http://www.suarapembaruan.com/News/2005/04/13/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY O p i n i Reformasi Polri Masih Setengah Hati Tanpa terasa, program bantuan Jepang bagi reformasi Polri telah berusia dua tahun lebih. Bantuan dikucurkan untuk berbagai proyek, antara lain Enhancement of The Civilian Police" serta "Strengthening Capacity of Investigation of INP (Indonesia National Police) . Selain itu, suplai bantuan juga dialokasikan untuk pendidikan dan pelatihan bagi para anggota Polri ke negara-negara lain, seperti Community Policing di Singapura, Analysis of Impure Substance in Narcotics di Thailand, serta pelatihan counterpart di Jepang. Ikut dibiayai pula proyek di bidang narkoba di Mabes Polri dan proyek polisi pariwisata di Polda Bali. Namun, dari seluruh program bantuan Jepang bagi reformasi Polri, yang terbesar adalah proyek di Polres Bekasi. Masyarakat di wilayah Bekasi, ungkap hasil survei AC Nielsen baru-baru ini, mengakui bahwa kemampuan kepolisian lokal telah menunjukkan perbaikan yang signifikan, sebagai hasil dari dilaksanakannya program polisi sipil di Bekasi yang dibiayai oleh JICA (Japan International Co-operation Agency). Dari aspek keamanan, kondisi di Bekasi dinilai semakin aman. Tindak kriminal di sekitar tempat tinggal warga dilaporkan semakin berkurang. Perbaikan kinerja Polri semacam ini, tak urung disambut hangat oleh berbagai kalangan. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, reformasi Polri sudah jadi tuntutan yang tak bisa dihindari lagi. Irjen (Pol) Dr Farouk Muhammad, Gubernur PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), berpendapat, secara umum reformasi Polri sudah berjalan on the track. Dari sudut organisasi Polri, misalnya, sudah ada kemajuan ketimbang struktur organisasi Polri yang lama. "Dulu semuanya terlampau sentralistik. Polres-polres kurang dapat peran," ungkap Farouk saat dikonfirmasi Pembaruan baru-baru ini. Kini, menurutnya, Polres sudah cenderung berperan besar. "Sudah ada pendelegasian kewenangan," kata Farouk. Bahkan, dari sejumlah jajak pendapat, terungkap bahwa Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) berhasil dihapuskan pada beberapa level tertentu. KKN pelan-pelan sudah tersingkir, misalnya, pada sistem pendidikan di PTIK yang sudah mengalami perubahan. "Dulu sistemnya bottle neck," ungkap Farouk, yang juga salah satu konseptor reformasi struktur Polri tersebut. Persaingan Tak Sehat Akibat sedikitnya peluang masuk PTIK, terjadilah persaingan ketat yang berbuntut KKN. Persaingan tidak sehat semacam itu tak urung mencoreng citra PTIK. Sehingga, ketika arus reformasi Polri sedang gencar-gencarnya, suka atau tidak suka, pintu PTIK harus dibuka selebar-lebarnya bagi siapa saja yang berminat. "PTIK ini kan untuk mencerdaskan orang. Jadi kenapa kok malah harus dipersulit? Kita toh betul-betul ingin mendidik orang," tutur Farouk. Kini, masuk PTIK relatif lebih gampang ketimbang dulu. Substansi pendidikan pun ikut diperbaiki. Sebab, sejak berpisah dari ABRI pada 1999, Polri harus mereformasi kurikulum pendidikannya, sesuai dengan kedudukan Polri yang mandiri. Farouk berpendapat, berpisahnya Polri dari ABRI (kini TNI) bukanlah tujuan akhir dari segalanya. "Ini hanyalah necessary condition, dari keseluruhan proses reformasi di negara ini," tutur Farouk. Dan harus diakui, reformasi Polri masih sangat jauh dari kondisi yang ideal. Apalagi untuk mengubah tabiat polisi dari yang awalnya militeristik menjadi "polisi berwatak sipil". Farouk menilai, masih banyak polisi yang cenderung memandang dirinya sebagai penguasa, yang punya segudang kewenangan. Persoalannya, apakah reformasi Polri bisa berjalan utuh apabila struktur organisasinya masih bersifat sentralistik? "Saya tidak tutup mata, bahwa langkah pendelegasian kewenangan sudah dilakukan. Tetapi itu belum ideal," kata Farouk. Ciri sentralistik di tubuh Polri itu bisa terlihat dari tampilan Kapolri yang seolah jadi pemegang otoritas tunggal dalam pengambilan keputusan. Seharusnya, ada sistem manajemen Polri yang bisa memberikan otonomi kepada para Kapolres, baik untuk menyusun manajemen atau pun perencanaan. Sedang Mabes Polri hanya berfungsi di bidang manajemen strategis dan kontrol. Struktur Polri yang sentralistik seperti sekarang, menurut Farouk, belum bisa menjamin tercapainya hasil yang lebih baik untuk mengubah kinerja polisi. Dalam kondisi seperti itu, guyuran proyek berapa pun besarnya tidak akan banyak artinya. Artinya, perlu langkah-langkah perbaikan sistem manajemen Polri yang lebih terdesentralisasi. (E-9) Last modified: 13/4/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
