Media Indonesia
Selasa, 12 April 2005
Jangan Harap Bisa Temukan Ikan, Udang, Kepiting Lagi
BUKAN lautan hanya kolam susu, air dan jala cukup menghidupimu.... Udang dan
ikan menghampirimu....
Lagu terkenal dari kelompok Koes Plus tersebut sempat dirasakan warga Kampung
Laut, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), beberapa dekade silam. Saat itu mereka
boleh dibilang berhasil menjadi nelayan. Berbagai macam tangkapan mulai dari
udang, ikan, dan kepiting begitu gampang diperoleh dari hamparan hutan mangrove
yang ada di kawasan setempat.
Tetapi kini, biota laut yang biasanya menghidupi warga setempat
berangsur-angsur 'menghilang' seiring dengan berubahnya lingkungan Segara
Anakan. Hutan mangrove sebagai tempat pemijahan ikan, udang, dan kepiting
menjadi langka akibat sedimentasi dan pembalakan liar. Kini yang dominan
terlihat di Segara Anakan bukan lagi pohon dengan akar masuk ke bawah air,
melainkan tumbuhan biasa yang hidup di atas gundukan-gundukan tanah timbul.
Dengan kenyataan itu, kini warga Kampung Laut yang tersebar di empat desa,
mulai Ujung Alang, Panikel, Klaces, hingga Ujung Gagak tidak lagi
menggantungkan hidupnya dengan mencari biota laut di Segara Anakan. Sebagian
besar dari sekitar 14.500 jiwa penduduknya sekarang lebih banyak menggarap
tanah-tanah timbul yang tidak seberapa luas untuk ditanami berbagai tanaman,
seperti buah-buahan dan padi.
"Bagaimana mungkin tahan menjadi nelayan, kalau mencari ikan begitu sulit.
Lihat saja banyak nelayan yang sudah mencoba untuk cari ikan dengan menjala
atau menebar jaring apong, tetapi hasilnya tidak seberapa. Perahu saya akhirnya
saya gunakan untuk alat angkut penumpang," tutur Marjo, 48, warga Desa Klaces,
Kecamatan Kampung Laut, kepada Media, Selasa (5/4), di Klaces.
Menurut Marjo, kecenderungan beralih profesi dari nelayan menjadi petani mulai
dilakukan warga Kampung Laut. ''Yang jelas tidak mungkin lagi mengandalkan
pekerjaan nelayan. Apalagi Segara Anakan memaksa demikian, sebab ikan,
kepiting, atau udang semakin lama kian sedikit. Itu terjadi sejak hutan bakau
rusak digantikan dengan tanah-tanah timbul di sekitar kawasan ini. Ditambah
lagi penebangan liar yang menambah rusaknya hutan bakau. Saya sendiri tidak
tahu orang mana yang menebang dan luasnya berapa,'' tutur Marjo.
Rusaknya ekosistem mangrove disebabkan lumpur dan sampah dari sejumlah sungai
yang bermuara di Segara Anakan, terutama Sungai Citanduy. Pendangkalan itu
kemudian membentuk tanah-tanah timbul. Pemantauan Media mulai dari Desa Ujung
Alang, Klaces, Ujung Gagak, hingga Dermaga Majingklak Desa Pamotan, Kecamatan
Kalipucang, Ciamis, Jawa Barat (Jabar), cukup menggambarkan kondisi itu.
Hutan mangrove yang biasanya menjadi kekhasan daerah payau, saat ini telah
berubah menjadi daratan. Kalaupun masih ada tanaman bakau, tanamannya tidak
lagi tinggi-tinggi. Sebagian besar hanya satu meter dari permukaan pantai.
Terlihat juga bekas tanaman mati serta batang yang habis dipotong.
Sampah dan lumpur
Hilangnya hutan mangrove secara alami telah digantikan tanaman lain di
tanah-tanah timbul. Sedangkan di pinggiran tanah-tanah timbul, berbagai macam
sampah semakin banyak, apalagi mendekati muara Sungai Citanduy yang dekat
dengan ujung paling barat Pulau Nusakambangan.
Sampah-sampah dan lumpur dari Sungai Citanduy membuat daratan semakin
menyempitkan kawasan Segara Anakan. Banyaknya sampah dan pendangkalan juga
membuat alur pelayaran terganggu.
Bahkan, saat Media menumpang perahu kayu kecil (compreng) dengan kapasitas muat
hanya sekitar delapan orang, berkali-kali harus berhenti di tengah kawasan
Segara Anakan. "Kita harus berhenti dulu, Mas. Soalnya mesin perahu menyangkut
sampah," kata Subeja, 44, warga Klaces yang mengantarkan Media berkeliling
menggunakan perahu {compreng.]
Menurut Subeja, antara Klaces hingga Majingklak harus berhati-hati saat
mengemudikan perahu. Sebab, sampah-sampah banyak berserakan dan sangat
mengganggu mesin. Bahkan, tidak jarang perahu-perahu harus berhenti di
tengah-tengah Segara Anakan karena harus menyingkirkan sampah-sampah dahulu.
Di tempat itu, pertemuan air Samudra Indonesia dan Sungai Citanduy
memperlihatkan warna sangat kontras. Jika dari Plawangan (bagian utara Samudra
Indonesia) warnanya kebiruan, tetapi dari Sungai Citanduy kecokelatan dan
terlihat sampah berserakan. "Kami sendiri tidak tahu bagaimana kondisi Segara
Anakan di masa mendatang. Sepertinya tinggal menghitung tahun saja untuk
membuatnya menjadi daratan," ujar Subeja.
Berdasarkan data Badan Pelaksana Konservasi Segara Anakan (BPKSA) Cilacap, luas
Segara Anakan memang semakin sempit. Laguna Segara Anakan mengalami
pendangkalan akibat Sungai Citanduy dan sejumlah sungai lainnya membawa lumpur
rata-rata 5 juta m3/tahun dan yang masuk ke laguna Segara Anakan 1 juta
m3/tahun.
Akibat tingginya sedimentasi di perairan itu, luas Segara Anakan dari tahun ke
tahun semakin sempit dan tertutup lumpur sedimentasi. Pada 1903, luas Segara
Anakan tercatat 6.450 hektare (ha). Pada 1984 tinggal 2.906 ha, dan luasnya
menjadi 1.200 ha pada 2000. Melalui pencitraan satelit 2003, luas Segara Anakan
menyusut lagi menjadi 400 ha.
Akibat perusakan lingkungan di wilayah itu, kini warga Kampung Laut harus
menelan pil pahit. Mereka tidak mungkin lagi menggantungkan hidupnya dari ikan,
kepiting, dan udang. Mereka terpaksa beralih profesi, meski kerusakan itu
bukanlah akibat perbuatan mereka. (Liliek Dharmawan/H-1)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/