Saya senang membaca kata "meninggal" yang anda pakai... 

    Amat manusiawi. 

    Diskusi tentang masaalah euthanasi ini sungguh pelik. 

    Seingat saya sudah dari tahun tujuh puluhan abad yang lalu di
    Perancis misalnya berlangsung diskusi tentang euthanasi ini. 

    Dan di Amerika, seperti kita ikuti dengan kasus Terri Schiavo
    ini, perdebatan masih terus berlangsung. 

    Dalam hal Terri Schiavo ini kita berhadapan dengan euthanasi
    pasif, artinya dokter dalam hal ini tidak berusaha menyelamatkan
    kehidupan (life dalam bahasa Inggeris, Jiv kalau tidak salah dalam
    bahwa Sanskritnya yang di bahasa Indonesia menjadi jiwa) dengan
    TIDAK menyalurkan infus yang mestinya bisa meneruskan Terri
    Schiavo hidup.  

    Lalu apakah tindakan itu bisa dianggap sebagai pembunuhan atau
    bukan?   

    Ataukah tindakan yang rasional (Terri Schiavo sebagai manusia
    yang punya conscience sebvenarnya sudah tiada) dan - konon -
    sesuai dengan keinginan yang bersangkutan, yaitu Terri Schiavo
    sendiri? 

    Atau apakah betul bahwa dia sudah tidak punya conscience? 

    Ruwet. 

    Lalu bagaimana dengan euthenasi aktif, yaitu dokter (sesuai
    dengan keinginan yang bersangkutan yang menganggap sisa hidupnya
    hanyalah penderitaan semata dan secara rasional memang tidak ada
    harapan penyembuhan) menolong patient itu untuk mengakhiri
    hidupnya dengan menyuntikkan morfin misalnya? 

    Beberapa dokter yang mengingat sebelum buka praktek bersumpah
    untuk menyelamatkah kehidupan (life) dan rohaniwan tentu saja
    menentang euthanasie aktif ini. 

    Tak sederhana memang  masaalahnya.

    Tapi ingin saya tambahkan: 

    Di beberapa negara maju di Eropa  dan juga Australia dan Amerika
    ada semacam pegeseran sikap terhadap kematian (death): kematian
    tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang co�te que co�te harus
    diundurkan.. 

    Sebabnya adalah  karena di masyarakat yang demokratik, bebas dan
    dimana segalanya melimpah ruah dan dimana banyak orang bisa
    bilang "bin there, done that" (ini pemeo orang Australia) maka
    death tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu co�te que
    co�te  diundur terus. 

    Tidak sedikit orang sekarang yang setelah bisa menikmati hidup
    ini dengan baik, setelah bisa menikmati kebebasan yang dijamin
    oleh negara, setelah bisa menikmati kemakmuran yang tercapai oleh
    banyak orang ("bin there done that) maka, bila usaha penyembuhan
    memang sungguh-sungguh tidak ada, dengan rela dan dengan penuh
    kesadaran bilang, seperti Maurice Chevalier: "On y va.." (Ayuh,
    Let's go...) 

    Tapi bagaimana caranya menghindarkan kesalahan (siapa yang
    berhak menentukan bahwa usaha peyembuhan sungguh-sungguh memang
    sudah tidak ada)? 

    Ruwet. 

    Tapi saya bisa melihat kenapa masaalah euthanasi ini ramai
    dibicarakan orang di Eropa, Amerika atau Australia misalnya... 



On 1 Apr 05, at 8:37, Juswan Setyawan wrote:

> Akhirnya Mbak Terri Meninggal...
> 
>  
> 
> Terri Schiavo (41) akhirnya meninggal setelah 13 hari selangnya dicabut atas 
> perintah Pengadilan Negeri.  Terri berada dalam koma selama 15 tahun sejak 
> 1990 saat mengalami gagal jantung dan otaknya mengalami kekurangan oksigen.  
> Ironisnya permintaan euthanasia atas Terri diajukan oleh suaminya 
sendiri Michael Schiavo dengan asumsi pribadi yang mengatasnamakan isterinya.  
Menurut Mike, isterinya pasti tidak ingin hidup dalam keadaan (vegetatif) 
seperti itu sehingga harus diusahakan untuk meninggal.  Jadi euthanasia 
diperjuangan atas suatu opini atau asumsi yang mengatasnamakan orang 
lain. Padahal mungkin saja kebalikannya yang terjadi yaitu bahwa Terri sebagai 
penganut Katolik orthodoks malah menyetujui pandangan yang "pro life" seperti 
dianut kedua orang tuanya Bob dan Mary Schindler. (Baca Kompas hari ini).
> 
>  
> 
> Euthanasia selalu menyangkut nasib diputuskannya nyawa seseorang yang tidak 
> mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dan dalam kasus ini subyek 
> berada dalam keadaan koma kronis.  Di Indonesia baru-baru ini ada dua kasus 
> menyolok.  Seorang ibu yang dimintakan euthanasia oleh suaminya 
ternyata malahan siuman kembali dan menjadi sangat marah dan benci terhadap 
keputusan euthanasia suaminya atas dirinya.  Ini membuktikan bahwa opini sang 
suami tidak mesti sama dengan opini subyeknya sendiri - mirip seperti yang 
diasumsikan oleh Michael Schiavo tersebut.  Opini bisa saja keliru 
atau bertolak belakang.  Kasus kedua menyangkut artis ABG, Sukma Ayu di mana 
euthanasia dilakukan secara tidak langsung dengan cara "membawa paksa pulang" 
pasien dari rumah sakit walaupun disertai perlengkapan medis yang konon memadai.
> 
>  
> 
> Pada umumnya alasan utama keluarga untuk melakukan "euthanasia pasif" atau 
> semacam "medical neglection" adalah karena pertimbangan ekonomis atau 
> finansial.  Orang tidak mampu membayar biaya mahal rumah sakit yang tidak 
> menentu jumlahnya yang terus membengkak sampai pasien mati secara alamiah.  
Reasoning di balik tindakan  ini sangat jelas. Mengapa menghabiskan seluruh 
harta dan aset untuk mempertahankan hidup vegetatif yang tidak mungkin 
disembuhkan lagi di mana dana tersebut lebih dibutuhkan justru oleh mereka yang 
ditinggalkan dan yang masih hidup.  Tindakan "pro life" siapa yang 
harus diutamakan?  Pro individual life atau pro collective family life?  Dalih 
tentu dapat dibuat bahwa bila Tuhan memberi hidup maka Tuhan juga memberi 
rezeki kepada mereka?  Benarkah?  Mungkin benar,  tetapi tetap saja bahwa fakta 
menghabiskan seluruh harta untuk pasien yang tak tersembuhkan 
itu justru 
> 
>  
> 
> Membuat suatu peraturan, undang-undang anti euthanasia, prinsip moral 
> normatif sangatlah mudah karena tidak perlu mempertimbangkan (apalagi 
> merasakan sendiri) masalah keuangan subyektif daripada mereka yang harus 
> mengalaminya.  Soal yang sederhana saja misalnya dialisis atau cuci darah 
> untuk 
penderita gagal ginjal akut memerlukan biaya tinggi yang terus menerus sampai 
pasiennya meninggal karena penyakit tersebut incurable atau tak tersembuhkan 
lagi.  Gereja atau lembaga moral ataupun legal tidak turut campur tangan soal 
siapa yang akan membayar biaya tersebut dan hanya mencuci tangan 
seperti Pontius Pilatus bahwa masalah tersebut bukan urusan mereka tetapi 
urusan keluarga itu sendiri.
> 
> Komisi PSE di Paroki mungkin akan membantu sekedarnya, demikian pula bantuan 
> umat dari Lingkungan untuk keluarga pasien namun tidak ada lembaga yang mau 
> dan mampu membiayai sampai tuntas.  Dan ini juga belum pernah terjadi !
> 
>  
> 
> Bagaimana dengan asuransi?  Apakah keluarga miskin mampu membayar polis 
> asuransi? Bagaimana dengan Askes?  Apakah semua rakyat menjadi peserta Askes? 
> Bagaimana dengan Social Security?  Di Indonesia mana ada sistem seperti  ini. 
> Amerika yang mempunyai sistem Social Security yang kuat saja 
faktanya tidak menolong Terri Schiavo sampai tuntas walaupun telah membantu 
selama 15 tahun penuh.
> 
>  
> 
> Menurut saya, suatu Undang Undang Anti Euthanasia boleh boleh saja disahkan 
> tetapi harus diimbang
i dengan Undang Undang Jaminan Kesehatan Masyarakat yang memadai. Pemaksaan 
pelarangan euthanasia t
erasa sangat ganjil dan jahat bila keluarga pasien harus menanggung sendiri 
biaya mempertahankan hi
dup sampai titik terakhir yang mahal sementara keuangan mereka tidak 
memungkinkannya.  Gereja boleh
 berbicara keras dan tegas bila bersamaan waktu juga mau mempelopori 
pembentukan lembaga jaminan bi
aya perawatan tanpa batas untuk para pasien miskin yang de facto membutuhkan 
euthanasia.
> 
> Tentu saja tantangan ikut bertanggungjawab ini dengan mudah ditangkis bahwa 
> masalah seperti itu b
ukan urusan gereja karena karena gereja hanya berurusan dengan masalah 
spiritual, religi, moral dan
 etika. Benarkah?  Silahkan berdiskusi secara sehat dan waras.
> 
>  
> 
> Mang Iyus
> 
>  
> 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke