http://www.suarapembaruan.com/News/2005/04/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Tajuk Rencana I Membangun Paradigma Kedaulatan Pangan MULAI Senin (11/4), selama sepekan, di Jakarta digelar Pekan Aksi Pangan untuk Semua. Kegiatan itu merupakan bagian dari kegiatan serupa yang dilaksanakan serentak di sedikitnya 70 negara. Tujuannya sebagai ajang kampanye untuk mendorong pemerintah agar memperhatikan dan memprioritaskan persoalan pangan. Tujuan itu tentu bukan tanpa sebab. Indonesia yang sejak lama mengklaim diri sebagai negara agraris, kini justru menghadapi persoalan yang sangat krusial di bidang pangan. Semua komoditas pangan, tak terkecuali beras sebagai bahan pangan utama, ternyata harus diimpor, akibat produksi dalam negeri tak mencukupi konsumsi domestik. Kenyataan itu masih ditambah nasib petani yang selalu buntung, seolah tak ada keberpihakan terhadap mereka. Ada saja kepahitan yang harus dihadapi. Mulai dari naiknya harga pupuk, gagal panen akibat banjir dan kekeringan, hingga harga gabah yang anjlok di musim panen. Semua itu melengkapi potret kelam kondisi pangan di Tanah Air. BERBICARA soal pangan, jelas memiliki arti yang sangat fundamental bagi kehidupan. Pangan adalah hak dasar bagi setiap manusia (warga negara). Dengan demikian, menjadi kewajiban negara (pemerintah) untuk mampu menyediakan pangan secara layak bagi rakyatnya. Namun, kenyataannya jauh panggang dari api. Pemerintah hingga kini belum mampu menyediakan pangan bagi masyarakat, terutama dalam harga yang layak. Pengertian layak tentu tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga produsen (petani). Fakta menunjukkan, di bidang pertanian, prestasi kebijakan pemerintah masih jauh dari memuaskan. Impor bahan pangan adalah salah satu catatan buruk pemerintah dalam mengelola dan merumuskan kebijakan pertanian. Impor dilakukan karena produksi dalam negeri tak mampu memenuhi kebutuhan untuk konsumsi sehari-hari dan industri makanan. Sebagai sebuah mata rantai, ketimpangan itu dipicu banyak faktor, yang notabene adalah buah dari kebijakan pemerintah. Berkurangnya luas lahan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan industri, tidak memadainya jaringan irigasi yang menyebabkan sawah kekeringan di musim kemarau, harga pupuk yang mahal karena lemahnya distribusi, dan harga gas yang mahal untuk industri pupuk, serta rendahnya harga jual gabah yang memerosotkan semangat petani untuk tetap mengolah sawahnya, adalah konsekuensi dari strategi pembangunan ekonomi pemerintah yang kurang berpihak pada pertanian. Bagi pemerintah, persoalan pangan seharusnya tak hanya bagaimana menyediakan atau memenuhi kebutuhan pangan rakyat, tetapi juga memikirkan nasib petani dan keluarganya. Parameter yang digunakan terlampau dangkal kalau hanya rakyat tak ada yang kelaparan dan gizi terpenuhi. Kalau hanya itu, mengimpor bahan pangan bisa direkomendasikan. NAMUN, bukan itu yang kita harapkan. Pemerintah dituntut mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Artinya paradigma ketahanan pangan harus diubah menjadi kedaulatan pangan. Pemerintah tidak semata-mata memenuhi hak rakyat untuk memperoleh kecukupan pangan. Hak untuk memproduksi pangan pun harus dijamin, bahkan selayaknya mendapat prioritas, sehingga kita tak lagi bergantung pada impor. Pada gilirannya, paradigma kedaulatan pangan akan berdampak positif pada kesejahteraan petani dan keluarganya. Sebab kebijakan pembangunan dengan sendirinya akan diarahkan pada upaya-upaya untuk menunjang produktivitas komoditas pangan, dengan mengerahkan sebesar-besarnya potensi dan kemampuan rakyat. Sebagai catatan pula, kedaulatan pangan juga mengandung pengertian, bahwa dalam persoalan pangan, Indonesia tidak harus terikat dengan kesepakatan internasional yang merugikan. Last modified: 11/4/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
