http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=165738
Sabtu, 09 Apr 2005,


Jangan Terjebak Solidaritas Untung Rugi
Oleh Murtiningsih *


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan bencana yang terjadi di Pulau 
Nias, Sumatera Utara, sebagai bencana daerah. Penetapan status itu dimaksudkan 
agar penanganan bencana alam bisa lebih cepat dan efektif. 
Konsekuensi penetapan status tersebut adalah tanggung jawab penanganan bencana 
itu sepenuhnya berada dalam kendali gubernur Sumatera Utara. Pemerintah pusat 
hanya berperan sebagai the second handler atas bencana tersebut.

Meski demikian, penetapan status itu jangan lantas membuat semangat kita untuk 
membantu saudara yang tertimpa musibah menjadi kendur. Jangan sampai kita 
terlena oleh status bencana sehingga melupakan esensi hakiki sebuah makna 
persaudaraan. 

Makna persaudaraan sejati tidak mengenal skala penderitaan. Besar atau kecil 
skala penderitaan yang ada jangan sampai menghalangi kita untuk selalu 
mengedepankan universalitas kemanusiaan dalam membantu sesama.

Bencana gempa dengan kekuatan 8,7 skala richter yang menimpa Nias dan Pulau 
Simeulue tersebut menjadi bukti bahwa keangkuhan manusia akibat kemajuan ilmu 
pengetahuan tetap tidak bisa menghalangi maksud dan keinginan Tuhan. 

Berbagai teori yang dikemukakan para pakar serta didukung pengetahuan ilmiah 
mengatakan bahwa kemungkinan gempa susulan setelah gempa pada 26 Desember tahun 
lalu setidaknya terjadi sekitar 150-200 tahun yang akan datang. 

Tapi lihatlah, hanya dalam waktu yang sangat berdekatan, gempa susulan itu 
terjadi. Prediksi ilmiah pun harus mengakui keunggulan dan kelebihan akan 
kekuasaan Tuhan yang selama ini dipinggirkan. Kita selama ini telah terjebak 
dalam sifat arogansi intelektual, mengagung-agungkan kemajuan ilmu dan 
teknologi sehingga secara congkak kita pun mengaku-aku sebagai Tuhan baru. 

Hal itu secara jelas kita tunjukkan dalam keseharian kita sehingga wilayah yang 
menyertakan keberadaan Tuhan semakin kita persempit saja. Dengan bencana Nias 
tersebut, kita sejatinya dimungkinkan untuk semakin ingat akan pentingnya peran 
kebersamaan antarsesama manusia dalam menjalani kehidupan. Sosiolog Emile 
Durkheim menamakan hal itu dengan sebutan solidaritas. Selanjutnya, Durkheim 
membagi jenis solidaritas tersebut ke dalam dua bentuk sesuai dengan 
perkembangan masyarakat saat itu dan hingga kini rasanya masih relevan untuk 
dikemukakan.

Pertama, solidaritas organik. Yakni, solidaritas yang terbangun antara sesama 
manusia yang didasari akar-akar humanisme serta besarnya tanggung jawab dalam 
kehidupan sesama. Solidaritas tersebut mempunyai kekuatan sangat besar dalam 
membangun kehidupan harmonis antara sesama. Karena itu, landasan solidaritas 
tersebut lebih bersifat lama dan tidak temporer.

Kedua, solidaritas mekanistik. Bentuk hubungan antarsesama selalu dilandaskan 
pada hubungan sebab akibat (kausalitas), bukan pada kesadaran akan nilai-nilai 
kemanusiaan. Hubungan yang terjalin lebih bersifat fungsional sehingga lebih 
temporer sifatnya. Pada tataran lebih luas, bisa saja solidaritas yang 
terbangun di dalamnya didasarkan pada kacamata niaga, yang di dalamnya berlaku 
hukum untung rugi.

Sepertinya, kalau kita mau jujur, selama ini cara kita bersolidaritas telah 
terdegradasi pada tingkatan yang mekanistik belaka dan meninggalkan solidaritas 
organik. Lihatlah pada level negara. Bukankah selama ini proses pembangunan 
yang dilaksanakan pemerintah lebih menekankan pada solidaritas mekanik itu? 

Orientasi pembangunan yang hanya mengejar kemajuan ekonomi dengan barometer 
pertumbuhan ekonomi telah membutakan pemerintah bahwa betapa pentingnya 
menjalin solidaritas organik dalam kehidupan berbangsa.

Perhitungan dan orientasi pembangunan yang berpusat pada pengejaran pertumbuhan 
ekonomi selanjutnya membuat suatu tatanan yang disebut oleh Kenneth Boulding 
sebagai ekonomi koboi. Sistem tatanan tersebut hanya bervisi keuntungan, jauh 
dari keinginan untuk menyejahterakan rakyat secara keseluruhan. Karena itu, 
untuk memenuhi ambisi pertumbuhan ekonomi tersebut, berbagai kepincangan 
pembangunan akhirnya muncul ke permukaan.

Pemerintah lebih terpusat pada wilayah-wilayah yang hanya mendatangkan 
keuntungan besar. Sedangkan daerah-daerah terpinggir, kawasan timur Indonesia, 
misalnya, harus mengalami nasib diabaikan. Tidak heran, kemajuan hanya 
dirasakan wilayah-wilayah yang dekat dengan pusat kekuasaan. Tentu saja, hal 
itu bisa menjadi bumerang. Kita melihat reaksi keras dari wilayah yang merasa 
dianaktirikan pemerintah, seperti Aceh, Papua. 

Mereka cenderung menginginkan lepas dari NKRI karena opsi lepas tersebut 
dirasakan lebih bermanfaat jika dibandingkan masih tetap bergabung dengan 
Indonesia. Peristiwa yang lebih aktual adalah soal sengketa wilayah Ambalat.

Dari permasalahan tersebut, tampak betapa pemerintah tidak menganggap wilayah 
perbatasan sebagai wilayah strategis bagi kemajuan bangsa. Pemerintah 
menganggap keberadaan wilayah-wilayah kecil sebagai wilayah yang hanya menjadi 
bentuk legitimasi kebesaran bangsa ini. Peran vital wilayah kecil tersebut 
sangat dientengkan. 

Ironisnya, cara pandang solidaritas mekanistik itu diadopsi masyarakat dalam 
kehidupan sehari-hari. Tengoklah, kita melihat maraknya kejahatan yang terjadi 
di kota-kota besar. Banyak sekali kejahatan di jalan raya, perampokan kapak 
merah, misalnya, yang korbannya tidak mendapat kepedulian dari masyarakat. 
Alasannya, selalu klasik, "Toh, dia bukan apa-apa saya. Seandainya dia itu 
saudara saya, saya akan dengan sekuat tenaga membantunya".

* Murtiningsih, mahasiswi Program Ekstensi Teknik Kimia Universitas Diponegoro 
Semarang 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke