Kembali agama menjadi tragedy kemanusiaan yang tetap disangkal
kebanyakan umatnya.

Sebagaimana kita semua sudah mengetahuinya, bahwa baik Islam, Katolik,
dan Protestant, selalu berpaham "pro-Life" disatu pihak, tetapi dilain
pihak mereka menentang upaya penyelamatan kehidupan pasien yang
menggunakan alat2 life-support.  Bagi semua umat beragama, nasib dan
kematian merupakan ketentuan Tuhan / Allah, oleh karena itu manusia
tidak boleh melakukan hal2 yang bertentangan dengan kemauan DIA.  Tapi
dalam kasus lainnya, bisa terjadi umat yang sama mendadak berbalik
paham, mereka memaksakan bantuan luar sebagai upaya mempertahankan
kehidupannya.  Demikianlah, tragedy telah terjadi pada diri Terri Schiavo.

Mrs.Terri Schiavo yang mengalami kecelakaan 15 tahun yang lalu
mengalami brain damage, dokter telah menyatakan bahwa pasien ini sudah
berada dalam "vegetative state".  Setelah dirawat intensive selama 15
tahun, suaminya Michael menyatakan bahwa isterinya pernah menyatakan
bahwa dia tidak mau hidup dalam keadaan seperti ini.  Micael
mengajukan kepengadilan untuk menghentikan semua life-support kepada
isterinya dan membiarkan isterinya mati secara wajar, alamiah, dan
sejalan dengan kepercayaannya sebagai umat Katolik.  Pengadilan
menyetujui permohonan Michael dan pengacaranya ini, dan semua
life-support dicabut, dan sekarang Terri Schiavo sedang dalam proses
menuju kematiannya akibat tidak ada lagi makanan yang masuk selama 7
hari terakhir ini.

Namun, pihak keluarga Terri Schiavo menolak tindakan pengadilan ini,
mereka menuntut agar Terri Schiavo harus diberi makanan, karena
pemberian makanan dari luar bukanlah merupakan life-support melainkan
merupakan hal yang normal seperti kita menyuapi memberi makan bayi
yang belum bisa makan sendiri.  Atau seperti kita menyuapi memberi
makan setiap pasien yang disable yang tidak mampu makan sendiri. 
Tetapi pengadilan menolak permohonan keluarga Terri Schiavo, karena
pengadilan harus berpihak kepada surrogat atau wali Terri Schiavo yang
dalam hal ini adalah suaminya.

Demikianlah, keluarga Terri Schiavo akhirnya membuka rahasia Michael,
bahwa Michael sebenarnya melakukan konspirasi baik dengan dokternya
yang dianggap melakukan mal-practice karena kenyataannya, Michael
sekarang ini sudah hidup bersama dengan wanita lainnnya dan kalo Terri
Schiavo ini mati, dia akan mewariskan uang insurance beberapa juta
dollar dimana uang itu nantinya akan dibayarkan biaya pengobatan
kepada dokter2nya dan sisanya sebesar cash $300 ribu akan diterima
Michael.  Ternyata hal ini memang benar, Michael sama sekali tidak
menyangkal kalo dia akan menerima uang $300 ribu, namun motive untuk
membiarkan isterinya mati bukanlah karena uang, melainkan karena dia
mencintai isterinya dan ingin isterinya terbebas dari penderitaan yang
tidak mungkin bisa diperbaiki lagi.

Bagi ibu Terri Schiavo sendiri, mengakuinya bahwa anaknya memang sudah
retarded dan juga tidak ada harapan untuk kembali sehat seperti
semula, namun sebagai ibu yang mencintai anaknya, menanyakan apakah
seorang cacat fisik dan mental harus dibunuh ???  Keluarga Terri
Schiavo mampu memeliharanya, bersedia memeliharanya, kenapa suaminya
menolak untuk menyerahkan pemeliharaan isterinya kepada keluarganya
kalo suaminya tidak bersedia lagi memeliharanya ?????  Seluruh
keluarga Terri Schiavo berjuang secara sia2 kepengadilan untuk
menghentikan proses pembunuhan anaknya ini oleh UU negara yang
disahkan oleh Negara atas usul kaum agama itu sendiri.  Namun sekarang
dalam kasus Terri Schiavo, seluruh umat beragama yang konservative dan
fundamentalist ini secara bersama berpihak kepada ibu Terri Schiavo. 
Mereka menuntut Superior Court untuk campur tangan menghentikan
pembunuhan terhadap Terri Schiavo, karena pasien ini bukanlah
criminal, bukanlah pemerkosa, kenapa tidak bisa ditunda pembunuhannya
ini ????  Bahkan pemerkosa dan criminal yang menjalani hukuman mati
sekalipun berhak menunda hukuman matinya untuk pemeriksaan ulang
kasusnya, sebaliknya Terri Schiavo yang didiagnosa dokter2 syarafnya
itu sebagai dalam "Vegetative state" ternyata tidak didukung dengan
bukti2 lab, scanning otak, dan semua alat penegak diagnosa yang
seharusnya.

Presiden Bush dan juga senatnya sudah voting, semuanya membela dan
berpihak kepada kehidupan yang berarti berpihak kepada ibu Terri
Schiavo.  Namun lawan2 Bush hanya mendengus mentertawakan hipocrisi
dari Presiden Bush ini, karena Bush sendirilah yang menandatangani
izin untuk mati dalam UU di Texas sewaktu dia menjadi Gubernur Texas.
 Bagaimana mungkin Bush yang menandatangani izin untuk membunuh bayi
seorang negro sewaktu dia menjadi Gubernur Texas dulu tapi sekarang
dia juga menanda tangani melarang pembunuhan pasien Terri Schiavo ???
 Kaum Konservative sangat marah kepada Bush yang disatu pihak membela
Terri Schiavo, tapi dilain pihak membiarkan proses pembunuhan ini
tetap berlangsung.  Sebagai presiden seharusnya dia bisa menghentikan
proses pembunuhan ini, namun Presiden Bush menyatakan bahwa tidak
mungkin dia mencampuri proses hukum yang berlangsung.  Disatu dia
menanda tangani UU yang melindungi kehidupan Terri Schiavo, tapi
dilain pihak dia membiarkan proses hukum yang berlaku untuk membunuh
Terri Schiavo karena hak untuk mati bagi Terri Schiavo yang diwakili
oleh suaminya tetap berlangsung.  Ibu Terri Schiavo menangis ber-iba2
meminta semua yang mungkin untuk membantunya menolong mencegah
pembunuhan anaknya yang dianggapnya sangat brutal atas nama hukum.

Kaum seorang Konservative menyatakan, bahwa kalo saya tidak memberi
makan kepada anjing saya sampai mati, ada UU-nya yang menyatakan saya
melanggar dan menghukum tindakan saya, namun yang berlangsung sekarang
adalah negara membiarkan seorang suami yang diberi hak untuk membunuh
isterinya yang dianggapnya tidak lagi memiliki harapan sembuh.

Demikianlah, hingga detik ini, kita masih menunggu perjuangan ibu
Terri Schiavo yang jelas sia2, semua jalur hukum sudah ditempuh namun
tetap gagal, kaum konservative ramai2 berdemo bahkan polisi menemukan
bomb dijalanan yang berhasil di nonaktiv-kan.

Kesimpulan:
Kita semua harus menjadikan kejadian diatas sebagai pelajaran.  Sejak
dahulu sudah saya tulis, bahwa janganlah menjadikan agama Kepercayaan
kita ini sebagai pegangan atau penuntut kehidupan dalam mengambil
keputusan, mempertimbangkan keadilan, menentukan benar salahnya suatu
tindakan.  Karena kalo anda menggunakan agama kepercayaan seperti itu,
maka akan terjadi malapetaka kehidupan itu sendiri seperti dalam kasus
Schiavo.

Seharusnya kita menggunakan agama Kepercayaa se-mata2 hanya sebagai
alat yang memberi, dan melengkapi kebahagiaan dalam hidup kita ini
sehingga tidak akan terjadi tragedi apapun juga selama kita
mempertimbangkan segalanya dari sudut kebahagiaan itu sendiri. 
Kematian Terri Schiavo sangat jelas tidak akan membahagiakan keluarga
Terri Schiavo meskipun membuat suaminya lebih bahagia.

Sebagian umat beragama yang fundamentalist beranggapan bahwa kehidupan
Terri Schiavo tidak perlu dipertahankan dengan alat2 Life-Support lagi
dan berilah kemudahan Terri Schiavo untuk mati sesuai dengan
keinginannya yang disampaikan kepada suaminya yang tidak pernah ada
yang bisa membuktikannya.  Tetapi sebagian umat yang juga
fundamentalist lainnya beranggapan bahwa alat2 pemberi makan berupa
infus itu sama sekali bukan Life-Support, melainkan hanya alat seperti
sendok yang wajar untuk diberikan kepada siapapun yang memerlukannya.

Demikianlah, saya pribadi adalah orang yang mendukung kebahagiaan
siapapun juga, membela kehidupan semua orang.  Bagi saya, Michael
suami Terri berhak untuk memutuskan kehidupan Terri, namun dilain
pihak kalo ada orang pihak lainnya yang bersedia menanggung biaya
untuk mempertahankan kehidupan Terri, maka kehidupan Terri ini harus
diselamatkan.

Hidup itu adalah menikmati perasaan, semua teknologi yang kita
ciptakan ini se-mata2 untuk mendukung kenikmatan perasaan itu sendiri.
 Bukanlah hal yang asing bagi kita untuk menikmati kenikmatan perasaan
kita melalui penipuan perasaan itu sendiri.  Contohlah filem2 cerita
yang kita tonton yang kita sama2 tahu meskipun hanyalah bohong2 saja
tetapi bisa menipu kenikmatan perasaan kita.  Kita bisa berbahagia
sejenak dengan penipuan perasaan ini.  Jadi kalo kita hubungkan dengan
kasus Terri Schiavo, meskipun wanita ini sudah retarded yang tidak
mungkin bisa sembuh kembali, namun sang ibu dan keluarganya mampu
membiayai kehidupannya untuk memelihara perasaan bahagia melihat
anaknya yang tetap hidup meskipun retarded ini, lalu kenapa kita harus
menolaknya dan membunuh anak nya yang retarded ini hanya dengan alasan
bahwa anaknya ini sudah tidak mungkin disembuhkan lagi ?????

Kalo anda ingat, bahwa di Cina, ketua partai komunis Mao Dze Dong itu
mati karena tua, namun oleh negara mayat beliau di balsem dan
disemayamkan dalam musium Sejarah Negara !!!!  Pertanyaannya, kenapa
dia harus di balsem ?????  Jawabnya jelas, memelihara perasaan rakyat
Cina terhadap pahlawannya, mereka tidak bersedia orang yang
dicintainya mati, sehingga meskipun memang sudah mati tetap dibalsem
agar tetap bisa memelihara perasaan mereka yang mencinatainya. 
Demikianlah, hidup kita ini memang digunakan untuk memelihara
perasaan, bukan malah membunuh perasaan itu sendiri.  Terri Schiavo
bukanlah mayat, melainkan masih manusia hidup dengan segala cacat
mental yang ada.  Tak peduli dengan diagnosa Medis yang ada, dia
berhak mendapatkan rasa cinta ibunya yang ingin tetap memelihara
kehidupannya meskipun dalam keadaan "vegatative state", lalu kenapa
hukum, maupun agama harus menyangkal hak sang ibu ini untuk memelihara
perasaan cintanya ini ?????

Kita tidak perlu memikirkan kondisi Terri Schiavo, melainkan harus
menghormati, menyelamatkan, dan melindungi hak ibu Terri Schiavo untuk
bahagia dalam perasaannya.  Tak ada seorangpun yang dirugikan hanya
memberi kesempatan ibu Terri Schiavo untuk menumpahkan kecintaannya
kepada anaknya yang sudah dalam keadaan "vegetative state ini".

Saya sedih, dan menyesalkan proses pembunuhan yang barbaric ini yang
menggunakan nama agama, Tuhan, maupun hukum yang berlaku.  

KITA TIDAK BOLEH MEMBUNUH PERASAAN HANYA KARENA MEMBELA LOGIKA
RASIONAL, MELAINKAN LOGIKA RASIONAL ITU LAH YANG KITA BUTUHKAN DALAM
MEMBELA MAUPUN MENINGKATKAN KUALITAS PERASAAN DALAM KEHIDUPAN KITA INI.

Semoga tulisan saya ini bisa menyentuh semua umat beragama, maupun
kaum yang hanya mendukung logika rasional.  Agama kepercayaan tidak
boleh membunuh logika rasional, dan sebaliknya, logika rasional juga
tidak boleh membunuh agama kepercayaan, karena keduanya harus bisa
kita gunakan untuk meningkatkan kebahagiaan perasaan kita, bukan untuk
digunakan mempertimbangkan mana yang lebih benar dan mengambil
keputusan yang menghilangkan kebahagiaan satu pihak demi meningkatkan
kebahagiaan pihak lainnya.

Tidaklah mudah untuk menangkap filosofi yang saya tuliskan diatas,
namun dengan segala ikhtiar saya berusaha menganalogikannya baik
dengan filem, maupun dengan perumpamaan lainnya.  SAYA TIDAK
ANTI-AGAMA, NAMUN JUGA TIDAK MEMBELA AGAMA YANG KENYATAANNYA CUMA
KEPERCAYAAN YANG BANYAK SEKALI KESALAHANNYA.  MEMANG AGAMA TIDAK HARUS
BENAR DALAM MEMBAHAGIAKAN SESEORANG, NAMUN JANGANLAH UNTUK
MEMBAHAGIAKAN SESEORANG YANG PERCAYA, AGAMA HARUS MENGORBANKAN
KEBAHAGIAAN MEREKA YANG TIDAK PERCAYA.

Ny. Muslim binti Muskitawati.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke