dari apa yang
jadi janji kampanye sebelumnya'.

'Dengan demikian, apa yang mereka lakukan adalah
menjadi tanggungjawab pemerintah yang bersangkutan.
Kenapa pakai menyangkutpautkan dengan nota keuangan
yang pernah saya sampaikan?'.

Ada benarnya, jika hal tersebut untuk hal-hal yang
sama sekali tak terkait antara satu masa pemerintahan
yang satu dengan yang lain. Namun kalau menyangkut
kocek yang licin tandas, sebagai warisan dari
pemerintahan sebelumnya, bagaimana hal itu bisa
dianggap lepas begitu saja? Lagian, seberapa sering
kita mengalami, selama Megawati memerintah, keluh
kesahnya karena tinggalan beban pemerintahan
sebelumnya, yang membuat dirinya sulit mengembangkan
pemerintahannya? 

Pembaca, itulah sosok yang masih ngebet jadi ketua
umum sebuah partai, yang menurutnya dikarenakan
'kondisi internal partai, dan nasional, membuat saya
terpaksa membatalkan niat untuk lengser dari dunia
politik'. Cita-cita yang luhur bukan? Dengan jabatan
ketua umum sebuah partai yang bersangkutan akan
membenahi carut-marut negeri ini melalui pemilu 2009
mendatang?

Wassalam.

Mampir untuk ketawa ala Suroboyoan di
http://matpithi.freewebsitehosting.com


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses. 
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke